Tertahan Masuk Surga Karena Hutang

5 Aug 2017Redaksi Fiqih dan Muamalah

Tertahan Masuk Surga Karena Hutang – 

“Semua dosa orang yang mati syahid diampuni, kecuali utang.”
(HR. Muslim)

Dalam hadits lain Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda, “Demi jiwaku yang berada di Tangan-Nya! Seandainya ada seorang laki-laki terbunuh di jalan Alloh, kemudian ia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi dan terbunuh lagi, sedang ia memiliki utang, sungguh ia tidak akan masuk surga sampai utangnya dibayarkan.”
(HR. An-Nasa’i, hasan)

Tertahan Masuk Surga Karena HutangJika para syuhada (orang-orang yang mati syahid dalam jihad fi sabilillah) saja yang diampuni dosa-dosanya sejak tetes darah pertama mereka, ternyata tidak menjadikan mereka aman dari dosa utang. Lalu bagaimana dengan kita yang belum tentu meninggal sebagai seorang syuhada?

Saudaraku…
Utang merupakan kenyataan yang melanda hampir setiap manusia. Apalagi keadaan seperti sekarang, seluruh biaya kehidupan melambung tinggi, namun penghasilan tidak kunjung mencukupi. Jika tidak bersabar dan merasa cukup (qona’ah) dengan apa yang ada, maka celakalah kita.

Sebagai seorang muslim, agar terhindar dari jerat utang dan tidak menyesal karenanya kita harus tangguh dan mandiri. Marilah kita mencoba merenungi hadits di bawah ini. Suatu saat Nabi sholallohu’alaihi wasallam mendatangi seorang laki-laki (yang meninggal dunia) untuk disholatkan, maka beliau bersabda, “Sholatkanlah teman kalian, karena sesungguhnya dia memiliki utang.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Apakah teman kalian ini memiliki utang? Mereka menjawab, ‘Ya, dua dinar’. Maka Nabi sholallohu’alaihi wasallam mundur seraya bersabda, ‘Sholatkanlah teman kalian!’ Lalu Abu Qatadah berkata, ‘Utangnya menjadi tanggunganku’. Maka Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda, ‘Penuhilah (janjimu)!, lalu beliau menyolatkannya.”
(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dari Abu Hurairoh rodhiyallohu’anhu ia berkata, Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Jiwa seorang mu’min itu terkatung-katung karena utangnya, sampai ia dibayarkan.”
(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Saudaraku…
Utang merupakan perkara besar dalam Islam. Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam banyak mengingatkan hal tersebut dalam sabdanya, salah satunya hadits di atas. Tetapi faktanya, masyarakat seolah tidak peduli dengan perkara ini. Kita ambil contoh pengusaha yang berprinsip untuk banyak-banyak menumpuk utang dengan alasan untuk mengembangkan usaha. Dalam Islam, utang piutang adalah sesuatu yang dibolehkan, tetapi masalahnya adalah kadang orang yang berutang tidak amanah dan tidak jujur ketika membayar.

Sebenarnya mereka mampu membayar utang sesuai time limit yang diberikan oleh pemberi utang, namun seribu satu alasan diberikan ketika pemberi utang datang menagih. Katanya besok lah, bulan depan lah, dan seterusnya, padahal ia mampu mengembalikan utang tersebut. Namun ia mesti memutar uang untuk membayar utang tadi untuk modal usaha lainnya. Itulah penyebab utang tersebut belum kunjung dibayarkan ke tangan sang kreditur.

Saudaraku…
Ingatlah selalu akan ancaman serius bagi pelaku utang. Jika kita mati dalam keadaan mempunyai utang maka salah
satu tebusan yang akan digunakan untuk membayar utang kita adalah amal baik kita di akhirat kelak. Tentunya Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam besabda:

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.”
(HR. Ibnu Majah no. 2414. Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Jika kita renungi hadits di atas, maka alangkah ruginya manakala amal sholeh yang kita pupuk selama di dunia harus hilang menjadi tebusan utang-utang kita di dunia. Sungguh penyesalan yang amat besar yang harus kita terima. Selain itu, orang yang mati dalam keadaan masih mempunyai utang, maka jiwanya akan terus menggantung hingga utangnya lunas terbayarkan.

“Jiwa seorang mu’min masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.”
(HR. at-Tirmidzi no. 1078 dan Ibnu Majah no. 2413)

Syaikh Al-Albani rohimahulloh mengatakan bahwa hadits ini shohih. Al-‘Iroqi mengatakan, “Urusannya masih menggantung, artinya tidak bisa kita katakan ia selamat ataukah sengsara sampai dilihat utangnya tersebut lunas ataukah tidak.”

Asy-Syaukani berkata, “Hadits ini adalah dorongan agar ahli waris segera melunasi utang si mayit. Hadits ini sebagai berita bagi mereka bahwa status orang yang berutang masih menggantung disebabkan oleh utangnya sampai utang tersebut lunas. Ancaman dalam hadits ini ditujukan bagi orang yang memiliki
harta untuk melunasi utangnya lantas ia tidak lunasi. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta dan sudah bertekad ingin melunasi utangnya, maka ia akan mendapat pertolongan Alloh subhanahu wata’ala untuk memutihkan utangnya tadi sebagaimana hal ini diterangkan dalam beberapa hadits.”
(Nailul Author, 6/114)

Penjelasan Asy-Syaukani menunjukkan ancaman bagi orang yang mampu melunasi utang tetapi ia tidak amanah. Ia mampu melunasinya tepat waktu, namun tidak juga dilunasi. Bahkan seringkali menyusahkan si pemberi utang, misalnya si pemberi utang sudah berbaik hati meminjamkan uang tanpa bunga, atau mungkin saja si pemberi utang memerlukan uang yang seharusnya sudah dilunasi itu.

Saudaraku…
Berhati-hatilah terhadap utang karena utang bagaikan musuh dalam selimut. Utang adalah perkara yang mudah dan dimubahkan dalam syariat, tetapi konsekuensinya sangatlah berat. Bahkan Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam pun senantiasa berdoa kepada Alloh subhanahu wata’ala agar diberikan kemampuan untuk dibebaskan dari perkara utang.

Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda dalam doanya:

“Ya Alloh, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal, sehingga tidak membutuhkan lagi yang haram. Perkayalah aku dengan karunia-Mu, sehingga tidak lagi membutuhkan selain-Mu.”
(HR. at- Tirmidzi)

Demikianlah Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam mengajarkan kita untuk senantiasa meminta kepada Alloh subhanahu wata’ala agar diberikan rezeki yang cukup dan halal, sehingga segala permasalahan hidup diatasi dengan hanya meminta kepada Alloh subhanahu wata’ala saja tanpa membutuhkan makhluk lain sebagai penolong.

Amiin ya
Robbal ‘alamin.

Baca juga Artikel Sumber Dan Jalan-Jalan Keberkahan