Perjanjian Hudaibiyah

21 Feb 2014Redaksi Sejarah Islam

Perjanjian Hudaybiyah

Perjajian Hudaibiyah terjadi pada tahun ke-6 Hijriyah. Latar belakang peristiwa ini adalah mimpi Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) memasuki Baitulloh yang mulia bersama para sahabat dalam keadaan aman, sebagian mereka bercukur rabut dan sebagian yang lain memotong seluruh rambut, tanpa ada rasa takut.

Setelah mimpi itu, Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) segera memerintahkan kepada para sahabat dari golongan Anshor dan Muhajirin keluar menuju Baitulloh untuk melaksanakan umroh dan bukan untuk perang. Para sahabat segera bergegas menuju ke Mekah karena rasa rindu mereka yang begitu mendalam ingin melihat Baitulloh yang mulia, karena sebelumnya mereka dilarang memasuki Makkah selama enam tahun. Sebagian orang-orang arab badui pun ikut menyertai Rosullulloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan para sahabat ke Mekah.

Kurang lebih jumlah rombongan kaum Muslimin yang keluar ketika itu sebanyak 1500 orang, mereka tidak membawa senjata perang, kecuali hanya sebilah pedang dalam sarungnya untuk mengembala hewan kembalaan.

Dalam perjalanannya Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) menggiring binatang-binatang ternak unta dan kambing untuk dijadikan hadyu (sembelihan). Sesampainya di Dzul Hulaifah Rosululloh  dan para sahabat melakukan ihrom (niat) umroh, hal ini dilakukan agar orang-orang arab pada umumnya dan orang Quroisy pada khususnya mengetahui bahwa tujuan Rosululloh  ke Mekah hanya untuk melakukan umroh.

Ketika rombongan sampai di Asafan, seorang laki-laki datang menghadap Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan mengabarkan kepada Beliau : “Sungguh orang-orang Quroisy di Mekah telah mengetahui kedatangan engkau ke Mekah, oleh karena itu dengan mengunakan kulit harimau seraya bersumpah dengan nama Alloh , engkau dan para sahabatmu tidak akan dapat memasuki Mekah.” Setelah mendengar perkataan laki-laki itu, Rosululloh  bersabda: “Betapa kasihannya orang-orang Quroisy itu, sungguh mereka telah mabuk perang. Apa yang akan menimpa mereka jika mereka membiarkan aku berurusan dengan semua orang Arab. Jika mereka mencelakakanku, maka itulah yang mereka mau. Dan jika Alloh  menolong aku atas mereka, mereka boleh masuk Islam dengan berbondong-bondong. Tetapi jika mereka tidak menginginkan demikian, mereka boleh berperang, karena mereka mempunyai kekuatan. Apa yang mereka sangkakan? Demi Alloh  aku akan terus berjuang membela agama Alloh  hingga Alloh  memenangkanku atas mereka atau aku mati.”

Ketika beliau  sampai di Hudaibiyah dating lagi utusan dari bani Khuza’ah menghadap Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) menanyakan apa maksud kedatangan Beliau ke Mekah? Beliau  menjawab bahwa kedatangan Beliau  ke Mekah hanya untuk umroh dan bukan untuk perang.

Setelah para utusan itu mendapatkan jawaban dari beliau , segera mereka mengabarkan kepada Quroisy tentang maksud tujuan Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) itu.

Lalu Quroisy mengutus seorang utusan bernama Urwah bin Mas’ud as-Tsaqofi untuk merundingkan masalah ini. Terjadilah sebuah perundingan antara Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dengan Urwah bin Mas’ud.

Sekembalinya Urwah bin Mas’ud as-Tsaqofi kepada Quroisy, dia menceritakan kepada Quroisy bahwa ia menyaksikan peristiwa yang sangat menakjubkan, ia melihat betapa besarnya cinta sahabat kepada Rosululoh , betapa besarnya pengagungan sahabat kepada beliau , tidak ada seorang raja pun di dunia melebihi cinta dan pengagungan sahabat kepada beliau . Ia melihat tidak ada air liur yang keluar dari mulut beliau yang mulia, kecuali sahabat memperebutkannya, tidak ada air wudhu yang jatuh dari jasad beliau kecuali sahabat memperebutkannya.

(Red-HASMI/Abdurrohim Lc)