Barisan Munafiqun Dalam Tokoh FLA (Fikih Lintas Agama)

3 May 2014Redaksi Pernik Muslimah

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan ucapan-ucapan mereka, dan Alloh tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS. ash-Shoff: 8)

Di zaman sekarang ini banyak sekali tokoh liberal yang hendak mengacak-ngacak ajaran Islam melalui pemikiran-pemikiran nyeleneh mereka. Dengan biaya yang didapat dari kantong-kantong kafir dan munafik lainnya, mereka bekerja, berusaha dan berfikir sekuat tenaga untuk meracuni kaum Muslimin dengan pemikiran-pemikiran rendahan.

Setidaknya ada Sembilan Tim penulis paramadina yang mengambil andil besar dalam penyusunan buku “Fikih Lintas Agama” yang sesat dan menyesatkan itu. Mereka adalah; Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komarudin Hidayat, Masdar F. Mas’udi, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi, Budhy Munawar-Rachman, Ahmad Gaus AF dan Mun’im A. Sirry. 

Mereka secara terang-terangan mengusung keyakinan inklusif pluralis alias menyamakan semua agama, dan secara blak-blakan memang mereka sengaja membuka jati diri mereka bahwa meskipun mengaku Islam namun juga mengakui bahwa aqidah mereka berbeda.

Menyamakan aqidah dari satu agama dengan agama lainnya jelas suatu yang sangat membahayakan. Hal ini dikarenakan Alloh  telah memilih Islam sebagai satu-satunya agama yang Dia pilih dan mengkafirkan semua agama selainnya. Dalam al-Qur’an surat Ali Imron ayat 85 Alloh  menjelaskan bahwa Dia tidak akan menerima orang yang menganut agama selain Islam dan dia di akherat akan termasuk orang yang merugi, rugi dengan api yang akan membakarnya.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Siapa saja yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya dan dia termasuk orang-orang yang merugi di akhirat nanti.”

Sebagai satu contoh, kita tahu bahwa orang-orang Nasrani meyakini Trinitas ketuhanan (Tuhan itu tiga), sedangkan Islam hanya meyakini keesaan uluhiyah (Alloh itu satu). Dari sisi ini saja tidak mungkin bagi seorang yang berfikir untuk menyatakan bahwa Islam dan Nashoro itu sama. Bahkan secara tegas Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menyatakan keesaan diri-Nya dan mengkufurkan pendapat selainnya. Dalam Surat al-Ikhlas Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menjelaskan bahwa diri-Nya adalah tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Alloh yang Esa, Alloh yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tidak beranak dan tidak diperanakan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. al-Ikhlash: 1-4)

Ayat ini dengan tegas membedakan antara aqidah Islam dan Nashoro. Islam mengakui Tauhidulloh sedangkan Nashoro menyakini trinitas, Islam meyakini bahwa Alloh tidak beranak dan tidak diperanakan sedangkan Nashoro meyakini tuhan yang beranak dan berbapak.

Karena itu dalam Surat al-Maidah ayat 73 Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) mengkafirkan aqidah Nashoro yang meyakini adanya trinitas dalam uluhiyah. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

“Sungguh telah kafir orang yang mengatakan trinitas pada Alloh.”

 Kemudian, dikarenakan perbedaan keyakinan antara kaum Muslimin dan orang Nashoro, maka di antara mereka harus ada yang benar dan ada yang salah atau kedua-duanya salah dan tidak mungkin keduanya benar. Dengan jelas pula Alloh  menyatakan keridhoan kepada kaum Muslimin dikarenakan lurusnya keyakinan mereka, dan kebencian serta keburukan untuk orang Nashoro dikarenakan buruknya aqidah yang mereka miliki, bahkan mereka adalah seburuk-buruknya manusia. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan Agama kalian untuk kalian, dan Aku cukupkan nitmat-Ku atas kalian, dan Aku telah ridho Islam sebagai Agama kalian.” (QS. al-Maidah: 3)

Sedangkan tentang Ahlul kitab baik Yahudi ataupun Nasrani, Alloh  telah menyatakan keburukan untuk mereka. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari Ahlul kitab dan orang-orang musyrik, mereka berada dalam neraka jahannam kekal di dalamnya. Merekalah seburuk-buruk manusia.” (QS. al-Bayyinah: 6)

Bagaimanapun tidak mungkin kaum Muslimin yang memahami al-Qur’an dan as-Sunnah dengan benar akan menyamakan antara keimanan dengan kekufuran, antara Islam yang hanif dengan Nashoro yang zaigh (menyimpang) atau dengan bentuk kekufuran lainnya.

Jika ada manusia yang menyamakan antara Islam dengan kekufuran sedangkan dia ber KTP Islam, maka itu adalah seorang yang jahil atau seorang yang terjangkiti penyakit nifak di dalam hatinya.

Kemudian kami mengajak semua orang yang telah terjangkiti oleh pemikiran semacam ini untuk segera bertaubat dan segera menuju kemurnian Islam yang akan menyejukan pikiran. Tidak ada keselamatan di dunia dan di akherat kecuali dengan kemurnian Islam yang di bawa oleh Rosuluulloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).