Khutbah Jumat – Ketika Rasa Malu Hilang Terabaikan

3 Sep 2019Redaksi Khutbah Jumat

KHUTBAH PERTAMA: 

إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾.﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Kaum Muslimin sidang Jum’at rohimakumulloh     

Pada kesempatan yang berbahagia ini, khotib mengajak dan menyeru kepada jama’ah sekalian, untuk senantiasa meningkatkan kadar keimanan dan kualitas ketakwaan kita kepada Alloh subhanahu wata’ala. Karena kita yakin bahwa dengan keimanan dan ketakwaaan yang baik serta benar, akan mengantarkan kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Kaum Muslimin sidang Jum’at rohimakumulloh    

Memang sangat nyata sekali, bahwa musuh umat manusia yaitu setan, gencar sekali melancarkan syubhat-syubhatnya, untuk menjerumuskan manusia ke dalam lembah kemaksiatan dan memasukannya kepada jeruji kesesatan. Alloh subhanahu wata’ala berfiman:

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٣٩

“Iblis berkata: Wahai Robbku, oleh sebab karena Engkau telah menghukumi aku sesat, akan kujadikan mereka manusia memandang baik perbuatan maksiat di muka bumi ini, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua.” (QS. al-Hijr: 39)

Ibnu Katsir rohimahulloh menafsirkan ayat ini pada kalimat “akan kujadikan mereka manusia memandang baik perbuatan makzsiat di muka bumi” dengan kata lain Iblis seolah-olah mengatakan “sesungguhnya aku akan membuat mereka senang dan memandang baik perbuatan-perbuatan maksiat, dan aku akan anjurkan mereka serta menggiring mereka dengan gencar untuk melakukan kemaksiatan”.

Adapun kalimat ”dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua” seolah-olah iblis berkata karena Engkau telah menyesatkanku dan menakdirkanku menjadi makhluk yang sesat, maka aku akan berusaha keras untuk menyesatkan manusia semuanya.

Dari penjelasan Ibnu katsir  ini, kita akan mendapati bahwa memang jelas sekali Iblis sangat membangkang kepada Alloh subhanahu wata’ala, bukannya ia menyadari akan kedurhakaan dan kesombongannya, malah ia semakin ingkar seingkar-ingkarnya kepada Alloh subhanahu wata’ala. Na’udzubillah min dzalik

Dari ayat tadi pula, kita akan mendapati bahwa, Iblis akan gencar sekali membuat makar-makar dengan berbagai bentuknya, sehingga dengan hal itu akan menyebabkan manusia jatuh pada lembah kedurhakaan kepada Alloh subhanahu wata’ala.

Saudaraku Kaum Muslimin yang dirahmati Alloh

Apabila kita mau memperhatikan di sekeliling kita, ternyata di antara salah satu bentuk makar ataupun tipu daya Iblis laknatulloh dan bala tentaranya yang telah sukses, yang mungkin dan sedang dilakukan ialah, melucuti setiap rasa malu yang di miliki setiap manusia, baik itu malu yang timbul karena tabiat yang telah Alloh subhanahu wata’ala tanamkan dan karuniakan pada diri mereka, maupun rasa malu yang timbul karena keimanan kepada Alloh subhanahu wata’ala.

Padahal telah kita ketahui, bahwasanya rasa malu merupakan sifat yang mulia, yang menjadi warisan turun-temurun dari para nabi  sejak nabi pertama yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam sampai nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad shollallohu’alaihi wasallam. Rasa malu sejak dahulu telah diwarisi oleh orang-orang sholih, dari satu generasi ke generasi yang lain. Demikian pula, rasa malu itu diwarisi oleh para pendahulu dan generasi terbaik umat ini yaitu para sahabat . Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud al-Anshori, Uqbah bin Amr al-Badri . Ia berkata, bahwa Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam pernah bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara perkara yang didapatkan oleh manusia dari kalimat-kalimat kenabian yang pertama ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu” (HR. Bukhori)

Hadirin Kaum Muslimin rohimakumulloh  

Di antara pendapat para ulama yang berkaitan dengan hadis ini. Bahwa sabda beliau “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu” mengandung pengertian bahwa, ungkapan tersebut bukanlah perintah melainkan sebuah ancaman dan peringatan keras. Maksud dari ungakap tersebut bisa kita pahami, “jika engkau tidak malu, maka lakukanlah sesukamu, sesungguhnya Alloh subhanahu wata’ala yang akan membalas semua perbuatanmu”.

Maka, apa jadinya saudaraku, jika rasa malu telah hilang dalam diri setiap manusia, maka tak heran lagi, kesyirikan bisa menjadi sebuah kebiasaan, perkara-perkara baru yang tidak ada ajarannya dalam syariat Islam akan terus bermunculan, kemaksiatan akan terus merajalela, kejahatan akan merebak dimana-mana, korupsi menjadi budaya, pembunuhan akan tak terhitung jumlahnya, perzinaan pun tak bisa dicegah. Apa jadinya bumi kita ini bila semua hal itu terjadi?

Dan yang disayangkan jamaah sholat Jum’at rohimakumulloh  

Ternyata potret kemaksiatan tersebut, telah terjadi dan melanda di Negara yang kita cintai ini. Maka wajarlah, bila Alloh subhanahu wata’ala menurunkan banyak sekali peringatan berupa bencana dan musibah yang menimpa. Tsunami, banjir, gunung meletus, longsor, gempa bumi, dan banyak lagi bencana-bencana lain yang telah melanda negeri kita ini. Semua itu tidak terjadi begitu saja, melainkan disebabkan perbuatan dosa manusia itu sendiri. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alloh merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”  (QS. ar-Rum: 41)

Ayat ini menggambarkan sangat jelas, bahwa bencana-bencana yang terjadi ini tidaklah muncul begitu saja, kecuali disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri, dan begitupun munculnya bencana ini, adalah sebagai peringatan agar manusia  sadar  akan kesalahannya dan kembali kepada Alloh subhanahu wata’ala.

Kaum Muslimin jamaah Jum’at yang dirahmati oleh Alloh  

Itulah mungkin satu bentuk makar yang telah digencarkan oleh Iblis laknatulloh dan bala tentaranya dari sejak manusia pertama, sampai manusia akhir zaman nanti, agar manusia kehilangan rasa malu yang ada dalam dirinya. Dan ketika rasa malu itu hilang maka begitulah dampak yang akan disaksikan, manusia akan berbuat sesukanya tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْﺁن الْعَظِيْمِ وَ نَفَعَنِي وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاۤيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ .أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA:

اَلحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الـمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ:

Hadirin Kaum Muslimin sidang jum’at rohimakumulloh

Dalam khutbah pertama tadi jelas bahwa, dampak dari hilangnya rasa malu dalam jiwa-jiwa manusia, akan menghasilkan konsekuensi maraknya keburukan, baik di dalam tatanan masyarakat kita, lingkungan kita maupun pada keluarga-keluarga kita. Oleh karena itu, khotib kembali mengajak kepada jamaah sekalian untuk senantisa menjaga diri dan keluarga, agar jangan sampai rasa malu yang ada dalam diri kita hilang, karena betapa buruk dan bahayanya jika hal itu hilang.

Apabila kita mampu menjaga diri dan keluarga kita dari hilangnya rasa malu, maka pastinya kita akan menghindarkan kita dan keluarga dari adzab neraka di akhirat nanti. Alloh  berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ …٦

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. at-Tahrim: 6)

Hadirin Kaum Muslimin rohimakumulloh 

Sebagai penutup khutbah ini, marilah kita bersama berdoa, agar Alloh menghindarkan diri dan keluarga kita dari bisikan-bisikan  setan yang terkutuk.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ