Korbankan Harta dan Jiwamu

28 Feb 2014Redaksi Jalan Da'wah

Men Leading Camels in Desert

Ajaib dan sungguh menakjubkan! Mungkin Anda akan berdecak takjub membaca kisah-kisah aspek pengorbanan jiwa dan harta para sahabat di jalan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Mereka memberikan harta untuk tegaknya agama Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) sebagaimana orang yang tidak takut miskin. Sebab mereka yakin bahwa betapapun sedikit apa yang mereka infakkan, niscaya Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) akan menggantinya untuk mereka di dunia dan mereka akan mendapatkan pahala yang melimpah di akhirat.

Mereka adalah makhluk Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) yang paling dermawan dan pemurah, baik jiwa maupun tangannya mereka korbankan demi berkibarnya panji-panji tauhid di muka bumi. Telapak tangan mereka ibarat awan yang mengirimkan kebaikan. Mereka saling berlomba mendermakan harta dan jiwa guna tersebarnya risalah Islam di penjuru dunia. Mereka pemilik hati-hati yang lapang, yang jauh dari sifat kikir dan bakhil.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memuji aspek jihad Rosululloh  beserta para sahabat di jalan-Nya dan pengorbanan mereka berupa jiwa serta hartanya. Maka merekapun memperoleh balasan melimpah dan janji mulia dari Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berupa surga yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Tetapi Rosul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. Alloh telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. at-Taubah (9): 88-89)

Kemenangan besar yang diperoleh para sahabat  adalah masuk ke dalam surga. Sungguh banyak ayat yang menerangkan janji Alloh  kepada mereka berupa surga, seperti firman-Nya:

“Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Alloh.” (QS. al-Fath [48]: 5)

Saudaraku…lihatlah kepada khidmah Abu Bakar ash-Shiddiq  untuk kejayaan umat. Tangannya laksana hujan yang menguyurkan derma. Bahkan ia lebih cepat dari badai ketika berderma. Ia diberi gelar ‘Atiq karena ketampanan wajahnya. Ia pun diberi gelar as-Shiddiq karena kepribadiannya yang selalu membenarkan risalah yang dibawa Rosululloh . Ia adalah manusia yang paling dermawan kepada Rosululloh  dalam persahabatan dan hartanya.

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

(( إِنَّ مِنْ أَمَنًّ النَّاسِ عَلَىَّ فِى صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً غَيْرَ رَبِّى لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ ))

“Sesungguhnya manusia yang paling dermawan kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mangambil kholil (kekasih) selain Robbku, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar.” (HR. al-Bukhori)

Sungguh pengorbanan Abu Bakar raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) sangat luar biasa. Ia rela berkorban dengan jiwa dan harta bendanya. Kegigihan dan daya upayanya secara optimal dan maksimal dalam mempersembahkan Islam  disebabkan keimanannya yang memancar dari lubuk hatinya.

Marilah kita perhatikan sisi pengorbanan harta bendanya untuk Islam. Umar bin Khoththob  pernah bercerita. Ia berkata, “Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) memerintahkan kami untuk bershodaqoh, dan saat itu aku ingin bershodaqoh dengan harta yang aku miliki. Aku berkata dalam hati: “Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar, maka aku datang kepada Rosululloh  dengan membawa separoh hartaku.  Rosululloh  bertanya: “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Aku menjawab: “Sama dengan yang aku berikan wahai Rosululloh. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya, maka Rosululloh bertanya: “Ya Abu Bakar, apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Abu Bakar menjawab: “Aku tinggalkan bagi mereka Alloh dan Rosul-Nya. Maka Umar pun berkata: “Aku tidak pernah mengalahkan engkau selama-lamanya.”

Saudaraku…  Abu Bakar raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) adalah seorang yang kaya raya karena ia pandai berbisnis. Sungguh, saat beliau masuk Islam memiliki kekayaan yang mencapai empat puluh ribu dirham. Akan tetapi ketika beliau memegang jabatan sebagai khalifah, maka seluruh kekayaannya didermakan untuk kepentingan kaum Muslimin. Sungguh saat beliau wafat tidak menyisakan kekayaannya sedikitpun sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her).

Lihatlah kepada pengorbanan sahabat mulia seorang “milyuner” yang senantiasa istighfar dialah Abdurrohman bin ‘auf  raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him). Ia seorang saudagar kaya raya akan tetapi senantiasa beriman dan bertakwa. Kekayaannya tidak melalaikan peribadahan kepada Robbnya. Harta dan jiwanya dikorbankan demi kejayaan Islam. Dialah seorang sahabat yang tak rela dan tak sudi kehilangan surga akhiratnya hanya karena kemegahan dan kemewahan dunia yang fana. Dialah pengusaha yang berhasil di dunia dan akhirat.

Pada suatu hari tibalah kafilah perniagaan yang sangat besar. Kafilah milik Abdurrohman bin ‘Auf raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him). Jumlahnya mencapai 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya sehingga memenuhi jalan-jalan Madinah dan membuat sibuk penduduknya. Mereka saling memanggil untuk menyaksikan apa yang terjadi. Melihat keramaian dan kesibukan penduduk Madinah, Ibunda kaum Mukminin, ‘Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) berkata : “Kafilah yang membuat semua kesibukan ini?” “Benar, ya Ummul Mukmin…karena ada 700 kendaraan..!” Ummul Mukminin menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil melayangkan pandangannya jauh menembus seolah-olah hendak mengingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya. Beliau  berkata: “Ingat…! aku pernah mendengar Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda : “Kulihat Abdurrohman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan!”.

Sebagian sahabat menyampaikan perkataan ‘Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) kepadanya, maka ia pun teringat sering mendengar kalimat itu dari Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan sebelum tali temali perniagaan dilepaskan, ia mengarahkan langkahnya menuju rumah Ummul Mukminin lalu berkata kepadanya, “Anda telah mengingatkan saya perkataan kekasih kita yang tak pernah saya lupakan. Dengan ini saya berharap dengan sangat anda menjadi saksi bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut dengan kendaraan dan perlengkapannya saya persembahkan di jalan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)..!”

Saudaraku…   Mungkin akan timbul pertanyaan pada benak kita masing-masing, apa yang harus kupersembahkan untuk Islam? Apa yang akan kuperoleh bila berjuang untuk Islam? Bagaimana aku berjuang untuk Islam?

Saudaraku…  Berjuang untuk agama adalah sebuah cita-cita yang sangat agung dan merupakan tujuan sangat mulia bagi orang yang ridho kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) sebagai Robbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) sebagai Rosul dan Nabinya. Berjuang untuk Islam tidak terbatas bagi para ulama, para ahli fiqih, ahli hadits dan tidak terbatas pada orang-orang yang kaya raya. Apapun profesi yang kita sandang saat ini, baik seorang  dokter, dosen, guru, karyawan, buruh, pedagang maupun yang lainnya pada hakikatnya memiliki kesempatan dan peluang emas guna berjuang dan berkhidmah untuk Islam.

Pintu-pintu perjuangan untuk kejayaan Islam sangat banyak lagi beragam. Kita dapat masuk dari pintu mana saja yang sesuai dengan kemampuan kita baik dengan harta, waktu, pikiran dan potensi diri kita. Bagi anda pemilik harta, infakanlah harta anda di jalan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Janganlah anda takut fakir dan miskin, sebab harta yang anda belanjakan pasti Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) lipatgandakan di dunia dan akhirat. Bagi anda pemilik ilmu, sebarkan dan dakwahkan ilmu anda. Satu objek dakwah yang anda seru, lalu ia mengamalkannya niscaya anda memperoleh pahala seperti pahala yang ia amalkan. Bagaimana dengan dua, tiga, empat, lima atau lebih banyak dari itu? Bagi anda pemilik ide kreatif dan inovatif, tuangkan dan torehkan pena anda untuk sumbangsih Islam. Alloh  subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) tak akan menyia-nyiakan jerih payah dan usaha anda. Bahkan pahala tetap mengalir selagi ide dan pikiran anda dimanfaatkan guna kepentingan umat. Bagi anda pemilik tenaga, luangkan tenaga anda untuk investasi pahala akhirat. Bagi anda yang tak memiliki kriteria di atas hendaklah jangan berkecil hati, sebab anda bisa berdoa untuk kejayaan Islam. wallohu a’lam  (Red-HASMI)