Menanamkan Keteguhan Dalam Hidup

16 Jun 2017Redaksi Materi

Menanamkan Keteguhan Dalam Hidup – Para sahabat Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam adalah para pemilik keimanan sejati. Mereka selalu membingkai kehidupan mereka, hanya dikenal satu istilah, “Mati syahid atau hidup mulia.”

Diriwayatkan bahwa, seorang sahabat Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam, yaitu Abdulloh rodhiyallohu’anhu berkata, “Aku pernah melakukan sebuah pertempuran bersama Miqdad bin Al-Aswad, sungguh. Menjadi sahabatnya lebih aku sukai daripada beserta orang lain, baik yang sebanding dengannya sekalipun. Beliau pernah datang kepada Nabi sholallohu’alaihi wasallam yang sedang berdo’a atas kekalahan bagi orang-orang musyrik. Lalu beliau berkata, “Demi Alloh wahai Rosululloh, kami sama sekali tidak akan mengatakan sesuatu seperti yang pernah dikatakan oleh bani Israil kepada Musa:

“…Karena itu pergilah kamu bersama Rabb-mu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah: 24)

Akan tetapi, kami berjuang di sisi kananmu, di sisi kirimu, di depanmu dan dibelakangmu.” Lalu aku melihat Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam dengan wajah yang sangat ceria karena gembira dengan perkataan tersebut.

Saudaraku…

Burung-burung itu pergi mengepakkan sayapnya dari tempat perhelatannya menuju tempat peraduannya. Mereka tak tahu dimana akan mendapat makanan untuk memenuhi perut atau setetes air untuk anak-anak mereka. Namun, mereka pergi begitu saja, karena percayanya mereka kepada Robb pemberi rizki yang Maha Adil, Alloh subhanahu wata’ala yang pasti tidak akan salah di dalam memberikan rizkinya kepada mereka. Maka, “…Dia (Alloh) memberi rizki kepada burung, yaitu keluar dengan perut kosong di pagi hari dan kembali dengan perut kenyang di sore hari.” (QS. At-Tirmidzi)

Burung itu, setiap harinya hanya menceritakan tentang kisah pendek di sekitar kita. Dia hanya terbang di atas kepala kita, hinggap, terbang dan pergi entah kemana. Kita pun terkadang, tak peduli terhadapnya. Namun dalam kisah pendek itu, burung itu telah bercerita dengan penuh makna kepada kita, bahwa apa pun yang terajdi, bagaimana pun keadaannya, pastilah Alloh subhanahu wata’ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya.

Sepotong kisah burung telah memberi kedalaman makna tentang ketawakalan, keteguhan dan kepercayaan tentang takdir Alloh subhanahu wata’ala atas setiap hamba-Nya kepada kita. Kisah pendek namun penuh makna.

Namun aneh. Hari-hari kita dipenuhi oleh kisah-kisah panjang. Episode dengan epik yang beraneka ragam. Kesempatan banyak fasilitas akal diberikan. Keinginan hati dihidupkan. Mata dan telinga dianugerahkan sebagai pasangan serasi yang tak pernah mendustai jiwa. Kurang apa lagi?

Namun pada akhirnya, episode-episode panjang yang kita perankan tidak pernah ada satu pun yang lebih bermakna dari sekedar kisah pendek sang burung. Hari-hari kita lebih panjang daripada gerbong kereta api, namun tidak ada satu pun gerbongnya yang hendak kita bawa sampai akhir stasiun terpenuhi amal kebaikan, apalagi amal unggulan, bahkan kita, lebih banyak mengangkat di atas gerbong itu dengan amal tanpa niat yang jadinya kelelahan dan niat tanpa ikhlas tanpa tahqiq (teralisasi) yang jadinya ghutsaa (buih).

Bukankah seperti itu gerbong yang kita bawa saat ini? Apakah hari-hari buih itu yang sedang kita jalani saat ini? Cobalah tengok, tengok dan tengok lagi. Lalu ucapkanlah, Astagfirulloh…”

Saudaraku…

Alangkah indahnya, sebuah kematian yang mengesankan jejak hidup yang menjadi pelajaran kebaikan bagi mereka yang masih menjalani hidup. Alangkah gembiranya, bila kematian kita menyisakan kesan dari amal-amal saleh yang bermanfaat, yang dapat dipetik serta dapat dicontoh bagi orang lain.

Di akhirat kelak, tak ada sesuatu yang paling disesali penghuni surga kecuali penyesalan mereka terhadap waktu yang hilang di dunia tanpa diisi amal soleh. Dan tak ada yang paling disesali oleh penghuni neraka melainkan teman yang jahat, serta keimanan yang dicampakkan dan amal yang disepelekan.

Lalu bagaimanakah dengan kita, dibandingkan dengan Abu Bakar yang sudah di jamin surga tetapi masih menginginkan menjadi sebatang pohon agar tidak mendapat balasan atas perbuatannya di akhirat kelak, “Inginnya aku menjadi sebatang pohon yang dikunyah, lalu dimakan.” Begitu kata beliau.

Tapi, kita terlalu jauh dibanding Abu Bakar, teralalu naïf kalau bersanding dengan beliau. Tapi kita memang lebih naïf. Ihwal kita tampak lebih gagah memandang dunia. Bukannya memandang dunia seolah lalat yang tak perlu dikejar, namun sebaliknya, kita memandangnya seolah lalat yang tak perlu ditakuti.

Saudaraku…

Maknailah hidup kita dengan makna yang setinggi-tingginya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Miqdad yang membuat Rasululloh  tersenyum lega,”…Akan tetapi, kami berjuang di sisi kananmu, di sisi kirimu, di depanmu dan dibelakang-mu…”

Kanan-kiri, depan- belakang adalah wilayah perjuangan yang mesti kita persembahkan untuk dien ini. Dalam setiap lini seharusnya kita dapat mewarnai kehidupan kita dengan makna yang tertinggi, yaitu perjuangan. Dan hanya dengan perjuangan membela agama-Nya sajalah kita akan mendapat pertolongan.

Alloh subhanahu wata’ala berfiman:

“… Kami akan menolong kalian dan mengkokohkan kaki-kaki kalian.”

Namun dengan syarat:

“Jika kalian menolong agama Alloh…”  (QS. Muhammad: 7). □

 

Wallahua’lam

Be Sociable, Share!