Buah Kelembutan Ketika Berdakwah

31 Jan 2018Redaksi Aqidah

Kelembutan dalam berdakwah adalah perintah Alloh subhanahu wata’ala dalam kondisi tertentu. Begitu pula ketegasan dalam berdakwah terkadang diperlukan. Semua itu, baik lemah lembut ataupun berlaku tegas dalam dakwah adalah warna dan strategi dalam berdakwah. Sehingga seorang pendakwah, harus bijak dalam memahami realita dakwah dan bersikap adil ketika berdakwah.

Kekerasan yang berlebihan dalam dakwah hanya akan melahirkan kebencian dan begitupun kelembutan yang berlebihan hanya akan membuahkan peremehan terhadap syariat Alloh subhanahu wata’ala. Namun, pegangan dasar dalam berdakwah tetap dengan lemah lembut karena kelembutan bagian dari hikmah saat berdakwah.

Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

Tidaklah lemah lembut dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah sikap keras dalam segala sesuatu kecuali dia akan merusaknya.
(HR. Muslim)

Lihatlah Nabi Ibrohim ‘alaihissalam sebagai suri tauladan, yang tetap lembut saat berdakwah kepada ayahnya yang musyrik. Lihatlah Nabi Musa dan Harun yang tetap diperintahkan untuk lembut saat mendakwahi penguasa yang sadis dan bengis. Namun, mengapa sebagian kita dengan orang tuanya yang muslim, berdakwah penuh amarah? dengan keluarganya yang muslim berdakwah tanpa ramah? dengan teman dan masyarakat yang muslim berdakwah kering dari sikap pemurah?

Mari tadaburi Al-Qur’an, saat Fir’aun sudah sampai pada puncak kekufuran dengan mengatakan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi,” maka Alloh subhanahu wata’ala mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan dan mendakwahinya seraya berpesan, “Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thoha [20]: 44) Yakni dengan bahasa yang mudah dipahami, halus, lembut, dan penuh adab tanpa sikap kasar, arogan, dan intimidasi dalam berkata atau bertindak brutal.

Semoga dengan perkataan yang lembut, objek dakwah ingat dengan sesuatu yang bermanfaat untuknya, sehingga dia melaksanakannya atau takut dengan apa yang membahayakannya, sehingga dia meninggalkannya.

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu’anha Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Wajib bagimu untuk berbuat lemah lembut, berhati-hatilah dari sikap keras dan keji, sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memburukkan perkara tersebut”.
(HR. Muslim)

Renungi pula bentuk kelembutan Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam. Imam Bukhori meriwayatkan dari Urwah, bahwa Aisyah rodhiyallohu’anha (isteri Nabi shollallohu’alaihi wasallam) bertanya kepada Nabi shollallohu’alaihi wasallam, ‘Adakah hari lain yang engkau rasakan lebih berat dari hari di perang Uhud?’ tanya Aisyah.‘Ya, memang banyak perkara berat yang aku tanggung dari kaummu itu, dan yang paling berat ialah apa yang aku temui di hari Aqobah. Aku meminta perlindungan kepada putera Abdi Yalel bin Abdi Kilai, tetapi malangnya dia tidak merestui permohonanku! ‘Aku pun pergi dari situ, sedang hatiku sangat sedih, dan mukaku muram sekali, aku terus berjalan dan berjalan, dan aku tidak sadar melainkan sesudah aku sampai di Qarnis-Tsa’alib. Aku pun mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat sekumpulan awan yang menaungiku, aku lihat lagi, maka aku lihat Malaikat jibril  berada di situ, dia menyeruku: ‘Hai Muhammad! Sesungguhnya Alloh telah mendengar apa yang dikatakan kaummu tadi. Sekarang Alloh subhanahu wata’ala telah mengutus kepadamu bersamaku Malaikat penjaga bukit-bukit ini, maka perintahkanlah dia apa yang engkau inginkan dan jika engkau ingin dia menghimpitkan kedua bukit Abu Qubais dan Ahmar ini ke atas mereka, niscaya dia akan melakukannya!‘ Dan bersamaan itu pula Malaikat penjaga bukit-bukit itu menyeru namaku, lalu memberi salam kepadaku, ‘Hai Muhammad!’ Malaikat itu lalu mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril tadi. ‘Perintahkanlah aku, jika engkau menghendaki, aku himpitkan kedua bukit ini! ‘Jangan… jangan! Bahkan aku berharap Alloh akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan beribadah kepada Alloh semata, tidak menyekutukan Alloh subhanahu wata’ala dengan apa pun… !’, demikian jawab Nabi shollallohu’alaihi wasallam. Kekerasan dan intimidasi dibalas dengan doa, cacian dan cemoohan dibalas dengan keikhlasan doa dan akhirnya berujung kepada generasi pemberani yang membela agama Alloh subhanahu wata’ala. Inilah teladan kita Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam yang mengajarkan kepada kita tentang arti penting kelembutan walaupun mendapatkan penindasan. Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Alloh Maha Lembut, menyukai orang yang lembut. Sesungguhnya Alloh memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim). Dan didalam sabdanya yang lain: ’maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang diharamkan dari neraka atau neraka diharamkan atasnya? Yaitu atas setiap orang yang dekat (dengan manusia), lemah lembut, lagi memudahkan.” (HR. Tirmidzi)

Dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Bagaimana sepantasnya seseorang memerintahkan kepada yang ma’ruf?” Beliau menjawab, “Hendaknya dia memerintah dengan lemah lembut dan merendahkan diri.” Kemudian beliau berkata, “Jika mereka memperdengarkan kepadanya perkara yang dia benci, jangan dia marah, sehingga jadilah dia ingin membela dirinya.” (Al-Amr bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Munkar, Abu Bakr bin Al-Khallal, hal 52)

Al-Imam Sufyan berkata: “Janganlah memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar kecuali orang yang di dalamnya ada tiga perkara: Berlemah-lembut dengan apa yang ia perintahkan dan lemah-lembut dengan apa yang ia larang, adil dengan apa yang ia perintahkan dan adil dengan apa yang ialarang, mengilmui apa yang ia perintahkan dan mengilmui apa yang ia larang.” (Al-Amr bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil MunkarAbu Bakr bin Al-Khallal, hal 37)

Syaikhul Islam IbnuTaimiyah berkata, “Orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar semestinya mempunyai tiga sifat: Ilmu, sikap lemah lembut, dan kesabaran. Ilmu sebelum memerintahkan dan melarang, sikap lemah-lembut bersamanya, dan kesabaran setelahnya. Setiap dari tiga hal ini mesti menemaninya dalam keadaan-keadaan ini.” (Al-Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, IbnuTaimiyyah, hal: 18)

Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam jika mengutus sahabatnya dalam suatu urusan, beliau shollallohu’alaihi wasallam bersabda,

“Gembirakanlah mereka, jangan bikin lari, permudah urusan mereka, jangan mempersulit”.
(HR. Bukhori)

Jadi, berlemah-lembutlah, semoga kelembutanan dalam berdakwah menjadi inspirasi dan motivasi untuk mentaati perintah Robbul ‘alamin.

Wallohu alam….

 

Oleh: Ust. Fitri Priyanto, Lc.