Dari Tulang Rusuk…

24 Mar 2017Redaksi Materi

Dari hadits Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu bahwa nabi sholallahu ‘alayhiwasallam bersabda,
“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR. al-Bukhari Kitab an-Nikah no. 5186)

Ini adalah perintah untuk para suami, para ayah, saudara-saudara laki-laki dan lainnya untuk menghendaki kebaikan untuk kaum wanita, berbuat baik terhadap mereka, tidak mendzalimi mereka dan senantiasa memberikan hak-hak mereka serta mengarahkan mereka kepada kebaikan. Ini yang diwajibkan atas semua orang berdasarkan sabda Nabi sholallahu ‘alayhiwasallam, “Berbuat baiklah kepada wanita.”

Hal ini jangan sampai terhalangi oleh perilaku mereka yang adakalanya bersikap buruk terhadap suaminya dan kerabatnya, baik berupa perkataan maupun perbuatan karena para wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, sebagaimana dikatakan oleh Nabi sholallahu ‘alayhiwasallam bahwa tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.

Sebagaimana diketahui, bahwa yang paling atas itu adalah yang setelah pangkal rusuk, itulah tulang rusuk yang paling bengkok, itu jelas. Maknanya, pasti dalam kenyataannya ada kebengkokkan dan kekurangan. Karena itulah disebutkan dalam hadits lain dalam ash-Shahihain.

“Aku tidak melihat orang-orang yang kurang akal dan kurang agama yang lebih bisa menghilangkan akal laki-laki yang teguh daripada salah seorang di antara kalian (para wanita).” (HR. Al Bukhari no. 304 dan Muslim no. 80)

Hadits Nabi sholallahu ‘alayhiwasallam yang disebutkan dalam ash shahihain dari hadits Abu Said al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu. Makna “kurang akal” dalam sabda Nabi sholallahu ‘alayhiwasallam adalah bahwa persaksian dua wanita sebanding dengan persaksian seorang laki laki. Sedangkan makna “kurang agama” dalam sabda beliau adalah bahwa wanita itu kadang selama beberapa hari dan beberapa malam tidak shalat, yaitu ketika sedang haidh dan nifas. Kekurangan ini merupakan ketetapan Alloh subhanahu wata’ala pada kaum wanita sehingga wanita tidak berdosa dalam hal ini.

Maka hendaknya wanita mengakui hal ini sesuai dengan petunjuk nabi sholallahu ‘alayhiwasallam walaupun ia berilmu dan bertaqwa, karena nabi sholallahu ‘alayhiwasallam tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, tapi berdasar wahyu yang Alloh subhanahu wata’ala berikan kepadanya, lalu beliau sampaikan kepada ummatnya, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala,
“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. An-Najm: 4)

Islam memandangnya mulia…

Wanita, kendati ‘bengkok’ namun Islam memandangnya begitu mulia. Dalam kacamata Islam, wanita menempati posisi yang sangat agung daripada kedudukan mereka di hadapan agama-agama yang lain. Mari tengok sejarah, di saat bangsa Romawi dan Yunani menempati posisi wanita sebagai sesosok yang tidak lain adalah budak-budak raja dan para bangsawan, Islam membebaskan penjajahan peradaban terhadap wanita ini dengan menjamin kemerdekaan seorang wanita dan kesamaan derajat sebagai insan manusia dan makhluk Alloh subhanahu wata’ala di muka bumi ini.

Eksistensi ini patut dinilai sebagi bukti bahwa Islam tidak ‘mendeskriditkan’ wanita sebagaimana yang sering digembar-gemborkan oleh mereka yang amat membenci Islam dan kaum muslimin. Lihat pula sejarah bagaimana terjadinya peristiwa perang yang berawal dari tindakan orang-orang Yahudi yang melepas paksa hijab seorang muslimah. Kabar ini sampai kepada Rosulullah sholallohu ‘alaihiwasallam dan saat itu pula genderang perang ditabuh dan pertempuran membela kehormatan muslimah pun terjadi.

Begitulah, kendati mereka tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, namun kedudukan mereka adalah tanggung jawab para lelaki. Kekurangan mereka adalah kewajiban lelaki untuk mendidiknya karena mereka berada di bawah kepemimpinan lelaki, baik ayahya, saudaranya, maupun suaminya.

Semoga bermanfaat…

Sumber:
Majmu Fatawa wa Maqadat Mutanawwi’ah juz 5 hall 300-301, Syaikh Ibn Baaz Fatwa fatwa Terkini Jilid 1 Bab Perlakuan Terhadap Istri