Renungan Selepas Ramadhan

26 Jun 2018Redaksi Aqidah

Renungan Selepas Ramadhan

Bulan Ramadhan telah berlalu dari sisi kita. Tentu masih teringat dalam benak kita bagaimana kita melewati hari-hari Ramadhan dengan penuh kesabaran di siang harinya sementara malam-malamnya kita lewati dengan ruku’ dan sujud. Alangkah indahnya bulan Ramadhan bagi orang-orang yang beriman. Di hati ini ada sebuah harapan, kiranya Allah Yang Maha Rahman berkenan menerima amal shalih kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Namun ada satu hal yang patut disayangkan, dengan berlalunya Ramadhan berlalu pula amal-amal shalih dan keta’atan. Kini, tak terdengar lagi suara lantunan al Qur’an, tak ada lagi shalat malam, tidak juga puasa, dan tidak ada lagi masjid-masjid yang dipenuhi jama’ah. Semuanya tinggal kenangan.

Saudaraku…

Ingatlah, Ramadhan adalah madrasah yang mendidik jiwa-jiwa kita agar terlatih untuk bersabar dan tekun dalam beramal. Dimanakah pengaruh pendidikan tersebut jika selepas Ramadhan kita meninggalkan kebiasaan amal-amal shalih yang selama ini kita lakukan?

Marilah kita lihat bagaimana teladan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjaga kelanggengan amal ibadahnya selepas Ramadhan. Beliau mengikuti puasa Ramadhannya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal. Abu Ayyub al Anshari Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa pa-da bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawwal, maka seperti berpuasa sepanjang masa”.
(HR. Muslim)

Disamping itu beliau juga senantiasa berpuasa setiap hari senin dan kamis. Demikianlah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam menjaga kelanggengan puasa tidak hanya di bulan Ramadhan.

Adapun dalam hal shalat malam atau qiyamul lail beliau tidak hanya melakukannya di bulan Ramadhan saja. Bahkan beliau selalu melakukan qi-yamul lail sebelas raka’at baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan lain-lainnya. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata:

“Tidaklah Rasulullah menambah -pada bulan Ramadhan atau selainnya-  lebih dari sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at dan jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian shalat lagi empat raka’at dan jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian shalat lagi tiga raka’at”.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah kebiasaan beliau dalam melewati malam-malamnya sepanjang tahun. Tidak hanya pada malam-malam Ramadhan saja. Adapun dalam hal sedekah, maka beliau adalah manusia yang paling pemurah dan dermawan. Kedermawanan beliau lebih meningkat lagi pada bulan Ramadhan. Ini bukan berarti bahwa beliau hanya dermawan pada bulan Ramadhan saja. Perhatikanlah kata-kata Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhu:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah orang yang paling dermawan, kedermawanan beliau lebih-lebih lagi pada bulan Ramadhan yaitu ketika beliau ditemui jibril. Malaikat jibril senantiasa menemuinya pada setiap malam-malam Ramadhan untuk saling membaca al Qur’an”.
(HR. Buk-hari dan Muslim)

Saudaraku…

Jadilah engkau seorang yang rabbani yaitu orang yang ta’at kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sepanjang hayatnya dan janganlah menjadi seorang yang Ramadhani yaitu orang yang hanya ta’at kepada Allah pada bulan Ramadhan saja.

Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu pernah ditanya tentang seorang yang tekun beribadah hanya di bulan Ramadhan saja, kemudian selepas Ramadhan ia kembali lagi kepada kemaksiatan-kemaksiatannya. Beliau menjawab: “Ia adalah seburuk-buruk orang, yaitu siapa yang mengenal Allah hanya bulan Ramadhan saja”.

Saudaraku…

Ingatlah bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kita setiap saat. Rahmat-Nya selalu tercurah kepada kita setiap waktu. Nikmat dan anugerah-Nya demikian banyak, tidak mampu kita menghitungnya. Bukankah sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menta’ati-Nya setiap waktu?

Saudaraku…

Kitalah yang sebenarnya butuh kepada amal-amal shalih itu, bukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia tidak sedikit pun berhajat kepada keta’atan kita. Kita lah yang sangat butuh untuk menta’ati-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam salah satu hadist qudsi-Nya:

“Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membahayakan Aku dan tidak juga dapat memberi manfa’at kepada-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, andaikata orang yang paling awal dari kalian hingga orang yang paling akhir, semua manusia dan semua jin dalam ketakwaan seperti hati orang yang paling bertakwa diantara kalian. Maka hal itu tidak akan berpengaruh (menambah) sedikitpun kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang paling awal dan orang yang paling akhir, semua manusia dan jin dalam kedurhakaan seperti hati orang yang paling durhaka diantara kalian. Maka hal itu tidak akan berpengaruh (mengurangi) sedikitpun dari kerajaan-Ku”.
(HR. Muslim)

Saudaraku…

Renungkanlah hadist qudsi di atas engkau akan tahu. Betapa faqirnya kita kepada Allah dan betapa kayanya Dia dari seluruh makhluk-Nya. Sungguh, kitalah yang butuh kepada-Nya, berharap akan kasih sayang (rahmat) Nya. Ingatlah, rahmat-Nya akan dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Allah berfirman:”Siksaku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”.
(QS. Al A’ra-af: 156)

Saudaraku…

Hikmah disyari’atkannya berpuasa adalah agar kita menjadi insan-insan yang bertaqwa. Lantas dimanakah hikmah itu, jikalau selepas Ramadhan kita meninggalkan kembali ketakwaan kita?

Saudaraku…

Jadikanlah Ramadhan sebagai sebuah sumber mata air yang senan-tiasa mengalirkan airnya yang jernih sepanjang tahun. Janganlah engkau jadikan Ramadhan bagaikan titik-titik embun yang akan menguap tanpa be-kas begitu matahari meninggi.

(Ust. Ibrahim Bafadhal, Lc., M.Pd.I.)

Be Sociable, Share!