PERANG MU’TAH
Oleh: Nurdin Syahid, S.Pd.I.
Pertempuran ini merupakan pertempuran yang cukup menegangkan di masa Rosululloh ﷺ, sekaligus merupakan pendahuluan dan jalan pembuka untuk menaklukkan negeri-negeri Nashrani, yang terjadi pada bulan Jumadil Ula 8 H, bertepatan dengan bulan Agustus atau September 629 M.
Mu’tah adalah sebuah dusun sebelum masuk wilayah Syam. Dari tempat Baitul Maqdis bisa ditempuh perjalanan kaki selama dua hari.
Bermula ketika Rosululloh ﷺ mengutus salah seorang sahabatnya yaitu Al-Harits bin Umair untuk mengantar surat kepada pemimpin Bushra. Namun di perjalanan dia dihadang oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani, pemimpin Al Balaqa’ yang termasuk dalam wilayah Syam dan di bawah pemerintahan Qaishar. Syurahbil mengikat Al-Harits dan membawanya ke hadapan Qaishar, lalu dia memenggal lehernya. Sontak saja Rosululloh ﷺ sangat murka mendengar kejadian tersebut. Tidak heran jika kemudian beliau menghimpun pasukan yang jumlahnya mencapai tiga ribu prajurit untuk melancarkan serangan kepada pihak musuh.
Rosululloh ﷺ menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Beliau bersabda, “Apabila Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far. Apabila Ja’far gugur, penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.” Bendera perang berwarna putih diserahkan kepada Zaid bin Haritsah. Setelah pasukan Islam sudah siap berangkat, orang-orang datang mengerumuni mereka, memanggil para komandan pasukan yang ditunjuk Rosululloh ﷺ dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Pada saat itu, salah seorang dari tiga komandan pasukan, Abdullah bin Rawahah, menangis.
“Mengapa engkau menangis?” tanya mereka. Abdullah bin Rawahah menjawab, “Demi Alloh, aku menangis bukan karena cinta dunia dan rindu kepada kalian, tetapi aku pernah mendengar Rosululloh ﷺ membaca ayat dari sebuah kitab Alloh, yang di dalamnya disebutkan neraka, ‘Dan tidak ada seorang pun di antara kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal ini bagi Robbmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan.’ Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku setelah aku meninggal nanti.”
Mereka berkata, “Alloh tentu menyertai kalian dengan keselamatan, melindungi kalian, dan mengembalikan kalian kepada kami dalam keadaan baik dan memperoleh harta rampasan.”
Kemudian mereka berangkat dan Rosululloh ﷺ mengantarkan mereka hingga Tsaniyatul Wada’. Beliau berhenti di sana dan mengucapkan selamat jalan.
Orang-orang muslim tak pernah membayangkan bahwa mereka akan berhadapan dengan pasukan sebesar itu, yang datang di daerah yang jaraknya cukup jauh. Apakah pasukan sekecil ini yang berkekuatan tiga ribu prajurit harus berperang dengan musuh yang amat besar dengan kekuatan dua ratus ribu prajurit? Pasukan muslimin benar-benar bingung. Mereka terus menimbang-nimbang masalah dan bertukar pikiran. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengirim surat kepada Rosululloh ﷺ mengenai jumlah kekuatan mereka. Entah Beliau akan mengirim bala bantuan ataukah memerintahkan strategi lain dan mereka siap untuk menjalankannya. Tetapi Abdullah bin Rawahah menentang pendapat ini, beliau mengatakan bahwa umat Islam harus terus berjuang, karena Allah akan senantiasa membantu dan menolong para tentaranya.
Akhirnya diambil keputusan secara bulat seperti yang disampaikan oleh Abdullah bin Rawahah.
Akhirnya pasukan muslimin pun bergerak mendekati musuh. Musuh juga semakin dekat sedangkan pasukan kaum muslimin membelok arah ke arah Mu’tah dan bermarkas di sana. Mereka bersiap-siap untuk melakukan serangan. Sayap kanan dipimpin Quthbah bin Qatadah dan sayap kiri dipimpin oleh Ubaidah bin Malik.
Di Mu’tah itulah kedua pasukan saling berhadapan dan pertempuran pun mulai berkecamuk. 3000 prajurit Muslimin harus menghadapi gempuran musuh yang berkekuatan 200.000 prajurit, sungguh pertempuran langka yang disaksikan oleh dunia dengan rasa heran dan gelengan kepala.
Pertama yang memegang bendera adalah Zaid bin Haritsah. Dia bertempur dengan gagah berani dan heroik. Dia terus menerus bertempur hingga akhirnya terkena tombak musuh dan tersungkur, mati syahid.
Selanjutnya bendera diambil alih oleh Ja’far bin Abu Thalib. Dia juga bertempur dengan gagah berani, hanya ada bandingnya. Ketika pertempuran semakin seru, dia terlempar dari atas kudanya dan kudanya terkena senjata. Selanjutnya dia masih saja meneruskan pertempurannya hingga kedua tangannya terputus terkena sabetan pedang musuh, walaupun demikian dia masih saja berusaha melawan dan memegang bendera pasukan muslimin dengan dililitkan ke tubuhnya. Tapi akhirnya beliau pun gugur di tangan musuh.
Setelah Ja’far bin Abu Thalib gugur, bendera diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah. Dia maju ke depan sambil naik kudanya. Tetapi setelah itu beliau turun dari kudanya dan bertempur dengan musuh hingga dia gugur.
Kemudian Khalid bin Al Walid mengambil bendera, dia bertempur dengan hebat dan gagah berani.
Seperti apapun keberanian dan patriotisme yang dimiliki, rasanya sangat aneh jika pasukan yang terlalu kecil dapat memperoleh keberhasilan dan mampu bertahan menghadapi segelar pasukan Romawi yang amat besar, bak hamparan lautan. Akhirnya Khalid bin Al Walid pun mengatur strategi untuk dapat mengalahkan musuhnya. Adalah dengan membalikkan/memutar posisi pasukan antara posisi depan dengan belakang.
Sontak saja kejadian ini membuat pasukan musuh ketakutan, karena mereka menganggap pasukan kaum muslimin mendapat bantuan pasukan. Akhirnya pasukan muslimin dapat mengundurkan diri secara perlahan-lahan sambil menjaga komposisi pasukan. Pasukan Romawi tidak mengejar, karena mengira bahwa pasukan Muslimin membuat satu tipuan dan sengaja menarik mereka ke tengah padang pasir lalu melancarkan serangan balik di sana dengan jumlah pasukan yang tidak mereka perkirakan. Akhirnya pasukan Romawi pun meninggalkan medan pertempuran dengan segera, tanpa mampu membawa “oleh-oleh” kisah pertempuran yang bisa mereka banggakan.
Sekalipun orang-orang Muslim tidak dapat melancarkan serangan balasan, tetapi peperangan ini tetap meninggalkan pengaruh yang positif, dengan mengangkat pamor kaum muslimin. Semua orang Arab berdecak kagum dan keheranan karenanya. Karena hanya 12 orang yang gugur dari pihak kaum muslimin dalam peperangan itu.
Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0007 Rubrik Kisah Ghozuwah
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami