Merebaknya Peradaban Hewani

26 Mar 2014Redaksi Rehat Sejenak

Manusia merupakan makhluk yang mulia, mulia sejak awal penciptaan. Kemudian mulia dari kesempurnaan tubuhnya, dan mulia dari tugas yang Alloh Swt. berikan kepada manusia sebagai Khalifah fi Al-Ardh (pemakmur bumi). Adapun seluruh makhluk yang ada dimuka bumi adalah Al-Makhluf (yang dikuasai oleh manusia), bahkan seluruh manusia telah dipersiapkan oleh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) untuk menjadi pelayan bagi manusia, dan penunjang dalam kehidupan manusia.

Diantara karakteristik dari manusia yang membedakannya dengan makhluk selain manusia :
1. Manusia telah diciptakan dengan fisik yang sangat mulia.
2. Manusia telah dimuliakan oleh Alloh dari seluruh makhluknya.
3. Manusia telah diciptakan memiliki akal yang mampu memahami setiap nama yang telah Alloh ajarkan kepada manusia.
4. Manusia telah menjadi  “tuan” bagi setiap makhluk dimuka bumi ini.

Maka manusia adalah makhluk yang lebih MULIA dari hewan, walapun pada kenyataannya banyak manusia yang tunduk dan sujud kepada hewan, kita sebut saja ritual ngarak kebo bule yang menjadi sebuah rutinitas yang tidak berhenti sampai saat ini, ini menunjukkan kebodohan manusia terhadap dirinya sendiri yang telah dimuliakan oleh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He).

Dalam penciptaan awalnya hewan tidak diberikan akal oleh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), hewan hanya beraktifitas dengan insting yang Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) ciptakan baginya. Perbuatan dan perilaku yang dilaksanakannya merupakan prilaku yang telah diperintahkan oleh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) kepadanya. Berbeda dengan manusia yang telah diberikan ilham untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, diberikan pentunjuk untuk berada dalam kebaikan dan kebenaran, sehingga Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) mengutus para utusan-Nya dari kalangan manusia untuk meluruskan yang bengkok, dan menjelaskan yang samar bagi manusia, adapun hewan hanya hidup sesuai dengan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menciptakan mereka.

Manusia memiliki peradaban, sedangkan hewan tidak memiliki peradaban. Peradaban adalah sebuah kumpulan dari konsep kehidupan, jika ia seorang manusia makan konsep kehidupan adalah konsep kemanusiaan. Konsep kehidupan itu terdiri dari unsur akidah, akhlak dan syari’ah, dalam hal ini seluruh konsep kehidupan tersebut telah diatur dalam Islam. Dan setiap peradaban yang tidak memiliki konsep kehidupan yang tidak Alloh Swt. turunkan maka sama saja seseorang berperadaban hewani. Hal ini dipertegas oleh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dalam surat Al-‘Araaf [7], ayat 179:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayat-ayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah] dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakan untuk mendengar [ayat-ayat Allah]. Mereka itu seperti binatang ternakan, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Ibn Katsir raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) dalam tafsirnya menyebutkan kenapa seorang manusia akan disamakan dengan binatang jika ia tidak mau menggunakan indrawinya untuk memahami ayat-ayat Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) :

a. Manusia yang tidak peduli dengan ayat-ayat Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) sama seperti hewan gembalaan yang dipanggil oleh pengembalanya, dimana hewan gembalaan tersebut tidak bisa memahami apa yang diucapkan oleh pengembalanya yang dikenal hanyalah suaranya saja tanpa memahami apa yang dimaksud oleh pengembalanya.

b. Adapun jika seekor hewan gembalaan menuruti apa yang diintruksikan oleh majikannya maka hal tersebut berindikasi karena, hewan tersebut dipaksa untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh majikannya, atau secara tabiat hewan tersebut mengerjakan perintah majikan dikarenakan kebiasaan dilakukan hewan tersebut. Maka sangatlah hina seorang manusia ketika Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berbicara (kalam) dalam Al-Qur’an melalui lisan para Nabi-Nya yang seluruhnya adalah manusia, mereka mengacuhkan dan tidak memperdulikannya, padahal seorang manusia mampu memahami dengan jelas ajakan dari para utusan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) tersebut, maka manusia seperti ini lebih sesat dari pada hewan.

Jika berangkat dari ayat diatas maka pada hakikatnya setiap peradaban yang tidak menyandarkan seluruh konsep kehidupannya dengan konsep Al-Qur`an dan Hadis adalah peradaban hewani, karena inti dari sebuah peradaban manusia adalah mengembalikan seluruh konsep kehidupannya kepada agamanya.

Diantara contoh dari fenomena peradaban hewani adalah :

a.  Dijadikan hewan sebagai ilah (sesembahan) :

Beberapa kisah para Nabi dan Rasul telah memberikan sebuah tentang konsep keberagamaan para umat terdahulu yang menjadikan hewan sebagai tuhan bagi kehidupan mereka. Bahkan sampai hari ini kita masih bisa mendapatkan manusia-manusia yang menjadi hewan-hewan sebagai tuhan dengan memanggil mereka dengan nama-nama yang mereka buat sendiri. Seperti dalam keyakinan Hindu hingga sekarang, sapi kerap dianggap sebagai hewan suci, sapi dianggap sebagai hewan yang menjaga kelestarian alam semesta, dan dalam keyakinan  hindu sapi merupakan hewan yang memiliki energi dari dewa Khrisna, sehingga begitu sucinya sapi dikalangan penganut agama Hindu, menjadikan jumlah populasi sapi lebih banyak daripada manusia di India.

b. Berprilaku seperti hewan.

Jika seorang manusia dikatakan mirip hewan tentunya pasti marah, tapi pada kenyataannya banyak manusia yang memiripkan dirinya dengan hewan. Dalam peradaban eropa aktifitas keseharian mereka sangat identik dengan hewan, hal yang sangat terlihat adalah kehidupan mereka yang seluruh dihabiskan untuk menggapai kesenangan dan pemuasan hawa nafsu mereka. Contohnya adalah dalam hubungan pria dan wanita dikalangan mereka. Bagi mereka antara pria dan wanita tidak memiliki batasan yang tegas, bahkan seorang pria dan wanita dapat berhubungan secara intim walaupun belum terikat dengan ikatan pernikahan. Banyak pasangan yang telah memiliki anak dari hasil hubungan mereka tanpa melalui pernikahan, yang sering dipanggil pola hubungan seperti ini dengan istilah “Kumpul Kebo”.

Dan adalah sebuah kelaziman dikalangan wanita-wanita mereka untuk menyerahkan “keperawanan” mereka pada saat usia menginjak 17 tahun kepada para kekasih mereka, menjadi sebuah aib jika lebih dari 20 tahun keperawanan mereka masih terjaga.

c. Memakan makanan seperti hewan

Peradaban hewan adalah peradaban yang tidak mementingkan halal dan haram dalam kehidupan. Nilai dari seluruh komsumtif makanan adalah kesenanganan dan kepuasan tanpa melihat unsur-unsur yabng terdapat didalamnya. Dalam sebuah negara bahkan telah menjadikan “Yang Haram” menjadi kewajiban untuk beraktifitas. Lihat saja negara-negara eropa yang menjadikan “memakan dan meminum yang haram” menjadi budaya mereka. Seperti di Jepang meminum alkohol yang dikenal dengan sake menjadi sebuah tradisi dalam menyambut tamu, sake sendiri merupakan minuman alkohol dari fermentasi beras, sedangkan kadar alkoholnya lebih dari 20%. Sake juga dikonsumsi saat upacara kagami biraki, untuk merayakan festival shinto, pernikahan, pembukaan toko, olahraga, dan kemenangan pemilu. Sake perayaan ini dibagikan secara gratis untuk semua orang untuk menyebarkan nasib baik.

(Red-HASMI)