Setelah Perang Bani Nadhir

14 Feb 2014Redaksi Sejarah Islam

setelah perang bani nadhir

Kekalahan di perang uhud, serta pelecehan dari pihak munafik dan kafir Quroisy kini telah mereda. Hal ini berkat kemenangan-kemenangan yang diraih oleh pasukan Muslimin dalam perang melawan Bani As’ad, pasukan Kholid bin Sufyan al-Hudzaili, perang ar-Raj’i dan juga perang Bani Nadhir. Sehingga kemuliaan kaum Musliminpun kembali terangkat, dan kemuliaan tersebut semakin nampak setelah pasukan Muslimin berhasil memenangkan peperangan selanjutnya, diantara peperangan tersebut adalah sebagai berikut:

Perang Najd

Dengan kemenangan yang diperoleh orang-orang Muslim dalam peperangan Bani Nadhir tanpa ada pengorbanan apa pun, maka kekuasaan umat Islam di Madinah pun semakin kokoh. Dan orang-orang munafik pun terlecehkan karena kelicikan yang mereka tampakkan tak mampu menghadang pasukan Muslim. Di situasi seperti inilah Rosululloh  mempunyai kesempatan untuk menumpas orang-orang Arab Badui yang selalu mengganggu kaum Muslimin seusai kalah dalam Perang Uhud.

Rosululloh  mendapat berita yang disampaikan mata-mata Madinah tentang berhimpunnya orang-orang Badui dan pedalaman dari Bani Muharib dan Tsa’labah dari Ghothofan untuk melakukan serangan. Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) pun segera menghampiri tempat persembunyian Badui tersebut, saat orang-orang Badui dan pedalaman melihat Rosululloh , mereka langsung ketakutan, kocar-kacir ke segala penjuru dan bertahan di puncak-puncak bukit. Begitulah orang-orang Muslim menggetarakan hati orang-orang Badui itu, kemudian mereka pulang ke Madinah.

Perang Badr Kedua

Seperti yang dijanjikan oleh Abu Sufyan, saat ia kembali dari perang Uhud, ia akan kembali memerangi kaum Muslimin yang disebut sebagai “perang badr ke dua”.  Oleh karena itu, sebelum menghadapi perang Badr yang kedua, Rosululloh  terlebih dahulu membungkan orang-orang Arab Badui sebagaimana dikisahkan di atas. Dan setelah kaum Muslimin dapat membungkam dan menghentikan gangguan orang-orang Arab Badui, mereka mulai bersiap-siap untuk menghadapi musuh terbesar. Maka pada bulan Sya’ban 4 H atau Januari 626 M Rosululloh  pergi bersama 1500 prajurit. Pasukan ini diperkuat dengan 10 penunggang kuda. Bendera berada di tangan Ali bin Abi Tholib , sementara kepemimpinan di Madinah diwakilkan pada Abdulloh bin Rowahah .

Adapun di pihak musuh, Abu Sufyan membawa 2000 prajurit, yang diperkuat dengan 50 penunggang kuda. Sebenarnya berat hati Sufyan untuk keluar dari Mekah, karena dia memikirkan akibat peperangan dengan kaum Muslimin. Ketakutan selalu membayangi hatinya.

Ketika singgah di Zhahran, bertambah kecil hatinya. Maka dia mencari akal untuk kambali lagi ke Mekah. Ternyata ketakutan juga membayangi hati prajurit-prajurit Abu Sufyan, maka mereka kembali ke Makkah tanpa harus berperang.

Kaum Muslimin menunggu kedatangan pasukan Quroisy di Badr selama 8 hari. Karena pasukan Quroisy tidak juga datang, akhirnya kaum Muslimin kembali lagi ke Madinah dengan membawa pamor yang harum dan keberadaan mereka disegani. Peristiwa ini di kenal dengan sebutan perang Badr yang dijanjikan, atau perang Badr Kedua, atau perang Badr yang terakhir, atau perang Badr Shughro.

Perang Daumatul-Jandal

Sepulang Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dari Badr, keadaan di wilayah Madinah menjadi aman dan tentram, pemerintahan beliau dapat berjalan lancar. Setelah Badr Shughro, beliau menetap di Madinah selama 6 bulan. Kemudian datang berita bahwa beberapa kabilah di sekitar Dumatul-Jandal, tak jauh dari Syam, suka merampas dan merampok siapa pun yang lewat di daerah itu. Bahkan mereka menghimpun orang untuk menyerang Madinah.

Madinah dipercayakan kepada Siba’ bin Urfuthah al-Ghifary. Sedang beliau berangkat bersama 1000 prajurit pada akhir Rabi’ul-Awwal 5 H beliau menunjuk Mandzur dari Bani Udzrah sebagai penunjuk jalan. Beliau mengadakan perjalanan pada malam hari dan beristirahat pada siang hari, hingga tiba di tempat musuh yang tidak menyadari kedatangan beliau bersama pasukan Muslimin. Setelah tahu, mereka pun berpencar melarikan diri.

Setelah tiba di perkampungan Dumatul-Jandal kaum Muslimin tidak menemukan seorang pun. Rosululloh  menetap di sana beberapa hari, memecah pasukan menjadi beberapa kelompok dan melakukan pengejaran ke segala penjuru. Tapi tak seorang pun ditemukan. Setelah itu beliau kembali ke Madinah, setelah menempatkan Uyainah bin Hishn di Dumah, dibagian timur Syam.

Dengan gerakan cepat dan dengan rencana yang matang ini, Rosululloh  mampu menciptakan keamanan, ketentraman dan menguasai keadaan, mengalihkan hari demi hari untuk kemaslahatan kaum Muslimin, meringankan beban eksternal dan internal, yang sebelumnya senantiasa mengejar dan mengepung mereka dari segala penjuru. Orang-orang munafik tidak lagi berani berbuat macam-macam dan hanya diam saja. Setelah salah satu kabilah Yahudi dapat diusir. Orang-orang Quroisy juga menghentikan serangan terhadap kaum Muslimin. Dengan begitu, kaum Muslimin bisa bernafas lega dan bebas menyebarkan Islam serta menyampaikan risalah Alloh .

Faidah Siroh

Kisah ini tentunya menginspirasikan kita untuk senantiasa semangat dalam dakwah dan bangkit memperjuangkan Islam. Sebagaimana Rosululloh  dan para sahabatnya  yang tidak rela jika umat Islam direndahkan karena kekalahan dalam perang Uhud, sehingga mereka segera mengevaluasi diri dan melakukan perubahan.

(Red-HASMI/IH/Yusuf Supriadi)