Peristiwa Pembantaian Bi’r Ma’unah

7 Feb 2014Redaksi Sejarah Islam

peristiwa bir ma'unah

Sebuah peristiwa tragis menimpa kaum Muslimin. 70 orang dari kalangan Sahabat Nabi pilihan yang merupakan para qurro` (ahli membaca al-Qur`an, yakni ulama) dibantai dengan hanya menyisakan satu orang saja. Peristiwa ini mengguratkan kesedihan yang mendalam pada diri Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Beliau pun mendoakan kejelekan kepada para pelakunya selama satu bulan penuh. Inilah awal mula adanya Qunut Nazilah.

Latar Belakang

Pada bulan Shofar tahun keempat hijriah, peristiwa ini terjadi ketika itu datang Abu Barro` ‘Amir bin Malik menemui Rosululloh di Madinah, kemudian oleh beliau diajak memeluk Islam. Ia tidak menyambutnya, namun juga tidak menunjukkan sikap penolakan dan permusuhan.

Kemudian Abu Barro` ‘Amir bin Malik berkata: “Wahai Rosululloh, seandainya engkau mengutus sahabat-sahabatmu kepada penduduk Najd untuk mengajak mereka kepada Islam, aku berharap mereka akan menyambutnya.”

Beliau ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) menjawab: “Aku mengkhawatirkan perlakuan penduduk Najd atas mereka.”

Abu Barro` segera menimpali : “Aku yang menjamin mereka.” Jawabnya.

Setelah merasa sedikit tenang dengan jaminan yang diberikan oleh Abu Barro’, kemudian Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) mengutus 70 orang sahabat ahli baca al-Qur`an, termasuk pemuka kaum Muslimin pilihan. Rombongan ini dipimpin oleh al-Mundzir bin Amr dari Bani Sa’idah. Mereka berjalan bersama Abu Barro’ di siang hari, sepanjang perjalanan mereka selalu membeli makanan dan dibagikan kepada penduduk yang mereka lewati seraya membacakan al-Qur’an kepada penduduk tersebut, pada malam harinya mereka tiba di sebuah tempat bernama Bi`r Ma’unah, sebuah daerah yang terletak antara wilayah Bani ‘Amir dan kampung Bani Sulaim. Setibanya di sana, mereka mengutus Harom bin Milhan, saudara Ummu Sulaim bintu Milhan untuk membawa surat Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) kepada musuh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) yakni ‘Amir bin Thufail. Namun ‘Amir bin Thufail tidak menghiraukan surat itu, ia tak mau membacanya bahkan memberi isyarat agar seseorang membunuh Harom. Lantas Harom pun ditikam dari belakang. Ketika Harom melihat darah, dia berkata: “Allohu Akbar, Demi Robb Ka’bah, aku telah beruntung.”

Kemudian ‘Amir bin Thufail menghasut orang-orang Bani ‘Amir agar memerangi rombongan Sahabat Nabi lainnya, namun mereka menolak karena adanya perlindungan Abu Barro` yang sebelumnya telah menjamin keselamatan orang-orang muslim. Diapun menghasut Bani Sulaim dan ajakan ini disambut oleh ‘Ushaiyyah, Ri’l, dan Dzakwan. Merekapun datang mengepung para Sahabat Rosululloh n lalu membunuh mereka kecuali Ka’b bin Zaid bin an-Najjar yang ketika itu terluka dan terbaring berpura-pura mati bersama jenazah lainnya. Dia selamat dan hidup hingga terjadinya peristiwa Khandaq.

Salah seorang sahabat yang bernama ‘Amr bin Umayah tidak dibunuh, melainkan ditawan oleh Amir bin Ath-Thufail. Setelah Amr memberitahu bahwa ia berasal dari bani Mudhar, maka iapun dibebaskan, disamping karena ada budak wanita yang memberi pembelaan kepada Amr bin Umayah.

Setelah dibebaskan, akhirnya ‘Amr bin Umayah pun segera pergi ke Madinah untuk memberitahu Rosululloh tentang peristiwa yang menimpa 70 orang Sahabat Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Jumlah korban ini sama dengan jumlah korban perang Uhud, Hanya saja dalam perang Uhud para Sahabat jelas pergi untuk berperang, akan tetapi pada peristiwa ini mereka telah dikhianati.

Balas dendam yang salah sasaran

Dalam perjalanannya ke Madinah, ia beristirahat di bawah pohon. Tak lama kemudian ada dua orang dari bani Kilab yang juga beristirahat di bawah pohon tersebut. Setelah kedua orang itu tertidur, maka ‘Amr bin Umayah segera membunuh kedua orang itu, ia merasa puas karena merasa dapat membalas rekan-rekannya yang telah terbunuh. Hal ini ia lakukan karena ia mengira kedua orang itu termasuk para pengeroyok yang menyebabkan meninggalnya 70 Sahabat Nabi. Padahal dua orang itu tidak tahu apa-apa, ditambah lagi kabilah kedua orang itu memiliki perjanjian damai dengan Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Ini jelas kesalahan yang fatal.

Setibanya di Madinah, ‘Amr segera memberitahu tentang peristiwa pembantaian yang dialami para Sahabat dan tentang dua orang bani Kilab yang berhasil ia bunuh di bawah pohon. Maka Nabi pun bersabda: “Engkau telah membunuh dua orang, berarti aku harus memberi tebusan”. Dan tanpa diduga, timbul kemarahan dari bani kilab sehingga pecahlah perang bani Nadhir yang akan diuraikan pada edisi mendatang Insya Alloh.

Kisah ini pun dikutip oleh Ibnu Hajar raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) dalam Fathul Bari berdasar-kan kisah yang disebutkan al-Imam al-Bukhori dalam shohihnya.

Qunut Nazilah

Tragedi ini membuat Nabi sangat terpukul, beliau amat sedih dan berduka.

Akhirnya Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) melakukan qunut selama sebulan mendoakan kejelekan terhadap orang-orang yang membunuh para penghafal Qur’an dari kalangan sahabat-sahabat beliau di Bi`r Ma’unah. Belum pernah para sahabat melihat Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) begitu berduka dibandingkan ketika mendengar berita ini.

Al-Imam al-Bukhori menceritakan dari Anas bin Malik berkata : “Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) qunut selama satu bulan ketika para qurro` itu terbunuh. Dan aku belum pernah melihat Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) begitu berduka dibandingkan ketika kejadian tersebut.”

Faidah Siroh

1)    Jangan mudah percaya dengan orang kafir, karena mereka menghalalkan segala cara untuk mengalahkan kita.

2)    Membunuh orang kafir yang berada dalam perjanjian damai adalah terlarang.

3)    Dari kisah ini, ulama beristimbat tentang syari’at qunut nazilah di setiap sholat lima waktu ketika terjadi musibah yang menimpa kaum muslimin, sebagaimana yang dilakukan oleh Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Dan beliau lakukan itu selama satu bulan, mendoa-kan kejelekan terhadap Bani Lihyan, ‘Ushoiyyah dan lain-lain. Ini diriwayatkan juga oleh al-Imam Ahmad dan lainnya dari hadits Anas bin Malik: “Bahwasanya Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) qunut selama satu bulan lalu meninggalkannya.”

Wallohu a’lam (Red-HASMI/IH/Yusuf Supriadi)