Rahasia Diturunkannya Adam Ke Bumi

8 Apr 2014Redaksi Kisah Inspiratif
Judul di atas merupakan sub judul dari kitab Miftahu Daar as Saadah yang sebagian besar isinya aka dikutip agar kita semua memahami, bahwa Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), adalah dzat yang maha sempurna dengan segala kehendak dan perbuatanNya, semua ketetapannyaadalah tepat, semua hukumnya adalah adil, walaupun sebagian besar manusia tidak mengetahui hikmah dari segala irodah dan takdirnya. Dalam menjelaskan rahasia diturunkannya Adam ke Bumi (alam dunia) Ibnul Qoyim al Jauziyah raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) berkata :

Sesungguhnya, Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menurunkan Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him), bapak manusia, dari surga adalah karena hikmah-hikmah yang tidak mampu dipahami akal dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Karena turunnya Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him). dari surga merupakan esensi kesempurnaan-Nya agar dia kembali ke surga dalam kondisi yang terbaik. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) ingin membuat Adam dan keturunannya merasakan kehidupan dunia dengan segala kesusahan, keresahan, dan kesulitan di dalamnya, yang semua itu menjadi standar masuknya mereka ke surga di akhirat kelak. Dan, kebaikan sesuatu akan tampak melalui lawannya. Seandainya mereka hidup di surga, maka mereka tidak akan dapat mengetahui agungnya surga. Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) ingin memerintah, melarang, dan menguji mereka, sedangkan surga bukanlah tempat untuk menerima beban taklif (perintah &larangan), karena itu Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menurunkan mereka ke bumi.

Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menawarkan kepada mereka sebaik-baik balasan, yang tidak mungkin diperoleh tanpa ada perintah dan larangan. Di samping itu, Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) ingin memilih di antara mereka para nabi, rasul, wali, dan syuhada yang Dia cintai serta mereka mencintai-Nya. Maka, Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) membaurkan mereka dengan musuh-musuh-Nya, dan menguji mereka dengan musuh-musuh itu. Tatkala mereka lebih memilih Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), mengorbankan jiwa dan harta mereka demi keridhaan dan kecintaan-Nya, maka mereka memperoleh kecintaan, keridhaan, dan kedekatan dengan-Nya, yang tidak mungkin diraih tanpa pengorbanan tersebut. Kerasulan, kenabian, syahid, cinta, marah, keberpihakan kepada wali-wali-Nya dan membenci musuh-musuh-Nya karena Dia semata, merupakan derajat yang paling mulia di sisi-Nya. Semua ini tidak mungkin terwujud kecuali dengan cara yang telah diatur dan diputuskan-Nya. Yaitu, menurunkan Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him) ke bumi dan menjadikan kehidupannya serta kehidupan anak-cucunya di dalamnya.

Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menciptakan Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him) dari segenggam materi yang diambil dari semua zat bumi. Bumi yang mengandung zat baik, buruk, lapang, keras, mulia, dan jahat. Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) mengetahui bahwa di punggung Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him) ada keturunannya yang tidak layak tinggal bersamanya di surga sebagai alam kenikmatan. Karena itu, Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menurunkannya ke bumi, di mana kebaikan dan keburukan dikeluarkan dari tulang sulbinya. Lalu Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memisahkan keduanya dan masing-masing Dia tempatkan di tempat yang berbeda. Maka, Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menjadikan orang-orang baik sebagai teman dan sahabat Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him) di surga kelak, dan menjadikan orang-orang yang jahat sebagai penghuni neraka, tempat orang-orang yang menderita dan orang-orang jahat. Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman,

“Supaya Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memisahkan golongan yang buruk dari yang baik dan menjadikan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu semuanya ditumpukannya dan dimasukkannya ke dalam neraka Jahanam. (Mereka itulah orang-orang yang merugi).” (al-Anfal: 37)

Karena Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) tahu bahwa dari keturunan Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him) ada yang tidak layak tinggal bersamanya di surga, maka Dia menurunkan Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him) dan keturunannya ke tempat di mana orang-orang yang tidak layak tinggal di surga itu dipisahkan, lalu dimasukkan ke tempat yang sesuai dengan mereka. Semua itu terjadi karena hikmah-Nya yang agung dan kehendak-Nya yang sempurna. Demikianlah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Tatkala Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman kepada para malaikat,“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Para malaikat pun bertanya,

“Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.” (al-Baqarah: 30)

Maka, Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menjawab pertanyaan itu dengan berfirman,“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah: 30)

Kemudian Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) pun menampakkan ilmu-Nya kepada hamba-hamba dan malaikat-Nya. Dia menjadikan di atas bumi ini orang-orang yang istimewa; yaitu para rasul, para nabi, dan para wali. Juga orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengorbankan jiwa melawan syahwat dan hawa nafsu demi cinta dan ridha dari-Nya. Mereka meninggalkan semua yang mereka cintai untuk mendekatkan diri kepada-Nya, mereka melawan hawa nafsu demi mencari keridhaan-Nya, dan mereka mengorbankan jiwa dan raga demi menggapai cinta-Nya.

Maka, Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memberi mereka keistimewaan dengan sebuah pengetahuan yang tidak dimiliki para malaikat. Mereka selalu bertasbih dengan memuji-Nya siang-malam. Mereka senantiasa menyembah-Nya meskipun hawa nafsu, syahwat, dan godaan jiwa serta musuh-musuh mereka selalu merongrongnya. Sedangkan para malaikat, mereka menyembah Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) tanpa ada tantangan yang menghadang, tanpa ada syahwat yang menggoda, dan tanpa ada musuh yang semena-mena, karena ibadah para malaikat kepada Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) seakan menyatu dengan jiwa mereka. Di samping itu, Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) ingin menampakkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, perihal musuh-musuh-Nya, pembangkangan mereka, dan ketakaburan mereka terhadap perintah-Nya. Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) juga ingin menampakkan usaha musuh-musuh-Nya itu dalam menentang keridhaan-Nya.

Dan sebelumnya, semua itu tersembunyi dan tidak diketahui oleh bapak manusia dan bapak jin. Oleh karenanya, Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menurunkan mereka ke bumi, dan di sana Dia memperlihatkan apa yang sebelumnya hanya diketahui oleh-Nya. Maka, nyata dan sempurnalah kebijaksaanan serta perintah-Nya, dan pengetahuan-Nya pun menjadi tampak oleh para malaikat.

Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) mencintai orang-orang yang sabar, orang-orang yang berbuat baik, orang-orang yang bersatu untuk berperang di jalan-Nya, orang-orang yang bertobat, orang-orang yang bersih, dan orang-orang yang bersyukur. Kecintaan Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) adalah kemuliaan yang paling tinggi. Karena itu, dengan hikmah-Nya Dia menempatkan Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him) dan keturunannya di suatu tempat, di mana kecintaan Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) itu dapat terwujud. Dengan demikian, diturunkannya Adam dan keturunannya ke bumi ini adalah nikmat yang paling tinggi bagi mereka. Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman,

“Dan Allah menentukan siapa yang dikehendakinya untuk diberi rahmat dan Allah mempunyai karunia yang sangat besar.” (al-Baqarah: 105)

Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) juga ingin mengambil dari keturunan Adam orang-orang yang Dia bela, Dia kasihi serta Dia cintai, dan mereka juga mencintai-Nya. Kecintaan mereka kepada-Nya merupakan puncak kehormatan dan kemuliaan. Derajat yang mulia ini tidak mungkin terealisasi tanpa adanya keridhaan dari-Nya dengan mengikuti perintah-Nya, serta meninggalkan keinginan hawa nafsu dan gejolak syahwat yang dibenci oleh-Nya, Zat yang mereka cintai. Maka, Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menurunkan mereka ke bumi ini, di mana mereka menerima perintah dan larangan untuk mereka taati. Sebab itu, mereka memperoleh kemuliaan cinta dari-Nya. Itulah kesempurnaan hikmah dan kasih sayang-Nya, Dia Yang Maha Baik lagi Maha Penyayang.

Karena Allah telah menciptakan makhluk-Nya secara berjenjang dan berjenis-jenis, dan dengan hikmah-Nya Dia mengutamakan Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him) beserta keturunannya atas seluruh makhluk-makhluk-Nya, maka Dia menjadikan penyembahan (‘ubudiyyah) mereka kepada-Nya sebagai derajat yang paling mulia. Yaitu ‘ubudyiyah yang mereka lakukan sesuai keinginan dan pilihan mereka sendiri, bukan karena keterpaksaan. Sebagaimana diketahui, Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) telah mengutus Jibril kepada Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) untuk memberinya pilihan; antara menjadi seorang raja dan nabi, atau menjadi seorang hamba dan nabi. Lalu Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) memandang Jibril 'alayhi'l-salām (peace be upon him) seolah berkonsultasi kepadanya, dan Jibril mengisyaratkan supaya beliau bersikap tawadhu. Kemudian beliau bersabda, “Saya memilih menjadi seorang hamba dan nabi.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim tentang syafaat Nabi saw. dan penolakan para nabi untuk memberi syafaat serta perkataan Almasih 'alayhi'l-salām (peace be upon him)“Pergilah kepada Muhammad, seorang hamba yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang”, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). memperoleh kedudukan yang paling agung ini, karena kesem-purnaan penghambaan beliau dan sempurnanya pengampunan Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) atas beliau. Jika kehambaan (‘ubudiyyah) di sisi Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memiliki kedudukan yang sedemikian rupa tingginya, maka hikmah-Nya menghendaki untuk menempatkan Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him) dan keturunannya di suatu tempat, yang di dalamnya mereka memperoleh kedudukan tinggi tersebut yang bisa dicapai dengan kesempurnaan ketaatan dan kedekatan mereka kepada Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), serta karena kecintaan Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) kepada mereka. Juga karena mereka meninggalkan segala yang mereka suka demi kecintaannya kepada Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Inilah kesempurnaan nikmat dan kebaikan Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) kepada mereka. (Red-HASMI)