KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH / BAGIAN-7 (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH (BAGIAN-7)

Oleh: Tim Redaksi HASMI

Ketujuh: Konsep tentang Tauhid Asma’ wa Sifat (Nama dan Sifat Alloh)

Konsep 1: Prinsip dalam Nama dan Sifat Alloh

Prinsip pokok dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Alloh adalah: mengesahkan apa yang Alloh tetapkan bagi diri-Nya sendiri dan apa yang Rasul-Nya tetapkan bagi-Nya, tanpa menyerupakan, membandingkan, menakwil, meniadakan, atau mengubah, serta meyakini makna kata-kata yang dinyatakan dalam nash (teks suci) dan maksud yang terkandung di dalamnya.

Dasar dari prinsip ini terdapat dalam firman Alloh:

ٱلَّهُ ٱلَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَاءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ [asy-Syura: 11]

“Alloh, tidak ada Tuhan selain Dia; bagi-Nya Asma’ul Husna (nama-nama yang paling indah).”

Ayat ini menunjukkan tiga hal penting:

1. Mensucikan Alloh dari menyerupai makhluk: Alloh tidak boleh disamakan dengan makhluk-Nya dalam sifat-sifat-Nya. Dalilnya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ [asy-Syura: 11]

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”

2. Mengesahkan sifat-sifat Alloh tanpa meniadakannya atau mengubahnya: Alloh memiliki sifat-sifat yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis, dan kita wajib mengimani sifat-sifat tersebut. Dalilnya:

وَلَهُ ٱلۡأَسۡمَاءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ [asy-Syura: 11]

“Dan bagi-Nya nama-nama yang paling indah.”

3. Meyakini hakikat sifat-sifat Alloh tanpa mencoba memahami ‘bagaimana’ sifat itu: Kita wajib mengimani makna sifat-sifat Alloh, tetapi tidak bisa mengetahui hakikat atau ‘cara’ terjadinya seperti halnya manusia melihat dan merasakan. Dalilnya:

لَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ [Thaha: 110]

“Tidak ada seorang pun yang mengetahui hakikat rahasia yang disimpan bagi mereka.”
(Ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat mencakup seluruh ilmu Alloh.)

Konsep 2: Jenis Penyimpangan dalam Asma’ wa Sifat

Penyimpangan dalam memahami nama dan sifat Alloh terbagi menjadi tiga jenis utama: ta’thil (peniadakan), tashbih atau tamtsil (penyerupaan), dan tahreef (pengubahan atau penyelewengan).

  1. Ta’thil (peniadakan)

    Meniadakan nama atau sifat Alloh merupakan kekufuran, karena hal ini bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas-jelas menegaskan Asma’ul Husna dan sifat-sifat Alloh yang tinggi.

  2. Tashbih atau Tamtsil (penyerupaan)

    Menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya juga merupakan kekufuran karena bertentangan dengan firman Alloh:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ [asy-Syura: 11]

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”

dan

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ [al-Ikhlas: 4]

“Katakanlah: Dia-lah Alloh Yang Maha Esa.”

Tashbih terbagi menjadi dua jenis:

1. Menyerupakan sifat Alloh dengan makhluk, misal: mengatakan “Alloh memiliki tangan seperti tanganku” atau “Alloh mendengar seperti aku mendengar.” Alloh Maha Suci dari hal itu. Jenis ini hampir tidak dilakukan kecuali oleh kelompok ekstrem yang sudah punah, seperti Khurramiyah.

2. Membuat nama-nama untuk tuhan-tuhan palsu dari nama Alloh yang haq, misal: nama Al-Lat dari Alloh, atau Al-Uzza dari Al-Aziz. Ini termasuk bentuk kesalahan dalam penyebutan nama.

3. Tahreef (penyelewengan atau pengubahan)

Penyelewengan terjadi ketika orang-orang sesat menafsirkan nama dan sifat Alloh dengan cara yang salah. Contohnya:

    • Kekufuran, seperti tafsir batiniyah yang tidak berdasar.
    • Bid’ah sesat, misal menafsirkan sifat-sifat Alloh secara salah sehingga meniadakan atau menyelewengkan maknanya.
    • Kesalahan umum, yaitu salah memahami maksud nash tanpa sengaja, yang tetap harus diperbaiki oleh ilmu dan dalil.

Konsep 3: Sesatnya Paham Wahdatul Wujud

Keyakinan wahdatul wujud (kesatuan wujud) dan kepercayaan bahwa Alloh “meresap” atau “bersatu” dengan makhluk-Nya merupakan sesat dan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.

  • Dalil: Al-Qur’an menegaskan keesaan Alloh dan pemisahan-Nya dari makhluk:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah: Dia Alloh Yang Maha Esa” (QS. Al-Ikhlas: 1)
— menegaskan Alloh berbeda dan tidak bersatu dengan makhluk-Nya.

Konsep 4: Penafian Sifat Alloh (An-Naafiyah As-Sifat)

Mereka yang menafikan sifat-sifat Alloh disebut juga al-Mu‘attilah (para penafsir atau penghapus sifat), karena mereka meniadakan makna yang terkandung dalam nama-nama Alloh. Ada tingkatan dalam hal ini:

  1. Ghulat al-Jahmiyyah dan para filsuf: menafikan semua nama dan sifat Alloh.
  2. Al-Mu‘tazilah: menetapkan nama Alloh tetapi menafikan makna yang terkandung dalam nama-nama itu; contohnya mereka mengatakan: “Alloh Maha Mengetahui, tapi tanpa ilmu” atau “Alloh Maha Kuasa, tapi tanpa kemampuan,” sehingga sifat-sifat itu menjadi hanya label tanpa kenyataan.
  3. Asy‘ariyyah: mereka juga termasuk dalam penafian sifat, meski kurang menyimpang dibanding sebelumnya. Mereka menetapkan semua nama Alloh yang disebutkan dalam Al-Qur’an, dan hanya 7 sifat secara nyata:
    • Al-Qudrah (Kemampuan)
    • Al-Iradah (Kehendak)
    • Al-‘Ilm (Pengetahuan)
    • Al-Hayat (Kehidupan)
    • As-Sam‘ (Pendengaran)
    • Al-Bashar (Penglihatan)
    • Al-Kalam (Berbicara)

Sifat-sifat lain ditakwil (ditafsirkan) melalui salah satu dari 7 sifat tadi, biasanya kehendak atau kemampuan. Misalnya, kemarahan Alloh ditakwil sebagai “kehendak untuk menghukum,” begitu pula dengan sifat-sifat lain.

Mereka menyebut 7 sifat tersebut sebagai ṣifāt al-dhāt (sifat Dzat) — yang tidak mungkin dibayangkan Dzat Alloh tanpa sifat ini. Sedangkan sifat lainnya disebut ṣifāt al-ma‘ānī (sifat makna), yang bisa dibayangkan Dzat Alloh tanpa mereka, sehingga ditakwil sesuai salah satu sifat Dzat.

  • Dalil:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan milik Alloh-lah Asma’ul Husna, maka berdoalah dengan menyebut-Nya” (QS. Al-A’raf: 180)
— menunjukkan nama-nama Alloh tidak bisa dikosongkan maknanya.

Konsep 5: Tanggapan terhadap Dalih Penafian Sifat Alloh

Para penafsir sifat mengklaim bahwa mereka menjaga kemurnian tauhid dengan menafikan sifat-sifat Alloh. Tanggapan terhadap beberapa dalih mereka:

  1. Dalih: Menetapkan sifat berarti menyerupakan Alloh dengan makhluk, karena kita hanya mengenal sifat melalui makhluk.
    Jawaban: Tidak benar. Menetapkan sifat Alloh tidak berarti menyerupakan-Nya dengan makhluk. Misalnya, manusia memiliki tangan dan hewan memiliki tangan, keduanya berbeda. Demikian juga, sifat Alloh meski sama dengan konsep yang kita kenal, tetap berbeda secara hakiki dan sempurna, karena Alloh U tidak menyerupai makhluk-Nya dalam apapun.
  2. Dalih: Menetapkan banyak sifat berarti Alloh memiliki banyak dzat, sehingga menyalahi tauhid.
    Jawaban: Ini adalah kebohongan dan delusi. Sifat-sifat Alloh bersifat dzat dan tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan sifat kesempurnaan dan kemuliaan bagi satu Dzat yang esa, sehingga tidak mengarah pada banyak dzat.
  • Dalil:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (QS. Asy-Syura: 11)

— membuktikan bahwa menetapkan sifat-sifat Alloh sama sekali tidak menyamakan-Nya dengan makhluk.

3 – Adapun para ahli Asha’irah yang hanya menetapkan tujuh sifat bagi Alloh dan menolak sisanya, mereka telah jatuh dalam kontradiksi. Mereka dikritik oleh para ulama Ahlus Sunnah dan kelompok Mu’attilah (orang-orang yang menafikan sifat Alloh) karena: menetapkan hanya tujuh sifat yang menurut mereka dapat diketahui oleh akal justru membuat mereka terjerumus pada persoalan tasybih (menyamakan Alloh dengan makhluk), yang seharusnya mereka hindari.

Sebab, setiap sifat dari tujuh sifat yang mereka tetapkan untuk Alloh, Alloh juga menetapkan sifat tersebut untuk makhluk, walaupun hakikat dan cara wujudnya berbeda:

  • Alloh menetapkan diri-Nya dengan sifat “Qudrah” (Kemampuan / Kuasa):

“Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
[Al-Baqarah: 20]

Sedangkan Alloh juga menetapkan kemampuan bagi sebagian makhluk:

“Barang siapa yang dibunuh secara zalim, maka Kami beri kuasa (untuk membalas) kepada ahli warisnya.”
[Al-Maidah: 34]

Maka kita katakan: Kemampuan Alloh adalah hakiki dan sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya, sedangkan kemampuan makhluk disesuaikan dengan keterbatasan dan kefanaan mereka. Perbedaan keduanya jelas sebagaimana perbedaan antara Dzat Alloh dan makhluk.

  • Alloh menetapkan diri-Nya dengan sifat “Iradah” (Kehendak):

“Dia mempunyai kehendak yang mutlak.”
[Yasin: 82] Dan Alloh menetapkan kehendak bagi makhluk:
“Alloh menghendaki kebaikan bagi kalian.”
[Al-Anfal: 67]

  • Alloh menetapkan diri-Nya dengan sifat “Ilm” (Pengetahuan / Ilmu):

“Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.”
[At-Taghabun: 11] Sedangkan Alloh juga memberikan ilmu kepada makhluk:
“Kami mengajarkan Adam seluruh nama-nama (benda).”
[Al-Hijr: 53]

  • Alloh menetapkan diri-Nya dengan sifat “Hayat” (Kehidupan):

“Alloh Maha Hidup, tiada yang mengantuk atau tidur.”
[Al-Baqarah: 255] Dan makhluk juga hidup sesuai kadar mereka:
“Kami hidupkan dan matikan manusia.”
[Al-Anbiya: 30]

  • Alloh menetapkan diri-Nya dengan sifat “Sami’ wa Basar” (Mendengar dan Melihat):

“Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
[Al-Mujadalah: 1] Dan manusia pun memiliki kemampuan mendengar dan melihat sesuai keterbatasannya:
“Sesungguhnya Alloh mendengar dan melihat semua apa yang kamu kerjakan.”
[Al-Insan: 2]

  • Alloh menetapkan diri-Nya dengan sifat “Kalam” (Berfirman / Berbicara):

“Dan Dia berfirman dengan wahyu-Nya.”
[An-Nisa: 164; Al-A’raf: 143] Sedangkan makhluk juga berbicara:
“Alloh memberi wahyu kepada Yusuf.”
[Yusuf: 54]

Maka, klaim para Asha’irah bahwa menetapkan sifat Alloh berarti menasybihkan Alloh kepada makhluk justru berlaku pada tujuh sifat yang mereka akui menurut akal. Jika mereka berkata: “Tujuh sifat itu tetap bagi Alloh sesuai kesempurnaan dan keagungan-Nya, dan tidak sama dengan sifat makhluk,” maka mereka wajib menerapkan prinsip ini untuk semua sifat yang Alloh tetapkan bagi-Nya melalui Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Tidak ada dasar untuk membedakan antara “sifat dzat” dan “sifat makna” seperti yang mereka klaim, karena itu akan kontradiktif.

Kesimpulannya:

  • Wajib menetapkan semua sifat Alloh yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya,
  • Meyakini bahwa semua sifat tersebut hakiki, sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan Alloh,
  • Dan membedakan dengan sifat makhluk yang sesuai dengan keterbatasan dan kefanaan mereka.
  • Perbedaan antara sifat Alloh dan sifat makhluk adalah sebagaimana perbedaan antara Dzat Alloh dan makhluk, yakni jelas, mutlak, dan tidak dapat disamakan.

Konsep 6: Penolakan Sifat dan Akidah Salb

Orang-orang yang menafikan sifat-sifat Alloh (disebut al-Mu‘aṭṭilah) menolak semua sifat dari Alloh. Karena mereka merasa perlu menjelaskan siapa yang mereka sembah, mereka menggunakan cara penolakan total (salb), dengan berkata bahwa Alloh tidak berada di dalam dunia maupun di luar dunia, bukan zat maupun accident, bukan wujud maupun tidak wujud, tidak berkuasa maupun tidak tidak berkuasa, dan seterusnya. Dengan demikian, mereka meniadakan Tuhan mereka dari semua sifat dan lawannya, dengan tujuan menghindari perbandingan (tasybih) dan penggandaan, menurut anggapan mereka.

Karena itu, akidah mereka disebut akidah salb, yaitu meniadakan semua sifat dan lawannya dari Alloh. Namun, ini jelas termasuk kesesatan dan kebodohan, yang dapat dibantah dari dua sisi:

Pertama: Akal manusia mencegah penolakan kedua lawan secara bersamaan. Dua hal yang berlawanan tidak dapat ada sekaligus dan tidak mungkin lenyap bersamaan; salah satunya harus ada sementara yang lain diangkat. Contohnya: wujud dan tidak-wujud, siang dan malam. Hal ini berbeda dari dua hal yang bertentangan tapi bisa hilang, misalnya putih dan hitam: sesuatu tidak bisa putih dan hitam pada waktu yang sama, tetapi bisa menjadi merah misalnya.

Kedua: Penolakan mutlak (nafiyu muḥaḍd) adalah ketidakadaan mutlak. Ini bukanlah penyucian atau pemuliaan, melainkan pengurangan dan penghinaan. Dengan kata lain, mereka menyerupakan Tuhan mereka dengan yang tidak ada sama sekali, dan cukup dengan ini untuk menunjukkan kesesatan dan kesalahan mereka.

Konsep 7: Metode Al-Qur’an – Penegasan Rinci Sifat dan Penolakan Ringkas

Al-Qur’an menjelaskan sifat-sifat Alloh dengan cara penegasan rinci untuk sifat-sifat positif dan penolakan secara ringkas untuk sifat-sifat negatif.

Seringkali Al-Qur’an menyebut sifat-sifat Alloh secara terperinci, seperti:

الحي، القيوم، العليم، الحكيم، الملك، القدوس، السلام، المؤمن، …
(Al-Qur’an banyak ayat)

Sementara penolakan dilakukan secara ringkas, misalnya:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ — [Al-Ikhlash: 4]

“Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”

وَمَا كَانَ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ — [Asy-Syura: 11]

“Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.”

Ini adalah tuntunan untuk memuji dan menyucikan Alloh, karena ketika kita memuji seorang raja atau pemimpin, kita menyebutkan sifat-sifat terpuji: bijak, adil, penyayang, dan seterusnya, namun kita tidak mengatakan: “Anda bukan bodoh, bukan jahat, bukan kotor,” karena hal itu justru dianggap merendahkan. Begitu juga Alloh U adalah Maha Sempurna, dan setiap sifat kekurangan atau kelemahan pasti ditolak dari-Nya, seperti: jahil, miskin, zalim, atau lemah.

Ketika Alloh menafikan kelemahan dari diri-Nya, Dia justru menegaskan lawan dari kelemahan itu, yaitu ilmu dan kekuasaan. Alloh U berfirman:

يَعْلَمُ مَا يَفْعَلُونَ وَمَا يَكُونُ لَهُمْ مِنْ قُوَّةٍ عَلَى أَنْفُسِهِمْ — [Fāṭir: 44]

“Dia mengetahui apa yang mereka lakukan dan mereka tidak memiliki kekuatan apa pun terhadap diri mereka sendiri.”

Ini menunjukkan bahwa Alloh Maha Mengetahui dan Maha Kuasa, sebagai lawan dari ketidaktahuan dan kelemahan.

Secara prinsip, Alloh disebut memiliki semua kesempurnaan dan keagungan, dan Dia terbebas dari segala kekurangan dan cacat. Maka, menegaskan sifat-sifat positif dan menafikan sifat negatif adalah cara yang sempurna untuk memahami dan menyucikan Alloh.

Konsep 8: Bid’ah Tafwîdh dan Penolakannya

Para pengikut mazhab Asy’ariyah cenderung menakwil (menafsirkan secara makna tersembunyi) sifat-sifat Alloh U, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dengan dalih untuk menyanjung Alloh U dari menyerupai sesuatu dari makhluk-Nya. Apabila mereka gagal dalam menakwil suatu sifat, mereka kemudian melakukan tafwîdh.

Tafwîdh adalah menyerahkan urusan makna sifat itu sepenuhnya kepada Alloh , dengan mengatakan bahwa Alloh  lebih mengetahui maksud-Nya. Mereka juga melakukan ini dengan dalih menyanjung Alloh  (tanzîh), seperti yang dikatakan oleh penulis kitab al-Jawharah, seorang Asy’ari:

“Setiap teks yang diduga menyerupai makhluk atau yang tidak dapat ditakwil, kita serahkan, itu adalah tanzîh.”
– الجوهرة

Mereka mengklaim bahwa tafwîdh adalah keyakinan para salaf dan bahwa itu adalah yang utama bagi orang yang tidak mampu menakwil, serta lebih aman daripada menakwil. Mereka mengatakan: “Cara salaf lebih selamat, cara khalaf lebih ahli dan lebih bijaksana.”

Namun, pernyataan ini justru menjerumuskan mereka pada kesesatan besar karena:

  1. Mereka menimbulkan prasangka buruk terhadap para salaf dan menganggap diri mereka lebih mengetahui dan lebih bijaksana daripada mereka. Padahal, bagaimana mungkin seseorang yang pikirannya tercemar oleh filsafat dan logika kontemporer lebih mengetahui daripada mereka yang hidup sezaman dengan turunnya Al-Qur’an dan menerima maknanya langsung dari Rasul ﷺ, yang menyampaikan dari Robb semesta alam?
  2. Tafwîdh yang dikaitkan secara dusta dengan salaf sebenarnya adalah tanda kelemahan dan ketidakmampuan, serta merupakan prasangka buruk terhadap Alloh, yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Ini seakan menuduh Alloh bersikap main-main dengan ciptaan-Nya dan berbicara kepada mereka dengan ucapan yang sulit dipahami atau tidak bisa ditafsirkan. Padahal Alloh berfirman:

“Dan Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau dalam kesulitan.”
– QS. Al-Qamar: 17

Terjemah: “Dan Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau menjadi susah.”

Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan kata-kata yang mudah diingat dan dipahami, serta maknanya bisa direnungkan. Alloh memudahkan perintah dan larangan agar bisa ditaati. Jika Alloh ingin agar manusia tidak memahami atau salah memahami, niscaya Dia akan menurunkan firman yang lebih sulit dan membingungkan.

Alloh juga berfirman:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
– QS. Al-‘Alaq: 1

Terjemah: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.”

“Dan Kami tidak mengutus engkau, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”
– QS. Al-Mu’minun: 24

Terjemah: “Dan Kami tidak mengutusmu, kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Memahami dan merenungkan firman Alloh tidak mungkin dilakukan tanpa usaha memahami maknanya. Sama halnya dengan akal, firman Alloh menuntut pemahaman agar bisa diterapkan. Alloh berfirman:

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab agar kamu mengerti.”
– QS. Yusuf: 2

Terjemah: “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab agar kamu dapat memahaminya.”

Mengenai i‘jâz Al-Qur’an, tujuan utama bukanlah agar manusia tidak memahami maknanya, melainkan untuk menantang para ahli bahasa dan menyempurnakan keindahan bahasanya sehingga para pembicara fasih tidak mampu menandingi, meskipun Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab sehari-hari yang mudah dimengerti dan dipahami.

Konsep 9: Pentingnya Ilmu tentang Asma’ Alloh al-Husna dan Sifat-Sifat-Nya yang Tinggi

Tidak diragukan lagi bahwa kemuliaan ilmu tergantung pada kemuliaan objek yang dipelajari. Karena yang dipelajari adalah nama-nama dan sifat-sifat Alloh سبحانه وتعالى, maka ilmu ini adalah salah satu ilmu yang paling mulia.

Jika konsep-konsep sebelumnya telah menjelaskan:

  • Asal-usul tauhid dalam Asma’ dan Sifat Alloh,
  • Penyimpangan para pihak yang menentang prinsip ini dan mazhab mereka beserta kesesatan mereka,
  • Dan bantahan terhadap mereka,

maka semua ini merupakan pendahuluan yang diperlukan untuk memahami ilmu yang mulia ini dan membersihkan hati hamba mukmin dari debu syubhat yang menyesatkan, sehingga ia siap untuk beriman kepada sifat-sifat tinggi Alloh dengan iman yang benar dan sempurna, serta memahami dampak dari iman tersebut.

Tujuan utama dan pokok dari mengetahui Asma’ dan Sifat Alloh adalah: beribadah kepada Alloh سبحانه وتعالى melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta beramal sesuai dengannya. Alloh berfirman:

وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ

(Al-A‘raf: 180)

“Dan bagi Alloh-lah nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam menyebut nama-Nya.”

Perhatikan bagaimana ayat ini menegaskan:

  1. Berdoa kepada Alloh dengan nama-Nya yang indah adalah bentuk ibadah, dan
  2. Memerintahkan untuk menjauhi para penyimpang dalam masalah ini karena mereka akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat.

Berikut beberapa hal tambahan yang menegaskan pentingnya ilmu ini dan kemuliaannya:

1 – Ilmu tentang Asma’ dan Sifat Alloh adalah dasar semua ilmu dan iman

Alloh berfirman:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
(Al-Baqarah: 31)

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya.”

Jika manusia mengetahui Robb mereka dengan benar, mereka akan benar-benar beribadah kepada-Nya dengan cara yang tepat dan memahami hakikat dunia serta tujuan mereka di dalamnya. Alloh سبحانه وتعالى menggambarkan diri-Nya:

اللَّهُ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

(Al-A‘raf: 54)

“Alloh, yang bagi-Nya segala yang ada di langit dan di bumi.”

Ini menunjukkan bahwa sumber seluruh ciptaan dan perintah adalah Alloh yang memiliki Asma’ al-Husna dan Sifat-sifat yang tinggi. Oleh karena itu, menghitung atau meneliti sifat-sifat Alloh adalah dasar dari semua ilmu karena semua ilmu terkait dengan sifat dan ketentuan-Nya.

2 – Ilmu tentang sifat Alloh menunjukkan ketentuan-Nya dan hukum-hukum-Nya

Dengan mengetahui sifat-sifat Alloh, seseorang dapat memahami ketentuan (qadha) dan hukum (syari‘ah)-Nya. Ketentuan dan hukum Alloh selalu didasarkan pada:

  • Keadilan,
  • Kemuliaan,
  • Hikmah,
  • Dan rahmat.

Orang yang mengetahui sifat-sifat ini tidak akan berburuk sangka kepada Alloh dan tidak akan menolak ketentuan atau hukum-Nya.

3 – Keterkaitan erat antara sifat Alloh dan ibadah

Setiap sifat Alloh memiliki implikasi tertentu terhadap ibadah lahir dan batin. Dengan memahami sifat-sifat tersebut, seorang hamba akan mengetahui bagaimana seharusnya ia beribadah kepada Alloh dan menjadikan pemahaman ini sebagai dasar amalnya.

4 – Meneladani dan merenungkan Asma’ Alloh meningkatkan pemahaman terhadap Al-Qur’an

Dengan merenungkan nama-nama Alloh dan memahami sifat-sifat-Nya, seseorang akan lebih mudah memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang diperintahkan untuk direnungkan. Alloh berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَلَا تَكُن فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِّنْهُ

(Shad: 29)

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab kepada Musa, maka janganlah hatimu merasa berat karenanya.”

Artinya, pemahaman yang benar tentang sifat Alloh mempermudah penghayatan terhadap ayat-ayat-Nya.

5 – Ketidaktahuan tentang Asma’ dan Sifat Alloh berdampak buruk

Ketidaktahuan seorang hamba terhadap nama dan sifat Alloh akan menimbulkan akibat yang buruk dan serius dalam kehidupannya, baik dalam keimanan, ibadah, maupun akhlak.

6 – Ilmu tentang Asma’ dan Sifat Alloh sebagai dasar pendidikan Islam

Pendidikan seorang muslim harus dimulai dengan pengenalan terhadap Alloh:

  • Pencipta,
  • Pemberi rezeki,
  • Pemberi manfaat dan mudharat,
  • Yang menghidupkan dan mematikan,
  • Pemilik Hari Pembalasan, dsb.

Dengan demikian, pemahaman ini memberikan buah yang agung dalam hati seorang mukmin, meningkatkan kualitas ibadah, akhlak, dan perilakunya.

Konsep 10: Manifestasi Pengagungan terhadap Asma’ Alloh yang Maha Indah dan Sifat-sifat-Nya yang Agung

Seorang hamba seharusnya menggabungkan pengetahuannya dan studinya tentang Asma’ Alloh dan sifat-sifat-Nya dengan pengagungan kepada-Nya. Pengagungan ini memiliki beberapa manifestasi, di antaranya:

1. Tidak bersumpah kecuali dengan Alloh dan Asma’ serta sifat-Nya

Karena dalam sumpah terdapat pengagungan terhadap yang disumpahi, dan pengagungan sejati hanya bagi Alloh.

    • Manifestasi pengagungan ini adalah bahwa jika bersumpah dengan Asma’ Alloh dan sifat-Nya, jangan digunakan untuk perkara dusta atau untuk melakukan kemaksiatan. Hamba harus menepati sumpahnya; jika sumpahnya terkait kemaksiatan, pengagungan Alloh terlihat pada menjauhi kemaksiatan dan membayar kafarat jika sumpah telah terucap.
    • Sebaiknya seorang hamba menghindari bersumpah sebisa mungkin, meski benar, agar tidak menjadi jalan untuk terjerumus dalam dusta atau ketidakmampuan menepatinya. Alloh U berfirman:

وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ أَن تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Janganlah kalian menjadikan Alloh sebagai alat untuk sumpah-sumpah kalian, supaya kalian bertakwa dan berbuat baik, serta memperbaiki hubungan antara manusia. Alloh Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 224]

    • Selain itu, orang yang disumpahi dengan nama Alloh atau sifat-Nya harus menerima dan mempercayai sumpah tersebut sebagai bentuk pengagungan Alloh dan Asma’ serta sifat-Nya, kecuali jika diketahui pemalsuan atau kemungkaran dari pihak yang bersumpah, atau jika sumpah tersebut mengenai hal yang pasti salah. Dalam kondisi demikian, penerima sumpah tidak berdosa jika tidak mempercayainya.
    • Hal ini selaras dengan hadits Nabi ﷺ:

«لا تحلفوا بآبائكم، من حلف بالله فليصدق، ومن حُلف له بالله فليرض، ومن لم يرض بالله فليس من الله»

“Janganlah kalian bersumpah dengan bapak-bapak kalian. Barangsiapa bersumpah dengan Alloh hendaklah dia menepatinya. Barangsiapa disumpahi dengan Alloh hendaknya dia menerima. Barangsiapa tidak menerima dengan Alloh, maka ia bukan dari Alloh.”
[HR. Ibnu Majah 2101, disahihkan Al-Albani dalam Sahih At-Targhib 2951, ada juga dalam Bukhari 3836 dan Muslim 3646]

2. Tidak menolak orang yang meminta dengan nama Alloh atau sifat-Nya, dan tidak menolak orang yang beristighatsah (memohon perlindungan) dengan nama Alloh
Kecuali jika permintaan atau istighatsah tersebut digunakan untuk melakukan kemaksiatan, meninggalkan kewajiban, atau meniadakan hukum Alloh. Nabi ﷺ bersabda:

«مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِذُوهُ، وَمَنِ سَأَلَ بِاللَّهِ فَأَعْطُوهُ»

“Barangsiapa yang beristighatsah dengan Alloh, hendaklah kalian menolongnya; barangsiapa meminta dengan Alloh, hendaklah kalian memberinya.”

[HR. Abu Dawud 1674, disahihkan Al-Albani dalam Sahih Abi Dawud 1469]

3. Tidak menggunakan nama yang khusus bagi Alloh untuk nama diri sendiri atau orang lain
Misalnya, Alloh, Ar-Rahman, Robbul ‘Alamin, dan sejenisnya.

4. Mengagungkan Asma’ Alloh dengan menjauhkan tulisan-tulisan tentang nama-Nya dari tempat-tempat yang hina atau kotor
Termasuk kitab, catatan, atau bahan pelajaran. Sayangnya, di zaman kita, banyak orang yang kurang peduli dalam hal ini.

Konsep 11: Buah dan Manfaat Ilmu tentang Asma’ Alloh al-Husna dan Sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi

Ilmu tentang Asma’ Alloh al-Husna dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi menghasilkan buah yang agung dan manfaat yang nyata, baik dalam amalan lahir seorang hamba maupun dalam ibadah batinnya. Beberapa manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan iman dan keyakinan

Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba tentang Asma’ dan sifat-sifat Alloh, semakin bertambah pula iman dan keyakinannya kepada Alloh. Pengetahuan ini berfungsi sebagai “makanan” bagi ruh, yang juga menumbuhkan ketenangan hati dan menyembuhkan penyakit-penyakit batin.

Dalil:
وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ ۚ وَمَا الْظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ

“Tidak sama antara orang yang buta dan orang yang melihat; dan tidak sama antara kegelapan dan cahaya.” (QS. Al-An’am: 122)
Terjemahan maknanya: ilmu yang benar memberikan cahaya bagi hati, sehingga iman semakin mantap.

2. Menyadarkan akan kebesaran Alloh, menumbuhkan kerendahan hati dan cinta kepada-Nya
Pengetahuan tentang kebesaran dan keagungan Alloh menumbuhkan sikap tunduk, patuh, dan cinta seorang hamba kepada-Nya.

Dalil:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ

“Kami tidak mengutus sebelum engkau melainkan lelaki-lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka.” (QS. Al-An’am: 130)

Maksudnya: Alloh menurunkan wahyu agar manusia menyadari kekuasaan-Nya dan tunduk kepada-Nya.

3. Menyadari bahwa Alloh Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui

Pengetahuan bahwa Alloh mendengar, melihat, dan mengetahui apa yang tersembunyi di hati manusia, serta tidak ada yang luput dari-Nya, menumbuhkan rasa takut (khauf) dan ketakwaan kepada Alloh, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Ini juga membuat hamba menjaga lisannya, anggota badannya, dan adabnya terhadap Alloh, serta menumbuhkan rasa malu (haya) kepada-Nya.

Dalil:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Sesungguhnya Alloh selalu mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa’: 1)

4. Menumbuhkan ketergantungan dan tawakal kepada Alloh
Pengetahuan bahwa Alloh adalah satu-satunya yang memberikan bahaya dan manfaat, memberi dan menahan, mencipta dan memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, menumbuhkan ketergantungan batiniah (tawakal) kepada-Nya, yang juga akan tampak dalam amalan lahir.

Dalil:

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا

“BertawakAlloh kepada Alloh, dan cukuplah Alloh sebagai Pemelihara.” (QS. Al-Ahzab: 3)

5. Menumbuhkan harapan yang luas kepada Alloh

Pengetahuan tentang kekayaan, kemurahan, kebaikan, dan rahmat Alloh menumbuhkan harapan yang luas bagi seorang hamba terhadap karunia Alloh.

Dalil:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu putus asa dari rahmat Alloh.” (QS. Az-Zumar: 53)

6. Menyadari kesempurnaan sifat Alloh dan kelemahan diri sendiri
Mengetahui bahwa Alloh memiliki sifat kesempurnaan dan keagungan membuat seorang hamba menyadari kekurangan, cacat, dan aib dirinya, sehingga ia berusaha menjauhinya sejauh mungkin. Hamba pun tidak menjadi sombong, marah, atau iri terhadap pemberian Alloh kepada orang lain.

Dalil:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ

“Janganlah engkau memandang dengan mata hati yang tamak kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada sebagian mereka.” (QS. An-Nahl: 72)

Kesimpulan:

Setiap sifat Alloh memiliki pengaruh nyata terhadap seorang hamba dan ibadahnya. Dampak-dampak ini akan dijelaskan lebih rinci pada konsep-konsep berikutnya.

Konsep 12: Meneladani Sifat Alloh yang Dapat Diteladani

Dalam firman Alloh:

لَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عَرَضَةً لِأَيْمَانِكُمْ أَن تُحِلُّوا وَتُحَرِّمُوا﴾ [An-Nisa: 149]

Alloh meninggalkan penyebutan pahala “pemaaf” ketika mampu membalas, untuk menunjukkan bahwa pemaafan adalah bagian dari sifat-Nya yang mulia.

Artinya, seorang hamba cukup merasa terhormat dan mulia apabila meneladani Alloh dalam sifat ini, tanpa perlu menyebutkan pahala yang mungkin diperoleh dari tindakan terpuji tersebut. Meneladani Alloh dalam sifat-sifat yang baik sudah cukup menjadi pedoman dan kemuliaan bagi seorang hamba.

Ringkasan:

  • Fokus utama adalah meneladani sifat Alloh yang dapat diteladani, bukan semata-mata mencari pahala.
  • Contoh sifat: al-‘Afuw (Memaafkan), al-Halim (Penyantun), ar-Rahim (Maha Penyayang).

Konsep 13: Menghambakan Diri dengan Menggabungkan Makna Nama-Nama Alloh

Hamba yang paling sempurna adalah mereka yang mengabdikan diri dengan semua nama dan sifat Alloh yang dapat diketahui manusia, tanpa membiarkan satu nama menghalangi penghambaan kepada nama yang lain.

Contohnya:

  • Menghambakan diri kepada nama Alloh al-Qadir (Maha Kuasa) tidak menghalangi penghambaan kepada al-Halim, ar-Rahim.
  • Menghambakan diri kepada nama al-Mu‘tī (Pemberi) tidak meniadakan penghambaan kepada al-Māni‘ (Pencegah).
  • Menghambakan diri kepada sifat ar-Rahim, al-‘Afuw, al-Ghafur tidak menghalangi penghambaan kepada al-Muntaqim (Pembalas).
  • Menghambakan diri kepada sifat at-Tawaddud, al-Birr, al-Lutf, al-Ihsan tidak meniadakan penghambaan kepada sifat al-‘Adl, al-Jabbar, al-‘Azim, al-Kibriya’.

Menggabungkan makna nama dan sifat Alloh adalah cara para penyempurna untuk mendekatkan diri kepada Alloh, sebagaimana firman Alloh:

وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا[Al-A‘raf: 180]

Artinya:

“Dan bagi Alloh-lah nama-nama yang paling baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.”

Penggunaan doa berdasarkan nama-nama Alloh dapat meliputi tiga bentuk:

  1. Doa untuk memohon sesuatu (du‘ā’ al-mas’alah)
  2. Doa untuk memuji Alloh (du‘ā’ ath-thanā’)
  3. Doa untuk ibadah dan penghambaan (du‘ā’ al-ta‘abbud)

Kesimpulan:

  • Hamba yang paling sempurna tidak membatasi penghambaan kepada satu sifat atau nama Alloh saja.
  • Menggabungkan penghambaan kepada semua sifat Alloh menunjukkan kesempurnaan ibadah.
  • Doa yang mencakup nama-nama Alloh lebih sempurna karena mengandung maksud memohon, memuji, dan menghambakan diri.

Check Also

LAYANAN AMBULANCE HASMI (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

LAPORAN AMBULANCE GRATIS HASMI PEDULI BULAN APRIL 2026 Oleh: Tim Redaksi HASMI Alhamdulillah, tim Ambulance …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot