Tafsir Ringkas Surat an-Nas

3 Oct 2018Redaksi Aqidah

Alloh subhanahu wata’ala berfirman dalam surat an-Nas

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦

“Wahai Muhammad, katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai manusia; Raja manusia; Sesembahan manusia; dari keburukan pembisik yang licik; yang membisikan kejahatan ke dalam hati manusia; pembisik kejahatan dari golongan jin dan manusia.”
(QS. an-Nas: 1-6)

Imam Abdurrohman bin Nasir as-Sa’di mengatakan, bahwa ayat ini mencakup memohon perlindungan kepada Alloh subhanahu wata’ala sebagai Pencipta manusia, pengatur manusia, raja manusia dan sesembahan manusia dari keburukan syaiton. Syaiton adalah sumber segala macam keburukan.

Di antara bentuk fitnah syaiton adalah bisikan keburukan yang selalu dihembuskan ke dalam hati manusia. Dengan bisikan ini, syaiton hendak merubah keburukan menjadi indah. Bentuk buruk satu kejahatan dirubah seolah-olah menjadi sesuatu yang menarik. Syaiton pun memberikan motivasi kepada manusia untuk melaksanakan keburukan itu.

Di antara contoh-contoh keburukan yang sudah disihir oleh syaiton seolah menjadi kebaikan adalah, penamaan riba menjadi bunga, penamaan pembuat berhala menjadi pengrajin seni, penamaan minuman khomer menjadi obat kuat dan penamaan-penamaan lainnya yang buruk menjadi baik.

Selain menipu manusia dengan menjadikan keburukan seolah sesuatu yang baik. Syaiton pun selalu menipu manusia dengan menjadikan kebaikan seolah-olah satu hal yang buruk. Dengan ini, syaiton hendak mencekam manusia agar tidak tunduk dan patuk kepada Alloh subhanahu wata’ala.

Demikianlah pekerjaan syaiton selama-lamanya yang selalu menggoda dan menghalangi manusia dari petunjuk Alloh subhanahu wata’ala.

Kata “al-Khonnas” dari firman Alloh “min Syarril Waswasil khonnas” adalah sifat syaiton yang berarti mundur dan menjauh. Ini menunjukan bahwa syaiton akan menjauh dan tidak membisikan keburukan kepada hati manusia ketika ia berdzikir kepada Alloh subhanahu wata’ala dan meminta perlindungan kepada kepada-Nya dari godaan syaiton.

Ibnu Kasir mengatakan bawah syaiton menempelkan bibirnya kepada hati manusia yang lalai dari Alloh untuk membisikan keburukan-keburukan; dan ketika hati manusia mulai mengingat Alloh, maka syaiton pun kabur meninggalkan hati itu.

Sudah selayaknya seorang manusia berlindung kepada Alloh subhanahu wata’ala dari godaan syaiton yang terkutuk. Karena hanya Alloh subhanahu wata’ala lah pengatur seluruh makhluk baik jin maupun manusia dan Alloh subhanahu wata’ala pula yang telah menciptakan mereka. Tidak ada satu makhluk melatapun kecuali nyawa mereka berada di Tangan Alloh subhanahu wata’ala.

Seorang manusia harus berusaha mencegah gangguan syaiton yang hendak menghalangi mereka dari beribadah kepada Alloh subhanahu wata’ala. Syaiton ini berkeinginan kuat dan bertekad bulat untuk menjadikan mayoritas manusia sebagai penghuni neraka bersamanya.

Gangguan, godaan dan bisikan untuk berprilaku buruk, ternyata tidak hanya bersumber dari jin saja. Akan tetapi hal inipun bersumber dari manusia. Untuk itu Alloh berfirman “minal jinnati wannas”.

Ibn Kasir menyatakan bahwa surat an-Nas ini diawali dengan penyebutan tiga sifat Alloh yaitu sifat Rububiyah, sifat mulkiyah dan sifat uluhiyah Alloh. Semua makhluk diciptakan dan dikuasai oleh Alloh, karena Alloh subhanahu wata’ala pemilik dan penguasa segalanya, maka Dia memerintahkan kepada manusia untuk memohon perlindungan dari keburukan syaten yang selalu hadir mengganggu manusia.

Tidak ada seorang manusia pun kecuali ada syaiton yang senantiasa memperindah keburukan.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abdulloh bin Mas’ud, bahwa Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ ». قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَإِيَّاىَ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِى عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِى إِلاَّ بِخَيْرٍ ».

“Tidak ada seorang manusia pun kecuali ada yang menemaninya dari kalangan Jin yang mengajak kepada keburukan. Para sahabat berkata, begitu pula engkau wahai Rosul? Beliau bersabda “ya, hanya saja Alloh membantuku sehingga dia masuk Islam dan tidak memerintahkanku pada kecuali pada kebaikan.”

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori Rosululloh sollallohu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya syaiton berjalan di dalam tubuh manusia pada tempat aliran darah mereka.”

Syaiton memang sangat berbahaya, dan tidak ada seorangpun yang akan selamat dari godaan syaiton kecuali mereka yang diselamatkan oleh Alloh subhanahu wata’ala.

Setan dari jenis jin dan manusia akan senantiasa ada, dan menebar tipuan di dalam kehidupan ini. sehingga sudah seharusnya manusia untuk segera dan terus-menerus meminta perlindungan kepada Alloh subhanahu wata’ala sebab syaiton akan senantiasa menjadi musuh bagi manusia.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan jenis jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”
(QS. al-An’am: 112)

 

Wallohu Ta’ala a’lam…