Ramalan Dukun “Benar Dan Terbukti”, Bagaimana Hukumnya?

18 Jan 2018Redaksi Konsultasi

Nama : RJ-036 REJA

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum saya mau bertanya, jadi pertanyaan saya gimana kalau ada seorang meramal masa depan seseorang, tapi yang diramal itu benar. Itu termasuk sirik apa dan kenapa yg diramal dia itu benar?

Jawaban:
Percaya kepada peramal dan ramalan adalah perbuatan syirik yang berdosa besar, bagi pelakunya ada dua rincian hukum, yaitu :

Pertama: Apabila hanya sekedar datang kepada peramal, walaupun tidak mempercayai ramalan tersebut atau tidak membenarkannya, maka itu tetap haram. Akibat perbuatan ini, sholatnya tidak diterima selama 40 hari.

Nabi shollallohu’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.”
(HR. Muslim)

Ini akibat dari cuma sekedar mendatangi peramal.

Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh An Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima sholatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun sholat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban sholatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi sholatnya.” (Syarh Muslim)

Kedua: Apabila sampai membenarkan atau meyakini peramal dan ramalan tersebut, maka telah berbuat kekufuran.

Nabi shollallohu’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.”
(HR. Ahmad)

Dan jika ternyata apa yang dikatakan oleh peramal adalah benar, maka kebenaran itu adalah apa yang telah dicuri oleh syetan dari langit yang disampaikan ke para dukun dan peramal. Dan satu kebenaran dicampur dengan 100 kebohongan.

Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسٌ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَيْسَ بِشَيْءٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا مِنْ الْجِنِّيِّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ -رواه البخاري

Diriwayatkan oleh Aisyah rodhiyallohu’anha, saat para sahabat bertanya kepada Rosûlulloh shollallohu’alaihi wasallam tentang dukun. Jawab beliau shollallohu’alaihi wasallam: “Tidak perlu percaya,” lalu sahabat bertanya lagi: “Wahai, Rosûlulloh shollallohu’alaihi wasallam. Sesungguhnya mereka kadang-kadang memberitahu kita sesuatu yang benar terbukti?” Jawab Rosûlulloh shollallohu’alaihi wasallam: “Itu adalah sebuah kalimat yang benar yang dicuri oleh Jin, lalu ia bisikkan ke telinga pembantunya (dukun), kemudian ia campur dengan seratus kebohongan”
(HR. Bukhori)

Dalam lafazh yang lain berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَنْزِلُ فِي الْعَنَانِ وَهُوَ السَّحَابُ فَتَذْكُرُ الْأَمْرَ قُضِيَ فِي السَّمَاءِ فَتَسْتَرِقُ الشَّيَاطِينُ السَّمْعَ فَتَسْمَعُهُ فَتُوحِيهِ إِلَى الْكُهَّانِ فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ- رواه البخاري

Dari Aisyah rodhiyallohu’anha, bahwa ia mendengar Rosûlulloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya malaikat turun ke awan, mereka menceritakan tentang urusan yang telah diputuskan Alloh di langit. Kemudian setan-setan mencuri dengar lalu mereka mendengar urusan tersebut, setelah itu mereka sampaikan kepada para dukun. Mereka mencampurinya dengan seratus kebohongan dari diri mereka sendiri”.
(HR. Bukhari)

Dalam hadits ini dijelasan bahwa yang dikatakan sang dukun dan peramal bisa saja terbukti, namun bila dibanding dengan kebohongannya sungguh lebih banyak, yaitu satu berbanding seratus. Adapun kebenaran yang pernah terbukti dalam perkataan dukun dan peramal tidak bisa dijadikan alasan untuk menerima dan mempercayai semua berita yang dikatakannya. Karena kalau semua perkataannya bohong pasti tidak ada yang percaya dukun dan peramal. Beginilah cara setan melakukan tipu dayanya untuk menyesatkan manusia. Yaitu dengan menyamarkan antara yang hak dengan yang batil, antara yang benar dengan yang salah.

Wallohu’alam..

Be Sociable, Share!