Kedermawanan Umar Bin al-Khattab

24 May 2014Redaksi Kisah Generasi Robani

Berinfaq merupakan amal sholih yang menuntut keikhlasan niat dengan mengharap pahala di sisi-Nya. Seorang mu’min harus mencegah dirinya dari hal-hal yang dapat menggugurkan seluruh kerja dan aktifitasnya, sebuah amalan yang dilandasi keikhlasan yang besar dan sempurna, tentu juga akan mendapatkan balasan yang besar dan sempurna pula.

Mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya untuk Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) adalah inti ajaran Islam dan kunci dakwah para Rosul ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Jadi, demikian agungnya urgensi ikhlas bagi setiap amal untuk kepentingan akhirat dan bagi setiap orang yang meniti jalan kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Dengan hujah iman yang nyata dan cahaya Al-Qur’an, orang-orang yang mempunyai hati mengetahui bahwa kebahagiaan tak mungkin tercapai kecuali dengan ilmu dan ibadah. Semua orang pasti akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu pasti akan binasa kecuali orang yang aktif beramal. Semua orang yang aktif beramal akan binasa kecuali yang ikhlas.

Amal yang tidak disertai ikhlas adalah gambar mati, raga tanpa jiwa. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)  hanya menginginkan hakikat amal, bukan rupa dan bentuknya. Maka dari itu Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menolak setiap amal yang pelakunya tertipu dengan amalnya. Rosulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

“Sesungguhnya Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) tidak melihat kepada badan, wajah, dan rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.”Beliau memberi isyarat ke arah hati dengan jari-jari tangannya, dan berkata: ”Takwa itu terletak di sini.” Dan beliau memberi isyarat ke arah dadanya (tiga kali).” (HR.Muslim dari Abu Hurairah).

Umar bin Al-Khaththab  adalah salah seorang sahabat Nabi  yang ikhlas dalam berinfaq, dan ia tidak ingin ada manusia yang mengetahui amalnya, tetapi ia hanya menginginkan hanya Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) yang mengetahuinya. Ia tidak ingin orang lain tahu bahwa ia seorang yang dermawan.

Akan tetapi ia berusaha menyembunyikan infaqnya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya. Karena kedermawanannya pula, maka pada masa Umar bin Al-Khaththab raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) , kita akan mendapati begitu banyaknya wilayah-wilayah yang masuk Islam, sehingga pemerintahannya menjadi imperium Islam. Maka, kita pun dapat mengetahui sosok Umar bin Al-Khaththab raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) sebagai pemimpin yang sangat memperhatikan rakyat kecil, dan berjiwa sangat sederhana! Hal ini tersirat di antaranya dalam serah terima tanah Palestina kepada Khalifah Umar bin Al-Khaththab raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him). Dia juga mengorbankan segala yang dimilikinya untuk menolong Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Ia pun tinggal di rumah biasa dan hidup sebagai rakyat biasa di kota Madinah. Meskipun ia hidup dalam kesederhanaan, namun dengan jiwa semangat berinfaq senantiasa tumbuh, mengeluarkan hartanya untuk dakwah di jalan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Sekalipun demikian beliau sangat disegani segala pihak dan ditakuti dengan penuh kehormatan.

Diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad, beliau berkata, “Hafshah  berkata kepada ‘Umar, ‘Wahai Amirul Mukminin, alangkah baiknya jika engkau memakai pakaian yang paling bagus dan makan dari makanan yang paling enak, karena Alloh telah meluaskan rizki dan harta kepadamu.’ Lalu ‘Umar berkata, ‘Sesungguhnya aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu, apakah engkau tidak ingat kesulitan yang telah menimpa Rosululloh  begitu pula Abu Bakar ?’ Senantiasa Hafshah mengingat kata-kata tersebut sehingga beliau menangis, lalu ‘Umar berkata kepadanya, “Sungguh aku akan menyertai mereka di dalam kehidupan yang sangat sulit, sehingga aku dapat merasakan kehidupan mereka berdua yang sangat indah.'” (HSR.Ahmad). Wallohu a’lam.