KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH (BAGIAN-8)
Oleh: Tim Redaksi HASMI
Konsep 14: Nama Alloh “Al-‘Azim” (العظيم) – Yang Maha Agung dan Dampak Keimanan Kepadanya
Makna dalam bahasa:
Kata dasar عظم (‘azama) dalam bahasa Arab menunjukkan besar, kuat, dan paling utama. Kadang juga bermakna “sebagian besar dari sesuatu”.
Alloh adalah “Al-‘Azim”, yaitu Yang Maha Agung, kuat, dan sempurna dalam segala kesempurnaan-Nya. Alloh Maha Agung dalam Dzat-Nya, dalam nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya:
- Maha Agung dalam rahmat-Nya,
- Maha Agung dalam kekuatan-Nya,
- Maha Agung dalam hikmah-Nya,
- Demikian pula dalam semua sifat kesempurnaan-Nya.
Alloh memiliki kesempurnaan tertinggi dan paling lengkap. Tidak ada makhluk yang pantas diagungkan sebagaimana Alloh diagungkan. Hanya Alloh yang layak menerima pengagungan dari hamba-hamba-Nya melalui:
- Pengetahuan yang mendalam tentang-Nya,
- Cinta kepada-Nya,
- Kerendahan hati dan kepasrahan kepada-Nya,
- Penghormatan dan rasa takut kepada kebesaran-Nya,
- Memuji, bersyukur, dan menyanjung-Nya atas nikmat-Nya.
Dampak dan Manifestasi Keimanan Kepada Nama “Al-‘Azim”
1. Mengenal Alloh secara benar dan mengesakan-Nya dalam ibadah, serta menolak syirik dan sekutu-sekutu bagi-Nya.
2. Khusyu’ dan tunduk kepada-Nya, serta merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya U.
3. Mencintai, menghormati, dan menakuti-Nya.
4. Membenarkan semua nama dan sifat yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya dan yang Rasul-Nya sampaikan, serta menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk.
5. Mengagungkan perintah dan larangan Alloh yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sabda Rasul-Nya ×, tanpa mendahului hukum Alloh dengan pendapat atau ijtihad pribadi. Alloh berfirman:
فَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
(Haji: 30)
“Maka sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
6. Mengagungkan syiar-syiar Alloh, sebagaimana firman-Nya:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
(Haji: 32)
“Dan serukanlah kepada manusia untuk menunaikan ibadah haji; mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan dengan mengendarai unta dari setiap penjuru yang jauh.”
Catatan: Syiar-syiar Alloh meliputi:
- Ibadah haji beserta tempat-tempatnya,
- Shalat beserta masjid-masjidnya, terutama Masjidil Haram dan Masjid Rasul ×,
- Zakat, puasa, jihad di jalan Alloh,
- Amar ma’ruf nahi mungkar, dan semua aspek syariat Islam yang wajib dijalankan oleh umat Islam.
Konsep 15: Nama Alloh «Al-Hayy» (Yang Maha Hidup) dan Dampak Iman Kepadanya
Alloh Subḥānahu wa Ta‘ālā adalah Al-Hayy, Yang Maha Hidup Kekal, yang tidak mungkin mati atau binasa — Maha Suci Alloh dari segala kekurangan. Kehidupan-Nya sempurna dan tidak pernah terpengaruh oleh lelah atau tidur; karena tidur adalah “saudara kematian.” Alloh Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
(Al-Baqarah: 255)
“Alloh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Hidup, Maha Kekal Menjaga (segala sesuatu).”
Rosululloh ﷺ juga bersabda:
إنَّ اللَّهَ لَا يَنَامُ، وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ
(HR. Muslim, 179)
“Sesungguhnya Alloh tidak tidur, dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur.”
Dari sifat Al-Hayy ini, seluruh sifat kesempurnaan berlaku bagi-Nya dan sebaliknya seluruh sifat kekurangan dijauhkan dari-Nya.
Dampak iman kepada nama Alloh «Al-Hayy» antara lain:
1. Tawakkal (Berserah diri) sepenuhnya kepada Alloh Subḥānahu wa Ta‘ālā
Alloh berfirman:
وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
(Al-Furqan: 58)
“Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Alloh.”
Barang siapa yang beriman kepada kehidupan Alloh yang sempurna, yang tidak terpengaruh lelah atau tidur, maka tawakkalnya kepada-Nya menjadi sangat kuat. Alloh menjadi tempat berlindung, penolong, dan sandaran dalam setiap kondisi hidup.
2. Tidak terikat atau tergoda oleh kehidupan dunia yang fana
Karena manusia, seberapa lama pun umurnya, pasti akan mati. Kehidupan yang abadi hanya diberikan oleh Alloh Al-Hayy Al-Qayyūm bagi hamba-hamba-Nya di akhirat. Orang mukmin akan menikmati kenikmatan di surga, sedangkan orang kafir akan disiksa di neraka; kehidupan abadi ini berlangsung selama-lamanya tanpa kematian, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
إِذَا صَارَ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى الْجَنَّةِ، وَأَهْلُ النَّارِ إِلَى النَّارِ، جِيءَ بِالْمَوْتِ، حَتَّى يُجْعَلَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، ثُمَّ يُذْبَحُ، ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُودٌ وَلَا مَوْتَ، يَا أَهْلَ النَّارِ خُلُودٌ وَلَا مَوْتَ، فَيَزْدَادُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَرَحًا إِلَى فَرَحِهِمْ، وَيَزْدَادُ أَهْلُ النَّارِ حُزْنًا إِلَى حُزْنِهِمْ
(HR. Bukhari, 6548; Muslim, 2850)
Artinya: “Ketika penghuni surga telah berada di surga dan penghuni neraka telah berada di neraka, dibawa kematian, lalu disembelih, kemudian seorang penyeru menyeru: ‘Wahai penghuni surga, kekal abadi dan tiada kematian, wahai penghuni neraka, kekal abadi dan tiada kematian.’ Maka bertambahlah kebahagiaan penghuni surga dan bertambahlah kesedihan penghuni neraka.”
Konsep 16: Nama Alloh «القيوم» dan Dampak Iman Kepadanya
Makna “Al-Qayyum”
“Al-Qayyum” artinya Yang Berdiri atas Diri-Nya Sendiri, tidak bergantung pada siapa pun, dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua makhluk selain-Nya sangat membutuhkan-Nya secara mutlak.
(Qiyam-Nya menunjukkan kesempurnaan kekayaan-Nya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya; karena yang berdiri atas diri-Nya sendiri adalah Maha Kaya, tidak membutuhkan siapa pun, sempurna dalam kekuatan, dan yang lain bergantung kepada-Nya.)
Selain itu, “Al-Qayyum” juga berarti Yang Kekal, yang tidak akan binasa.
Dalam Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255), Alloh menggabungkan dua nama: Al-Hayy (الحَيّ) dan Al-Qayyum (القيوم).
- Nama Al-Hayy mencakup sifat-sifat zat Alloh.
- Nama Al-Qayyum mencakup sifat-sifat perbuatan-Nya.
Oleh karena itu, dikatakan bahwa “Al-Hayy Al-Qayyum” adalah Nama Alloh yang Agung (Ism Alloh al-A’dzam) karena mengandung seluruh makna nama dan sifat-Nya.
Dampak Iman Kepada Nama “Al-Qayyum”
1. Mengagungkan dan Mencintai Alloh
Orang yang meyakini bahwa Alloh berdiri atas Diri-Nya sendiri dan semua makhluk bergantung kepada-Nya, niscaya layak untuk dihormati, diagungkan, dan dicintai.
2. Menyadari Ketergantungan Mutlak kepada Alloh
Iman kepada Al-Qayyum membuat seseorang melepaskan ketergantungan pada makhluk yang lemah, dan menyadari kebutuhan mutlaknya kepada Alloh.
-
- Rosululloh ﷺ bersabda:
«يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث»
“Ya Hayyu Ya Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan”
(HR. At-Tirmidzi 3524, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).
3. Perlindungan dan Pemeliharaan Alloh bagi Hamba yang Taqwa
Jika Alloh mengatur seluruh makhluk-Nya, baik yang taat maupun yang durhaka, maka tentu Dia akan menjaga, memelihara, dan melimpahkan kebaikan bagi hamba-Nya yang bertaqwa.
4. Doa yang Dikabulkan Jika Memanggil Nama Alloh yang Agung
Barangsiapa berdoa dengan menyebut nama “Al-Hayy Al-Qayyum”, doanya akan dikabulkan.
-
- Disebutkan dalam hadis:
Seorang lelaki berdoa:
«اللهم إني أسألك بأن لك الحمد، لا إله إلا أنت، المنان، بديع السماوات والأرض، يا ذا الجلال والإكرام، يا حي يا قيوم»
Rosululloh ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya ia telah berdoa dengan Nama Alloh yang Agung, yang jika dipanggil dengannya, Alloh akan mengabulkan, dan jika diminta dengannya, Alloh akan memberi.”
(HR. Abu Dawud 1493; At-Tirmidzi 3475, shahih menurut Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 1326).
5. Rasa Takut dan Khawatir kepada Alloh
Iman kepada Al-Qayyum membuat seseorang sadar bahwa Alloh menguasai setiap jiwa, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.
-
- Alloh berfirman:
وَعَلَى كُلِّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُوَ خَبِيرٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
“Dan atas setiap diri (manusia) ada apa yang telah diperbuatnya, dan Dia Maha
Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ar-Ra’d: 33)
Konsep 17: Asma Alloh “Al-Awwal” dan “Al-Akhir” beserta Dampak Iman Kepadanya
Makna Bahasa dan Istilah:
- Al-Awwal dalam bahasa menunjukkan tempat yang mendahului, keutamaan, atau sesuatu yang datang lebih dahulu sebelum yang lain. Hal ini berlaku baik dalam waktu, tempat, maupun derajat dan kedudukan.
- Al-Akhir adalah kebalikan dari Al-Awwal; yaitu sesuatu yang tidak ada yang mengikuti atau mengakhiri keberadaannya.
Kedua nama ini disebutkan dalam Al-Qur’an secara berpasangan, sebagaimana firman Alloh:
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ﴾ [الحديد: 3]
“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian Dia mengeluarkan kamu sebagai bayi, agar kamu mencapai kedewasaanmu.”
Dalam konteks Alloh:
- Al-Awwal berarti yang tidak ada sebelum-Nya sesuatu pun.
- Al-Akhir berarti yang tidak ada sesudah-Nya sesuatu pun.
Rosululloh ﷺ menjelaskan maknanya dalam doa:
اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدِّينَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ
[HR. Muslim, no. 2713]
“Ya Alloh, Engkaulah Yang Pertama sehingga tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, dan Engkaulah Yang Terakhir sehingga tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu, dan Engkaulah Yang Zahir sehingga tidak ada yang di atas-Mu, dan Engkaulah Yang Batin sehingga tidak ada yang di bawah-Mu, lunakkan urusan kami dan cukupkan kami dari kefakiran.”
Makna Teologis:
- Al-Awwal menunjukkan bahwa segala yang lain selain Alloh adalah makhluk yang terjadi setelah-Nya; Alloh-lah pencipta awal yang mendahului segala sesuatu.
- Al-Akhir menunjukkan bahwa segala makhluk akan mengalami kehancuran atau berakhir, sedangkan Alloh-lah yang kekal, yang tiada akhir bagi keberadaan-Nya.
Catatan:
Beberapa kalangan teolog menyebut Alloh dengan istilah “Al-Qadim” (Yang Kekal/Tanpa Awal) untuk menunjukkan tiadanya permulaan bagi keberadaan-Nya. Makna ini benar secara makna, tetapi istilah tersebut tidak datang secara nash dari Al-Qur’an atau Hadis, sehingga bukan termasuk Asma’ul Husna. Sedangkan “Al-Awwal” lebih sesuai karena termaktub dalam teks syar’i dan bersifat umum dalam bahasa.
Dampak Iman kepada Asma Alloh “Al-Awwal” dan “Al-Akhir”:
1. Ketergantungan hanya kepada Alloh dan melepaskan diri dari ketergantungan pada sebab:
-
- Al-Awwal menuntut kita memahami bahwa nikmat Alloh datang terlebih dahulu sebelum adanya usaha atau hak dari hamba; bahkan sebab-sebab itu sendiri merupakan ciptaan dari kehendak dan karunia-Nya.
- Al-Akhir menuntut kita untuk tidak bersandar pada sebab karena semuanya akan musnah dan lenyap; hanya Alloh yang kekal.
2. Mewujudkan penghambaan dan cinta hanya kepada Alloh:
Alloh sebagai Al-Awwal adalah yang pertama dari mana seluruh makhluk bermula, dan sebagai Al-Akhir adalah tujuan akhir dari seluruh penghambaan, kehendak, dan cinta makhluk. Tidak ada yang disembah selain-Nya.
3. Menyadari Alloh sebagai pemberi sebab dan akibat:
Sebagaimana firman Alloh:
فَهَدَيْنَاهُ أَوَّلًا فَهُدُوا ثُمَّ زَادَهُمْ هُدًى [محمد: 17]
“Maka Kami beri petunjuk kepadanya terlebih dahulu, kemudian mereka mendapat petunjuk lagi.”
Hal ini menunjukkan rahasia dari kedua Asma’ ini, yaitu Alloh-lah yang memulai dan menyempurnakan petunjuk, awal dan akhir dari segala sesuatu.
4. Mewujudkan perlindungan dan permohonan pertolongan hanya kepada Alloh:
Sebagaimana sabda Rosululloh ﷺ:
وأعوذ بك منك [HR. Muslim, no. 486]
“Aku berlindung kepada-Mu dari diriku sendiri (dari keburukanku).”
Alloh sebagai Al-Awwal dan Al-Akhir adalah tempat hamba memohon perlindungan dan pertolongan, karena Dialah awal dan akhir dari segala sesuatu.
Konsep 18: Asma Alloh «Az-Zhahir» (Yang Maha Nyata/ Tampak) dan «Al-Batin» (Yang Maha Tersembunyi) serta dampak iman kepadanya
Alloh Subḥānahu wa Ta‘ālā adalah Az-Zhahir (Yang Maha Nyata) dan Al-Batin (Yang Maha Tersembunyi), sebagaimana firman-Nya:
وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ [الحديد: 3]
“Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.”
Makna ini dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam hadis:
«أنت الظاهر فليس فوقك شيء، وأنت الباطن فليس دونك شيء» [رواه مسلم: 2713]
“Engkau adalah Yang Nyata (Tampak), tidak ada yang di atas-Mu, dan Engkau adalah Yang Tersembunyi, tidak ada yang di bawah-Mu.”
Artinya:
- Alloh Az-Zhahir berada di atas segala sesuatu; tidak ada yang melebihi-Nya. Hal ini menunjukkan kebesaran sifat-sifat-Nya dan kehancuran semua makhluk di hadapan kebesaran-Nya.
- Alloh Al-Batin adalah yang paling dekat dengan hamba-Nya; tidak ada yang lebih dekat kepada seseorang daripada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ [ق: 16]
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
Alloh mengetahui batin, rahasia, dan detail kehidupan makhluk-Nya.
Dampak iman kepada kedua nama mulia ini:
- Mengagungkan Alloh dan memusatkan hati kepada-Nya: Nama Az-Zhahir menunjukkan kebesaran dan kemampuan Alloh atas segala sesuatu, sedangkan nama Al-Batin menunjukkan kedekatan Alloh kepada hamba-Nya dengan kelembutan, rahmat, dan pengaturan yang baik. Hamba merasa Alloh sebagai tempat kembali dan pelindung di segala kondisi.
- Menyadari keterjangkauan Alloh atas seluruh alam: Nama Al-Batin menunjukkan bahwa Alloh mengetahui rahasia dan batin setiap makhluk. Kesadaran ini mendorong hamba untuk membersihkan hatinya karena mengetahui rahasia batin terbuka bagi Alloh, sehingga hatinya menjadi bersih dan tenang.
Konsep 19: Asma Alloh «Al-Haqq» (Yang Maha Benar/ Hakikat) dan dampak iman kepadanya
Al-Haqq adalah lawan dari kebatilan. Nama Alloh Al-Haqq disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an, antara lain:
وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ [يونس: 32]
“Dan aku tidak menjadi pemelihara bagimu.”
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ [طه: 114]
“Katakanlah: ‘Yang benar (Haqq) datang dari Tuhanmu.’”
Dalam hadis disebutkan:
«ولك الحمد أنت الحق، وقولك حق، ولقاؤك حق، والجنة حق، والنار حق، والنبيون حق، ومحمد ﷺ حق» [رواه البخاري: 1120]
“Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Yang Haqq, perkataan-Mu benar, pertemuan-Mu adalah benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, para Nabi adalah benar, dan Muhammad ﷺ adalah benar.”
Perlu diperhatikan bahwa kata Haqq tidak diberi alif lam ketika menyebut Alloh, menunjukkan bahwa ini adalah salah satu nama-Nya.
Alloh Al-Haqq berarti:
- Yang Maha Ada dan nyata hakikat-Nya,
- Yang sempurna dalam keberadaan, sifat, dan nama-Nya,
- Segala perkataan, perbuatan, syariat, dan ibadah kepada-Nya adalah benar, dan hanya Dialah yang berhak disembah.
Dampak iman kepada Asma Al-Haqq:
-
- Menghadirkan cinta dan pengagungan kepada Alloh serta menegaskan keesaan-Nya dalam ibadah.
- Merasakan kegembiraan dan kebahagiaan karena petunjuk menuju Islam sebagai agama Alloh yang benar.
- Merasa ridoi dan tenang ketika mendapat musibah, karena yakin bahwa semuanya terjadi atas ilmu dan hikmah Alloh; tidak ada kebatilan, kekacauan, atau ketidakadilan.
- Tunduk dan patuh kepada hukum syariat, karena mengetahui bahwa semua hukum tersebut adalah benar dan baik dari Alloh.
- Meyakini dan mempercayai semua yang diberitakan Alloh tentang ghaib dan kisah umat terdahulu, karena semua itu benar dan berasal dari Alloh Al-Haqq.
Konsep 20: Nama Alloh “Al-Kabir” dan “Al-Mutakabbir” serta Dampak Iman Kepada-Nya
Nama Alloh (Al-Kabir – Yang Maha Besar) disebutkan dalam Al-Qur’an dalam enam ayat, di antaranya:
- Firman Alloh:
ٱو۟لۡمۡ يَعۡلَمُوا۟ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَظِيمُ ٱلۡعَظِيمُ
[Ar-Ra’d: 9]
“Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Alloh adalah Yang Maha Besar?”
- Firman Alloh:
وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡكَبِيرُ ٱلۡعَظِيمُ
[Ghafir: 12]
“Dan Alloh-lah Yang Maha Besar, Yang Maha Agung.”
Sedangkan nama Alloh (Al-Mutakabbir – Yang Maha Megah / Yang Maha Perkasa) disebutkan dalam firman-Nya:
هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡمُتَكَبِّرُ ٱلۡعَظِيمُ
[Al-Hashr: 23]
“Dialah Alloh, Yang Maha Megah lagi Maha Agung.”
Makna dan Penjelasan
Alloh Subhanahu wa Ta’ala Maha Besar dalam dzat-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Segala sesuatu di alam ini tampak kecil dibandingkan kebesaran-Nya. Karena itu, syariat mewajibkan takbir (mengagungkan Alloh) secara umum dan menyeluruh. Alloh berfirman:
وَلِلَّهِ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
[Al-Muddathir: 3]
“Dan bagi Alloh adalah kebesaran di langit dan di bumi, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Takbir diwajibkan di berbagai kondisi dan momen penting, seperti:
- Awal dan akhir shalat (“Allohu Akbar” saat takbiratul ihram dan tahiyat akhir)
- Dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha)
- Awal dan akhir adzan
- Saat memulai thawaf dan menyentuh/mendekati Hajar Aswad
- Saat naik ke bukit Shafa dan Marwa
- Saat melempar jumrah
- Setelah shalat, bersamaan dengan tasbih dan tahmid
- Sepuluh hari pertama Zulhijjah
- Saat hendak tidur sambil bertasbih dan bertahmid
- Saat berjihad di jalan Alloh
- Ketika melihat tanda-tanda kekuasaan Alloh (ayat-ayat-Nya)
Dari berbagai momen ini, terlihat bahwa takbir bisa dilakukan sebelum atau sesudah ibadah, dalam pertemuan manusia, saat menghadapi musuh, atau saat menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Alloh. Semua ini menegaskan bahwa segala sesuatu, baik manusia, kekayaan, atau kekuatan, adalah kecil di hadapan Alloh Yang Maha Besar.
Makna Nama Al-Mutakabbir
Nama Al-Mutakabbir mengandung makna yang serupa dengan Al-Kabir, yaitu:
- Mengagungkan Alloh dan menyanjung-Nya, menjauhkan dari segala cela.
- Menjauhkan Alloh dari segala ketidakadilan; Dia tidak menzalimi siapa pun.
- Menjauhkan Alloh dari kesamaan dengan makhluk-Nya dalam sifat-sifat-Nya.
- Mengungguli manusia yang sombong dan tiran; mereka tidak mampu menolak ketetapan-Nya, termasuk menghancurkan mereka jika Alloh menghendaki dengan hikmah dan ilmu-Nya.
Dampak Iman Kepada Al-Kabir dan Al-Mutakabbir
- Hati dipenuhi kerendahan diri di hadapan Alloh dan kepatuhan terhadap perintah dan hukum-Nya.
- Takut kepada Alloh, mengagungkan-Nya, dan malu dari-Nya, yang menumbuhkan ketakwaan dan menjauhi dosa.
- Keyakinan bahwa tidak ada orang sombong atau tiran yang dapat menandingi Alloh; Alloh akan menghancurkan mereka sesuai hikmah-Nya di dunia dan akhirat. Hal ini menumbuhkan ketenangan, tidak terpesona oleh kekuatan kafir atau keangkuhan manusia, dan menyerahkan urusan kemenangan kepada Alloh setelah berusaha sesuai sebab dan syaratnya.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala adalah Yang Maha Besar dan Maha Tinggi.
- Kesungguhan dalam Berdakwah kepada Alloh dan Menanggung Bebannya
Seorang da’i (penyampai dakwah) harus bersungguh-sungguh dalam menyeru kepada Alloh dan siap menanggung berbagai kesulitan dan beban yang timbul darinya. Hal ini karena dakwah kepada Alloh adalah pekerjaan yang lebih besar daripada segala kesusahan dan tantangan yang dihadapi oleh orang yang berdakwah.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala disebut dengan nama “Al-Kabir Al-Mutakabbir” (Alloh Yang Maha Besar dan Maha Megah), yang menunjukkan bahwa pekerjaan dakwah, walaupun penuh tantangan, tetap berada di bawah kekuasaan dan kemuliaan-Nya yang agung. Menyadari kebesaran Alloh akan menumbuhkan keteguhan hati dan kesabaran dalam menghadapi ujian dakwah.
Dalil dari Al-Qur’an tentang kebesaran Alloh antara lain:
1. Alloh Maha Besar (Al-Kabir):
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا [الرعد: 9]
Artinya: “Alloh Maha Besar, Yang Maha Agung.”
2. Alloh Yang Maha Megah (Al-Mutakabbir):
وَهُوَ الْكَبِيرُ الْمُتَكَبِّرُ [غافر: 12]
Artinya: “Dan Dia-lah Yang Maha Besar lagi Maha Megah.”
Dengan memahami dan meyakini sifat Alloh ini, seorang da’i akan terdorong untuk tidak takut pada kesulitan, karena semua yang dihadapi berada di bawah pengawasan dan kemahakuasaan Alloh yang agung. Kesungguhan dan ketekunan dalam dakwah merupakan bentuk penghormatan terhadap kebesaran Alloh dan pengakuan atas tanggung jawab yang mulia ini.
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami