Dakwah Titian Kebangkitan

16 Mar 2017Redaksi Jalan Da'wah

Dakwah adalah perkara besar yang agung dan utama, tak sebanding dengan segala perkara lain yang ada di dunia. Alloh subhanahu wata’ala mengutus ribuan nabi dan rosul hanya untuk perkara ini saja. Berdakwah di tengah-tengah umatnya, membacakan ayat-ayat-Nya, membangkitkan jiwa-jiwa, memberi petunjuk kepada manusia, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan menjelaskan kebenaran kepada mereka.

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rosul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.  (QS. al-Jumu’ah: 2)

Ketika kesyirikan menyebar di tengah umat manusia, batu disembah, kuburan dikeramatkan, Alloh subhanahu wata’ala mengutus Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk berdakwah. Ketika penjajahan dan kekejaman merajalela, ketika semua bayi laki-laki dibunuh, Alloh subhanahu wata’ala mengutus Musa ‘alaihissalam. Bukan untuk membuat tentara tandingan, melainkan untuk berdakwah. Ketika penyimpangan seksual merajalela dan kemaksiatan sudah terjadi dimana-mana, Alloh subhanahu wata’ala pun mengutus Nabi Luth ‘alaihissalam untuk berdakwah. Ketika seluruh kemaksiatan, kedzoliman, dan seluruh bentuk penentangan terhadap hukum-hukum Alloh terjadi pada kaum kafir Quraisy, Alloh subhanahu wata’ala mengutus Rosululloh sholallohu ‘alaihiwasallam untuk berdakwah.

Setiap kali kerusakan melanda umat manusia di zaman dulu, semisal kerusakan moral, susila, kebudayaan, tatanan masyarakat, sistim politik, ekonomi dan kerusakan lainnya, Alloh subhanahu wata’ala mengutus gelombang para nabi dan rasul. Semua mengemban amanat perbaikan dan kebangkitan, tujuan asasinya adalah penyelamatan massal dari kesempitan dan bencana besar di dunia dan akhirat, dengan amal dakwah.

Dan kini, saat banyak sekali terjadi kesyirikan dan pergeseran keyakinan. Tontonan sihir makin semarak di televisi, dinikmati dari anak-anak sampai orang dewasanya, menyebarkan racun mematikan. Aurat wanita dipajang dan diumbar. Para penantang Alloh subhanahu wata’ala bermunculan di kampus-kampus, faham liberal, atheis, sekuler dikembangbiakkan. Kelompok sesat bermunculan merekrut kaum awam. Pergaulan  muda-mudi telah melewati batas kesopanan. Korupsi, narkoba dan miras hampir menjadi budaya.

Semua adalah pembangkangan nyata terhadap perintah dan larangan Alloh subhanahu wata’ala, mengundang murka dan azab-Nya. Bahkan azab-azab itu pun telah berdatangan. Banjir, gempa, angin topan, tanah longsor, kebakaran, letusan gunung berapi, pesawat jatuh, kapal tenggelam semua terjadi silih berganti.

“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alloh menimpakan  mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar –Rum: 41)

Adakah jawaban untuk semua keterpurukan dan bencana ini? Dakwah lah solusinya! Semua bencana dan keterpurukan itu akan terus berlangsung sampai kita semua terbinasakan. Bila kita tidak bangkit! Kita semua harus bangkit bersama-sama! Kita harus mewujudkan kebangkitan total! Bukan kebangkitan yang berorientasi kepada keduniaan semata. Kebangkitan sejati adalah kebangkitan ruhani yang kuat dan menyeluruh, yaitu terwujudnya di masyarakat kita ini dominasi penitian Sirotulmustaqim, penitian jejak-jejak Rosululloh sholallohu ’alaihiwasallam dan para sahabatnya.

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 122)

Jalan utama untuk melenyapkan keterpurukan ruhani adalah pencerahan jiwa-jiwa dengan dakwah yang benar. Jiwa-jiwa yang tercerahkan dengan dakwah yang benar akan bangkit dan bergerak meninggalkan semua elemen-elemen keterpurukan tadi serta akan menggantikannya dengan penitian Sirotulmustaqim secara kaffah di seluruh lapangan kehidupan. Tujuan utama melenyapkan keterpurukan ruhani adalah meraih kebahagiaan surga dan keselamatan dari neraka. Sekalipun demikian, terwujudnya kebangkitan ruhani pun pasti akan menghasilkan kecemerlangan dunia.

”Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka”. (QS. al-A’rof: 96)

Kita harus segera memulai suatu gerakan kebangkitan mengikuti jejak para nabi dan rasul, para pembangkit yang mulia.  Kita juga harus melibatkan semua orang, keluarga, kerabat maupun teman. Saat kita merenungi kehidupan Rosululloh sholallohu ‘alaihiwasallam dan para sahabatnya, maka dapat kita temukan bahwa tak ada satu pun dari mereka kecuali mengajak anggota keluarganya, temannya, bahkan semua orang yang dikenalnya, untuk sama-sama berdakwah sesuai kemampuan. Pertama kali wahyu turun pada Rosululloh sholallohu ‘alaihiwasallam, beliau menyampaikannya pada istri tercinta, lalu temannya, keponakannya, dan semua orang yang beliau kenal.

Alloh subhanahu wata’ala telah menjadikan dakwah sebagai solusi permasalahan umat dari zaman ke zaman. Jika kita mentadabburi al-Qur’an, sebagian besar isinya bercerita kisah-kisah dakwah dan bagaimana cara para nabi dan rasul berdakwah. Oleh karena itu, umat ini wajib mengambil dan memikul tugas dakwah, sebagaimana dulu para sahabat nabi sholallohu ‘alaihiwasallam tuntas menunaikannya.

Sekarang waktunya membuat keputusan! Permasalahan umat sudah ada di depan mata dan tugas-tugas besar menunggu untuk kita tunaikan. Mari berlelah-lelah untuk agama Alloh sholallohu ‘alaihiwasallam, mari kita berkorban lagi dan lagi sampai saatnya kelak Alloh subhanahu wata’ala menyatakan keridhoan-Nya. Mari saudaraku… alangkah nikmatnya ketika kita berlelah-lelah untuk dakwah dan tidur dalam kelelahan setelah berdakwah, sehingga kelak Alloh subhanahu wata’ala pertemukan kita dengan Rosululloh sholallohu ‘alaihiwasallam dan para sahabatnya.