Wanita Penjaga Al-Qur’an

12 Mar 2014Redaksi Pernik Muslimah

Wanita penjaga al-Qur’an

Beliau adalah Hafsoh putri dari ‘Umar bin Khoththab raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him), seorang sahabat agung yang melalui perantaraan beliaulah Islam memiliki wibawa. Hafsoh adalah seorang wanita yang masih muda dan berparas cantik, bertakwa dan termasuk wanita yang di segani.

Pada mulanya beliau dinikahi oleh salah seorang sahabat yang mulia bernama Khunais bin Khudzafah bin Qais as-Sahmi al-Quraisy. Yang pernah berhijrah dua kali, ikut dalam perang Badar dan perang Uhud. Namun setelah beliau wafat di negeri hijrah karena sakit yang beliau alami sewaktu perang Uhud begitu parah. Jadilah Hafsoh yang masih muda dan bertakwa karena umurnya baru 18 tahun hidup seorang diri dan menjanda.

‘Umar benar-benar merasakan gelisah dengan keadaan putrinya yang menjanda dalam keadaan masih muda, dan beliau masih merasakan kesedihan dengan wafat-Nya menantunya yang dia adalah seorang muhajir dan mujahid. Beliau mulai merasakan kesedihan setiap kali masuk rumah melihat putrinya dalam keadaan berduka. Setelah berfikir panjang maka ‘Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami untuk putrinya sehingga ia dapat bergaul dengannya dan agar kebahagiaan yang telah hilang tatkala ia menjadi seorang istri selama kurang lebih enam bulan dapat kembali.

Akhirnya pilihan ‘Umar jatuh pada Abu Bakar ash-Shiddiq raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him), Orang yang paling dicintai oleh Rasululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), karena Abu Bakar dengan sifat tenggang rasa dan kelembutannya dapat diharapkan membimbing Hafsoh yang mewarisi watak bapaknya yang bersemangat tinggi dan berwatak tegas. Maka segeralah ‘Umar menemui Abu Bakar dan menceritakan perihal Hafsah beserta ujian yang menimpa dirinya yakni berstatus janda. Sedangkan ash-Shiddiq memperhatikan dengan rasa iba dan belas kasihan. Kemudian barulah Umar menawari Abu Bakar agar mau memperistri putrinya. Dalam hatinya dia tidak ragu bahwa Abu Bakar mau menerima seorang wanita yang masih muda dan bertakwa, putri dari seorang laki-laki yang dijadikan oleh Alloh penyebab untuk menguatkan Islam. Namun ternyata Abu Bakar tidak menjawab apa-apa. Maka berpalinglah ‘Umar dengan membawa kekecewaan hatinya yang hampir-hampir dia tidak percaya (dengan sikap Abu Bakar). Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ‘Utsman bin Affan yang mana ketika itu istri beliau yang bernama Ruqoyyah binti Rasululloh telah wafat karena sakit yang dideritanya.

‘Umar menceritakan perihal putrinya kepada ‘Utsman raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) dan menawari beliau agar mau menikahi putrinya, namun beliau menjawab, “Aku belum ingin nikah hari ini.” Semakin bertambahlah kesedihan ‘Umar atas penolakan ‘Utsman yang sebelumnya di tolak oleh Abu Bakar. Dan beliau merasa malu untuk bertemu dengan salah seorang dari kedua sahabatnya tersebut, padahal mereka berdua adalah kawan karibnya dan teman kepercayaannya yang faham betul tentang kedudukannya. Kemudian beliau menghadap Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan mengadukan keadaan dan sikap Abu Bakar maupun ‘Utsman. Maka tersenyumlah Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) seraya berkata:”Hafsoh akan di nikahi oleh orang yang lebih baik dari Utsman, sedangkan ‘Utsman akan menikahi wanita yang lebih baik dari Hafsoh.”(39)

Wajah ‘Umar bin Khoththob berseri-seri karena kemuliaan yang agung ini yang mana belum terlintas dalam angan-angannya, hilanglah segala kesusahan di hatinya, maka dengan segera ia menyampaikan kabar gembira tersebut kepada setiap orang yang dicintainya, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang pertama kali beliau temui. Maka tatkala Abu Bakar melihat ‘Umar dalam keadaan gembira dan suka cita, maka beliau mengucapkan selamat kepada ‘Umar dan meminta maaf kepada ‘Umar sambil berkata, “Janganlah engkau marah kepadaku wahai ‘Umar, karena aku telah mendengar Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) menyebut-nyebut Hafsoh, hanya saja aku tidak ingin membuka rahasia Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), seandainya beliau menolak Hafsoh maka pastilah aku mau menikahinya. Maka Madinah mendapat barakah dengan indahnya pernikahan Nabi n dengan Hafsoh binti ‘Umar pada bulan Sya’ban tahun ke tiga hijriyah. Begitu pula barakah dari pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummi Kultsum binti Muhammad pada bulan Jumadil Akhir tahun ke tiga Hijriyah juga.

Begitulah, Hafsoh bergabung dengan istri-istri Rosululloh dan ummahatul mukminin yang suci. Di dalam rumah tangga nubuwwah ada istri beliau yakni Saudah dan Aisyah. Maka tatkala ada kecemburuan beliau mendekati ‘Aisyah karena dia lebih pantas dan lebih layak untuk cemburu. Beliau senantiasa mendekati dan mengalah dengan ‘Aisyah mengikuti pesan bapaknya (Umar) yang berkata, “Betapa kerdilnya engkau bila di banding dengan ‘Aisyah dan betapa kerdilnya ayahmu ini apabila di bandingkan dengan ayahnya.”

Hafsoh dan ‘Aisyah pernah menyusahkan Nabi, maka turunlah ayat: “Jika kamu berdua bertaubat kepada Alloh, maka sesungguhnya hati kamu berdua lebih condong untuk menerima kebaikan dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Alloh adalah pelindungnya dan (begitu pula) jibril.” (QS. At-Tahrim [66]:4)

Telah diriwayatkan bahwa Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) pernah mentalak Hafsoh sekali tatkala ia di anggap menyusahkan Nabi, namun beliau rujuk kembali dengan perintah Jibril 'alayhi'l-salām (peace be upon him), yang mana jibril berkata: “Dia adalah seorang wanita yang rajin puasa, rajin shalat dan dia adalah istrimu di surga,”

Hafsoh pernah merasa bersalah karena menyebabkan kesusahan dan penderitaan Nabi dengan menyebarkan rahasianya, namun akhirnya beliau menjadi tenang setelah Rasululloh n memaafkan beliau. Kemudian Hafsoh hidup bersama Nabi dengan hubungan yang harmonis sebagai seorang istri bersama suaminya. Manakala Rosul yang mulia telah menghadap ar-Rafiqul A’la dan khalifah di pegang oleh Abu Bakar ash-Shiddiq raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him), maka Hafsahlah yang di percaya di antara ummahatul mukminin termasuk Aisyah di dalamnya, untuk menjaga mushaf al-Qur’an yang pertama.

Hafsoh mengisi hidupnya sebagai seorang ahli ibadah dan taat kepada Alloh, rajin puasa dan juga sholat, satu-satunya orang yang dipercaya untuk menjaga keamanan undang-undang umat ini, dan kitabnya paling utama yang merupakan mukjizat yang abadi, sumber hukum yang lurus dan akidahnya yang utuh.

Ketika ayah beliau yang ketika itu adalah Amirul Mukminin merasakan dekatnya ajal setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah seorang Majusi pada bulan Dzulhijah tahun 13 Hijriyah, maka Hafsoh adalah putri beliau yang mendapat wasiat yang beliau tinggalkan.

Hafsoh wafat pada masa Mu’awiyah bin Abu Sufyan raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) setelah memberikan wasiat kepada saudaranya yang bernama ‘Abdulloh dengan wasiat yang telah diwasiatkan oleh ayahnya. Semoga Alloh meridhoi beliau yang telah menjaga al-Qur’an al-Karim, dan beliau adalah wanita yang di sebut Jibril sebagai Shawwamah dan Qawwamah (Wanita yang rajin shalat dan puasa) dan beliau adalah istri Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) di surga.

Di sadur dari buku “Mereka adalah para Shhohabiyat”, karya Mahmud Mahdi Al- Istanbul dan Mustofa Abu An Nash Asy-Syalabi.

(Red-HASMI)