Ya’juj Dan Ma’juj – Adalah manusia dari keturunan Adam dan Hawa

14 Nov 2018Redaksi Aqidah

Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia dari keturunan Adam dan Hawa ‘alaihimussalam. Sebagian ulama berkata, “Sesungguhnya mereka hanya berasal dari Adam ‘alaihissalam dan bukan dari Hawa. Hal itu terjadi ketika Adam ‘alaihissalam bermimpi, lalu air maninya bercampur dengan tanah, darinyalah Alloh menciptakan Ya’juj dan Ma’juj.” Namun pendapat ini sama sekali tidak berlandaskan pada dalil, dan tidak disebutkan dalam sumber yang layak diterima perkataannya.

Ya’juj dan Ma’juj berasal dari keturunan Yafits, nenek moyang bangsa Turk, sementara Yafits dari keturunan Nuh ‘alaihissalam.

Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj dari keturunan Adam, dan sesungguhnya jika mereka diutus kepada manusia, niscaya akan merusak kehidupan mereka, dan tidaklah salah seorang dari mereka mati, kecuali meninggalkan seribu keturunan dari mereka atau lebih.”
(HR. Bukhori)

Adapun sifat-sifat mereka telah dijelaskan di berbagai hadits, bahwa mereka menyerupai orang-orang yang sejenis dengan mereka dari kalangan bangsa Turk, orang Ajam yang tidak fasih bicaranya dan bangsa mongol, matanya sipit, berhidung pesek, berambut pirang, berdahi lebar, wajah-wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit, bentuk tubuh dan warna kulit mereka mirip bangsa Turk.

Ibnu Hajar rohimahulloh menyebutkan sebagian atsar tentang ciri-ciri mereka, akan tetapi riwayatnya lemah. Di antara yang dijelaskan dalam atsar-atsar tersebut bahwa mereka adalah terdapat tiga golongan: Satu golongan dengan tubuh seperti al-‘urz, yaitu nama sebuah pohon yang sangat besar. Satu golongan dengan postur tubuh empat hasta kali empat hasta. Satu golongan dengan telinga mereka yang dapat dipertemukan dengan telinga yang lain. Dan ada pula atsar yang menyebutkan bahwa tinggi mereka satu jengkal dan dua jengkal dan paling tinggi dari mereka adalah tiga jengkal.

Dan terkait dengan sifat yang disebutkan Ibnu Katsir rohimahilloh mengingkari sifat-sifat ini, dengan berkata, “Sesungguhnya orang yang mengatakan bahwa ini adalah sifat-sifat mereka, maka dia telah berkata tanpa ilmu,” dan beliau berkata, “Tanpa dilandasi dengan dalil,” Tapi yang ditunjuki oleh berbagai dalil shahih bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat, tidak ada seorang pun yang sanggup membunuh mereka dan mustahil jika tinggi mereka itu satu atau dua jengkal. Wallohu A’lam.

Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj pada akhir zaman ini merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda besar Kiamat. Kemunculan mereka telah ditunjuki oleh al-Kitab dan as-Sunnah.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ. وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ

“Hingga apabila dibukakan tembok Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar yakni hari berbangkit, maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. Mereka berkata, ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.”
(QS. al-Anbiya: 96-97)

Diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan Muslim,

“Dari Ummu Habibah binti Abi Sufyan, dari Zainab binti Jahsy, bahwa pada suatu hari Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam datang kepadanya dengan kaget, beliau berkata: Laa ilaaha illallaah, celakalah orang Arab karena kejelekan telah dekat, hari ini dinding penghalang Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka seperti ini.” Beliau melingkarkan kedua jarinya; ibu jari dan telunjuknya.”

Zainab binti Jahsy berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rosululloh, apakah kami akan binasa sementara di antara kami masih ada orang-orang yang shalih?’ Beliau menjawab, ‘Ya, apabila kejelekan merajalela’.”

Dzul Qarnain membangun dinding Ya’juj dan Ma’juj untuk menghalangi antara mereka dan tetangga mereka yang telah meminta pertolongan kepada Dzul Qarnain dari kejahatan Ya’juj dan Ma’juj.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman,

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا. قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

“Mereka berkata, ‘Wahai Dzul Qarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu makhluk yang berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?’ Dzul Qarnain berkata, ‘Apa yang telah dianugerahkan Rabb-ku kepadaku lebih baik daripada imbalanmu, maka bantulah aku dengan kekuatan manusia dan alat-alat, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka’.”
(QS. al-Kahfi: 94-95)

Ayat di atas mengisahkan kepada kita tentang pembangunan dinding tersebut, adapun tempatnya berada di sebelah timur, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya di surat al Kahfi ayat ke 90: “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari yakni sebelah timur….”

Tempat dinding penghalang tersebut tidak diketahui tempatnya dengan pasti. Sebagian raja dan para ahli sejarah berusaha untuk mengetahui tempatnya.

Dan yang ditunjukkan dari beberapa ayat sebelumnya bahwa dinding tersebut dibangun di antara dua gunung, berdasarkan firman Alloh Ta’ala di surat Al-Kahfi ayat ke 93: “Hingga apabila dia telah sampai di antara dua gunung….” maknanya adalah dua gunung yang berhadapan, kemudian Alloh berfirman di ayat ke 96: “… Hingga apabila potongan besi itu telah sama rata dengan kedua puncak gunung itu….”

Dinding tersebut dibuat dengan menggunakan potongan-potongan besi, kemudian cairan timah dituangkan di atasnya sehingga menjadi sebuah penutup yang sangat kuat.

Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa seorang sahabat berkata kepada Nabi shollallohu’alaihi wasallam, “Aku telah melihat sebuah dinding bagaikan kain yang bergaris.” Rosul berkata, “Engkau telah melihatnya.

Wallohua’lam..