Hakikat Mujahadah Dalam Islam

27 May 2017Redaksi Materi

Hakikat Mujahadah Dalam Islam

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Alloh benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-Ankabut [29]: 69)

Menurut Ibnu Katsir rohimahulloh, ayat ini menggambarkan tentang Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam, para sahabat dan para pengikut beliau hingga hari kiamat. Mereka adalah orang-orang yang bermujahadah di jalan Alloh subhanahu wata’ala, sehingga Dia membalasnya dengan memberikan mereka ilmu dan mata jiwa yang dapat melihat dengan terang jalan-jalan-Nya di dunia dan di akhirat. Bermujahadah berarti sabar dalam menjalani ketaatan yang disebut dalam ayat ini dengan “jalan-jalan Kami”. Kesabaran dalam keta`atan di dalam ayat ini menurut para ulama tafsir digambarkan antara lain:

  1. Berjihad melawan kaum musyrikin dalam rangka membela agama Alloh
  2. Bersungguh-sungguh penuh kesabaran dalam menuntut ilmu
  3. Bersungguh-sungguh penuh kesabaran dalam menegakkan sunnah
  4. Bersungguh-sungguh penuh kesabaran dalam mentaati Alloh

Dalam langkah hidup seperti inilah, Alloh subhanahu wata’ala menjamin akan memberikan hidayah (petunjuk dan penuntun) kepada jalan-jalan-Nya. Jalan-jalan Alloh subhanahu wata’ala yang akan diberikan kepada mereka yang bermujahadah antara lain:

  1. Diberikan keteguhan jiwa dan pendirian saat menghadapi musuh
  2. Diberikan tambahan hidayah
  3. Diberi taufiq ketepatan dalam menempuh sirotulmustaqim
  4. Diberi taufiq untuk sanggup dan mampu mengamalkan ilmunya
  5. Diberi petunjuk jalan-jalan menuju surga
  6. Diberi petunjuk jalan-jalan meraih pahala. (Lihat dalam tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir al-Bagowi)

Bermujahadah berarti mengandung keseriusan, keteguhan, kesabaran dan kekuatan jiwa.

Hakikat Mujahadah Dalam Islam

‘Aisyah rodhiyallohu’anh meriwayatkan bahwa Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam melaksanakan sholat malam sampai kedua tumit beliau bengkak, lalu ‘Aisyah rodhiyallohu’anh bertanya: “Mengapa kau melakukan ini ya Rosululloh? Bukankah engkau sudah diampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau dengan singkat menjawab: “Tidakkah pantas, aku menjadi hamba yang amat bersyukur?”.

Di dalam hadis ini digambarkan bagaimana serius, sabar, teguh dan kuatnya Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam dalam beribadah dan merasakan takutnya yang begitu dalam kepada Alloh subhanahu wata’ala. Para Nabi begitu yakin tentang kaeagungan dan kebesaran Tuhan mereka yang tiada henti telah memberikan banyak nikmat-nikmat-Nya, sehingga mereka begitu semangat dan sungguh-sungguh penuh kesabaran beribadah sebagai tanda syukur yang mereka yakini sama sekali tidak sebanding dengan nikmat-nikmat Alloh yang diberikan-Nya kepada mereka. (Baca Fathul Bari, karya Ibnu Hajar al-Asqolani)

Mari kita saksikan bagaimana Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bermujahadah di bulan Romadhon.

`Aisyah rodhiyallohu’anh meriwayatkan:
“Jika Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam memasuki 10 hari terakhir bulan Romadhon, Beliau sholallohu’alaihi wasallam menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan meninggalkan istrinya (tidak digauli)”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Mujahadah dalam ibadah seperti solat dan soum berarti mendirikan ibadah tersebut secara sempurna dan lengkap sesuai rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, aturan-aturannya, baik yang wajib maupun yang menjadi penyempurnanya.

Unsur terpenting yang menjadi sebab seseorang dimasukkan ke dalam surga adalah mujahadahnya. Alloh subhanahu wata’ala mengingatkan dalam firman-Nya:

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Alloh orang-orang yang berjihad diantara kalian dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Qs. Ali ‘Imron [3]: 142)

Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian diuji oleh Alloh subhanahu wata’ala dan Dia melihat siapa di antara kalian yang benar-benar berjihad di jalan-Nya dan memenangkan kesabaran menghadapi musuhnya. (Baca Tafsir Ibnu Katsir)

Mujahadah merupakan sifat dasar seorang mu’min yang benar keimanannya. Alloh subhanahu wata’ala membatasi sifat-sifat orang yang beriman dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang  dengan harta dan jiwa mereka di jalan Alloh. Mereka Itulah orang-orang yang benar keimanannya.” (Qs. Al-Hujurot [49]: 15)

Menurut Ibnu Katsir rohimahulloh bahwa kaum mukminin yang sempurna imannya adalah orang-orang yang meyakini Alloh subhanahu wata’ala dan rosul-Nya tanpa keraguan sedikitpun, lalu Berjuang dengan jiwa raga dan hartanya yang terbaik dalam ketaatan dan keridoan Alloh subhanahu wata’ala.

Bahkan Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam mengatakan bahwa mujahid (pejuang) yang sebenarnya adalah orang yang memujahadahkan dirinya sendiri, karena seorang mujahid saat disyariatkan jihad tempur-pun pada hakikatnya perjuangannya yang terbesar adalah memujahadahkan dirinya sendiri melawan kemalasan, ketakutan dan kesiapan mengorbankan semua yang berharga di dirinya dan apa yang dimilikinya. Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

اَلْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِى طَاعَةِ اللهِ

“Seorang mujahid adalah orang yang memujahadahkan dirinya sendiri dalam ketaatan kepada Alloh”. (HR. Ahmad)

Perbedaan asasi lainnya dari sifat orang-orang yang beriman dan sifat orang-orang yang munafiq adalah mujahadahnya mereka saat menjalankan ketaatan kepada Alloh swt. `Uqbah bin `Amr al-Ansori rodhiyallohu’anh meriwayatkan:

“Tatkala ayat tentang sedekah diturunkan, kami membawa (memanggul) sedekah kami. Ada seorang yang datang dengan membawa harta sebanyak-banyaknya untuk disedekahkan, kemudian orang-orang munafik berkata, ‘Alloh tidak membutuhkan jika hanya satu gantang.’ Kemudian turunlah ayat:

(Orang-orang munafik itu) Yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Alloh akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. (Qs. At-Taubah [9]: 79)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadis ini digambarkan bahwa ketika ayat tentang sodaqoh diturunkan, para sahabat bersegera dan berlomba-lomba menunaikan sodaqoh kepada Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam. Hal sudah menjadi adat karakter para sahabat Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam, jika ayat-ayat perintah dari Alloh subhanahu wata’ala turun kepada mereka, maka dengan segera dan antusia mereka mengerjakannya, lalu jika ayat-ayat larangan dari Alloh subhanahu wata’ala turun kepada mereka, maka dengan segera dan antusias pula mereka meninggalkannya. (Baca Syarh Riyadus-Sholihin)

Semoga Alloh subhanahu wata’ala memberikan taufiq kepada kita sekalian untuk dapat menjalankan amal solih penuh keikhlasan dan mujahadah yang kuat.

Baca juga artikel Siapakah HASMI??