Meniti Islam Dengan Ittiba`

8 May 2014Redaksi Muslimah Shalehah

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Katakanlah (wahai muhamad): “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), ikutilah aku, niscaya Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imron[3]: 31)

Saudara-saudariku kaum Musli-min Muslimah yang berbahagia..!!

Hasan al-Bashri raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) mengatakan: “Ada suatu kaum yang mengaku mencintai Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Sebab itu, Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) hendak menjadikan bukti kebenaran pengakuan mereka itu dengan fakta amal, sehingga Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menurunkan ayat ini”. (HR. Ibnu Abi Hatim, Fathul Bari: 10/558)

Ya…, cinta kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) yang merupakan wujud keislaman akan sah dan benar dengan syarat ittiba’ kepada Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Demikian pula sejarah kebangkitan atau keterpurukan umat manusia berporos di pusaran berittiba atau sebaliknya.

Lihatlah terpuruknya umat Nabi Nuh  'alayhi'l-salām (peace be upon him)! Terpuruk karena rasa kagum dan ta’zhim kepada para tokoh-tokoh mereka diungkapkan bukan dalam bingkai ittiba’, tapi murni rasa dan keinginan manusia. Ungkapan rasa kagum dan ta’zhim yang dirasa dan di pikir manusia adalah sah dan benar, tapi ternyata batal dan syi-rik menurut bingkai ittiba’.

Begitu juga tegaknya kebangkitan umat, kemuliaan di akhirat kelak dan benteng dari berbagai fitnah yang menerpa serta meraih ampunan dari Alloh  Yang Maha Ghofur terwujud dengan ittiba`. Alloh  berfirman:

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul  takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”.(QS. an-Nur [24]: 63)

Wujud Ittiba’

Wujud Ittiba’ dalam ruang lingkup aqidah, ibadah, akhlak dan pensucian jiwa serta pendekatan diri kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) harus dilakukan dalam bingkai-bingkai kaidah berikut:

1) Abdulloh bin Mas’ud raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) berkata : “Kami diperintah untuk iqtida’ (menaulada-ni), bukan ibtida’ (meng-konsep baru), ittiba’ (me-napaktilasi), bukan ibtida’ (menjalani cara baru)”. (Sya-rah Ushul al-I’tiqod, al-Lalikai: 1/86)

2) Pondasi bangunan Islam dibentuk di atas wahyu dan penukilan sumber yang shohih (benar), bukan hanya rasionalitas dan hasil analisa. Perintah dan larangan apa saja yang datang dari Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan Rosul-Nya wajib segera diterima dan dijalankan untuk dilakukan atau ditinggalkan. Sahabat mulia Ali bin Abi Thalib raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) berkata:

“Seandainya agama murni rasionalitas, niscaya mengusap bagian bawah sepatu khuf lebih pantas daripada bagian atasnya”. (HR. Ah-mad: 1267 dan Abu Daud: 162, para tokoh pembawa sanadnya tsiqot (terpercaya).

3) Seorang Muslim wajib mengkaji dan meneliti hukum syara’ sebelum mela-kukan suatu amal dalam setiap sisi kehidupannya. Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) mengingatkan dalam sabdanya:

“Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan syari`at tanpa ada satuan aturannya dari Kami (Rosululloh ), niscaya amal itu ditolak.” (HR. Muslim: 1718)

4) Arti Ittiba’ kepada Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) berarti mengamalkan semua sisi kandungan wahyu yang ada dalam al-Qur`an al-Karim dan Hadits-hadits shohihnya yang mulia. Beliau  mengingatkan:

“Ketahuilah!  Sesungguhnya aku diberikan al-Kitab dan yang semisa bersamanya”. (HR. Ahmad: 4/131)

5) Jenis ibadah yang beliau tinggalkan, tidak diamalkan. Padahal tak ada situasi kondisi yang menghalangi untuk diamalkan. Melakukan hal itu berarti bid’ah. Imam Malik  raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) berkata:

“Apa saja yang di saat Beliau  hidup bukan bagian dari agama, maka saat ini pun tak mungkin jadi ba-gian agama”. (al-Itishom, asy-Syathibi: 1/49)

6) Setiap masalah ushuluddin dan berbagai cabang agama, baik berkaitan tentang ibadah dan muamalah, maupun di situasi tempur dan aman, baik dalam bidang politik maupun ekonomi telah dijelaskan oleh syari’at dengan terang dan jelas.

7) Sikap ittiba’ dalam setiap amal peribadatan tak dapat terwujud kecuali setelah sesuai dengan syari`at dalam keenam komponennya: sebab dilakukannya, jenisnya, kadar atau ukurannya, cara atau metodenya, waktu pelaksanaannya, serta tempat dilaksanakannya.

8) Dasar pelaksanaan ibadah bagi seorang mukallaf adalah ta`abbudi (sikap pengabdian) dan imtitsal (sikap menjunjung tinggi perintah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)), bukan karena memiliki hikmah dan kandungan manfaatnya.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukminah, apabila Alloh  dan rosul-Nya  telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) ten-tang urusan mereka.  Dan ba-rangsiapa mendurhakai Alloh  dan rosul-Nya  maka sungguh-lah dia telah sesat, dengan ke-sesatan yang nyata”. (QS. al-Ahzab [33]: 36)

Meniti Islam hanya bisa benar dan shohih jika melalui jalur dan bingkai ittiba’ (mengikuti) cara beragama dan menerapkan Islam Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan para sohabatnya raḍyAllāhu 'anhum (may Allāh be pleased with them). Jika tidak, maka akan terjadi keterpurukan, ketergelinciran, penyelewengan pengabdian dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat.

(Red-HASMI)