Membongkar Gerakan Rahasia Militan Ikhwan Ash-Shafa

30 Apr 2014Redaksi Konspirasi

Dalam banyak literatur di Indonesia, khususnya dalam bidang pemikiran, pendidikan dan filsafat, gerakan rahasia militan Ikhwān ash-Shafā’ yang berarti persaudaraan dalam kemurnian atau persaudaraan suci, seringkali didefinisikan dengan “sangat datar” dan tidak mampu mengungkap apalagi menyingkap jati diri mereka yang bukan hanya penuh “teka-teki” namun benar-benar diselimuti “rahasia gelap”. Di antara literatur tersebut, Ikhwan ash-Shafa’ didefinisikan sebagai “Salah satu organisasi yang didirikan oleh sekelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Sebagai perkumpulan atau organisasi yang bersifat rahasia, Ikhwan ash-Shafa memfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Organisasi ini juga mengajarkan tentang dasar-dasar Islam yang didasarkan oleh persaudaraan Islamiyah (ukhuwwah Islamiyyah), yaitu sikap yang memandang iman seseorang Muslim tidak akan sempurna kecuali ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”. (Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, hlm. 181)

Benarkah demikian? Atau, sudah cukup memadaikah definisi dan gambaran tersebut?alam banyak literatur di Indonesia, khususnya dalam bidang pemikiran, pendidikan dan filsafat, gerakan rahasia militan Ikhwān ash-Shafā’ yang berarti persaudaraan dalam kemurnian atau persaudaraan suci, seringkali didefinisikan dengan “sangat datar” dan tidak mampu mengungkap apalagi menyingkap jati diri mereka yang bukan hanya penuh “teka-teki” namun benar-benar diselimuti “rahasia gelap”. Di antara literatur tersebut, Ikhwan ash-Shafa’ didefinisikan sebagai “Salah satu organisasi yang didirikan oleh sekelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Sebagai perkumpulan atau organisasi yang bersifat rahasia, Ikhwan ash-Shafa memfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Organisasi ini juga mengajarkan tentang dasar-dasar Islam yang didasarkan oleh persaudaraan Islamiyah (ukhuwwah Islamiyyah), yaitu sikap yang memandang iman seseorang Muslim tidak akan sempurna kecuali ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”. (Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, hlm. 181)

Berikut upaya sederhana untuk mengungkap dan menyingkap jati diri Ikhwan ash-Shafa’ sebagai gerakan bawah tanah (rahasia) yang memiliki militansi kuat dan bahaya laten yang senantiasa “menunggu” untuk “menebar” ancamannya.

Hakekat Ikhwan ash-Shafa’

Muhsin Labib (tokoh Syi’ah Indonesia yang lama mengenyam pendidikan pesantren atau hauzah ilmiah di Qom Iran) memper-kenalkan Ikhwan ash-Shafa’ dalam buku sakunya sebagai “Organisasi gerakan politik keagamaan yang beranggotakan para filosof dan pemikir Syi’ah, yang didirikan pada abad ke-4 H/10 M di kota Basra… Ada yang mengenal kelompok ini sebagai ikatan para pemikir intelektual yang menyebarkan filsafat dan sains dengan cara memadukan syariat dengan filsafat Yunani… Tokohnya antara lain adalah Abu Hayyan at-Tauhidi, Abu Sulaiman bin Ma’syar al-Basti, Abul Hasan Ali bin Harun az-Zanjani, Abu Ahmad al-Maharjani al-Ufi, Zaid bin Rifa’ah, Ibnu Maskawaih ar-Razi, Isa bin Zar’ah dan Abul Wafa al-Buzjani.”.[1]

Sedangkan WAMY (World Assembly of Moslem Youth) mendefinisikan Ikhwan ash-Shafa’ dengan “Gerakan rahasia berhaluan kebatinan yang mencampuradukkan (mengga-bungkan) filsafat Yunani dan keyakinan aliran kebatinan dengan aqidah Islamiyah dalam kesatuan kontradiktif  dan konfrontatif yang dipaksakan. Dari sinilah bermula gerakan kebatinan (batiniyah) yang kemudian secara masif dipropa-gandakan oleh para penganut Syi’ah dan tasawuf falsafi dalam mengemas dan menyebarkan berbagai pemikiran dan ajaran mereka kepada kaum Muslimin.”.[2]

Sumber Kesesatan Ikhwan ash-Shafa’

Menurut penelitian Seyyed Hossein Nasr (tokoh Syi’ah pengusung pluralisme agama) yang getol mengkaji pemikiran Ikhwan ash-Shafa’, setelah menerjemahkan magnum opus karya mereka, al-Rasā’il (atau Rasā’ilIkhwān ash-Shafā’) men-jelaskan bahwa sumber utama pe-mikiran mereka berasal dari empat buku, yaitu:

  • Buku pertama berisi ilmu-ilmu matematika dan kealaman yang dibangun oleh orang-orang bijak dan para filosof.
  • Buku kedua terdiri dari kitab-kitab wahyu seperti Taurat, Injil, al-Qur’an dan lembaran-lembaran catatan lain yang dibawa oleh para nabi melalui malaikat wahyu.
  • Buku ketiga tentang alam yang merupakan gagasan-gagasan Plato dan para pengikutnya (Platonik) mengenai susunan benda-benda langit, pemba-gian zodiak, gerak bintang dan lain sebagainya.
  • Buku keempat adalah buku-buku ilahiah (teologi) yang hanya diketahui orang-orang suci dan malaikat yang dekat dengan makhluk-makhluk pilihan dan jiwa-jiwa yang mulia lagi suci.[3]

Tujuan Rahasia Ikhwan ash-Shafa’

Gerakan Ikhwan ash-Shafa’muncul pertama kali di Basra pada pertengahan abad ke-4 H.

Mereka telah menyusun tulisan yang jumlahnya tidak sedikit, terhitung sekitar 50-an yang meliputi berbagai bidang filsafat, baik filsafat praktis maupun teoritis, khususnya aliran Neo-Platonik, yang terhimpun dalam sebuah ensiklopedi berjudul Rasā’ilIkhwān ash-Shafā’.

Ensiklopedi tersebut dikategorikan sebagai program kerja rahasia mereka yang memiliki satu tujuan dan misi khusus, yaitu untuk menghan-curkan Islam dan meluluh-lantakkan negara Islam. Untuk kemudian membangun negara mereka yang menggabungkan berbagai keyakinan syirik (paganisme) dan Majusi serta mengusung permisifisme (ibāhiyyah).[4]

Varian Kesesatan Ikhwan ash-Shafa’

Di antara bentuk kesesatan Ikhwan ash-Shafa’ adalah:

  • Mengadopsi paham wihdah al-wujūd (manunggaling kawula gusti).
  • Berpaham, bahwa “seorang imam adalah tuhan secara fisik dan ia adalah orang yang terbebas dari dosa atau kesalahan (ma’shūm).
  • Mengusung penyatuan agama-agama (wihdah al-adyān).
  • Menghapus fanatisme ber-agama (ta’ashshub dīnī), berdasarkan klaim bahwa orang-orang pilihan yang khusus tidak membutuhkan agama dan harus terbebas dari keterikatan syariat, kecuali kaum awamnya saja.
  • Mereka sangat meyakini bahwa ilmu memiliki dua domain; domain batin (esoteris) dan zhahir atau lahir (eksoteris).[5]
Kesimpulan

Dari pemaparan singkat tentang Ikhwan ash-Shafa’ dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Ikhwan ash-Shafa’adalah sebuah gerakan rahasia yang militant, bahkan mereka lebih suka merahasiakan identitas dirinya.
  2. Ikhwan ash-Shafa’adalah gerakan rahasia kebatinan dari kaum Syi’ah, sekte Isma’iliyah, atau gerakan rahasia yang berpaham “campur sari”, atau gerakan rahasia yang penuh misteri.
  3. Kesesatan Ikhwan ash-Shafa’terangkum dalam empat buku utamanya, pada intinya ajaran mereka tidak berdasarkan kepada al-Qur’an dan ajaran Islam sama sekali.
  4. Di antara varian kesesatan Ikhwan ash-Shafa’; berpaham wihdah al-wujūd, mengusung pluralisme dan mendakwahkan liberalisme melalui tafsir batin atau esoterik, yang sekarang marak dikaji oleh para Liberalis.

==============================

[1]Lihat Muhsin Labib, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Jakarta: Penerbit al-Huda, 2005, hlm. 100-101.

[2] WAMY, al-Mausū’ah al-Muyassarah fī al-Adyān wa al-Madzāhib wa al-Ahzāb al-Mu’āshirah,ed, Maini’ bin Hammad al-Juhni, Riyadh: Dār an-Nadwah, 1418 H, hlm. 960.

[3]Lihat Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam 1, Bandung: Penerbit Mizan, 2003, vol. 1, hlm. 276.

[4] WAMY, al-Mausū’ah al-Muyassarah, hlm. 960.

[5] Ibid. Lihat pula Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, Bandung: Mizan, 2002; M.M. Syarif (ed.), Aliran-Aliran Filsafat Islam, Bandung: Nuansa Cendekia, 2004; Labib, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra; Nasr dan Leaman, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam.