Keutamaan Akhlak Rosululloh Sholallohu’alaihi Wasallam

5 Dec 2017Redaksi Aqidah

Keutamaan Akhlak Rosululloh Sholallohu’alaihi Wasallam

Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam adalah sosok makhluk yang utama bahkan keutamaannya tidak terbandingi oleh siapapun diantara makhluk Alloh subhanahu wata’ala. Banyak sekali nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan keutamaan akhlak mulia yang dimiliki Rasululloh sholallohu’alaihi wasallam ini.

Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Akhlakul Karimah menempati kedudukan yang tinggi dalam agama, karena penyempurnaan akhlakul karimah adalah salah satu misi diutusnya Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam. Dalam hadits shohih Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

    “Aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak mulia”
    (HR. Ahmad dan Bukhori)

    Hadits ini menunjukkan bahwa sebenarnya akhlak terpuji sudah ada sejak zaman jahiliyah, seperti; memuliakan tamu dan syaja’ah (keberanian).

  1. Akhlak adalah timbangan atau neraca kebaikan. Semakin baik akhlak seseorang maka akan semakin baik dirinya di sisi Alloh subhanahu wata’ala dan di sisi para makhluknya, karena Alloh subhanahu wata’ala menjadikan kecintaan pada seorang yang berakhlak mulia sebagai fitroh manusia. Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

    “Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya”.
    (HR. Bukhari dan Muslim)

  2. Akhlakul karimah adalah penyempurna keimanan. Seseorang yang berakhlak mulia menunjukkan bahwa keimanannya sangat tinggi, semakin orang itu berakhlak mulia maka semakin sempurna imannya. Dalam hal ini Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

    “Seorang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya”.
    (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

  3. Akhlakul karimah merupakan pemberat neraca kebaikan pada hari kiamat. Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

    “Tidak ada sesuatu yang paling berat timbangannya pada hari kiamat selain akhlak yang baik”.
    (HR. Abu Daud)

  1. Selain bertakwa kepada Alloh subhanahu wata’ala, akhlakul karimah adalah salah satu amal ibadah yang bisa mengantarkan ke surga. Hal ini berdasarkan hadits shohih dari Abu Hurairoh rodhiyallohu’anhu, dia berkata:

    Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukan manusia ke dalam surga, maka Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda: “Taqwa kepada Alloh dan akhlak yang baik” dan diapun ditanya tentang sesuatu yang banyak memasukan manusia ke dalam neraka, maka beliau bersabda: “Mulut dan kemaluan.”
    (HR. Tirmidzi)

  2. Dengan akhlak bisa diperoleh kecintaan dan kedekatan dengan Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam pada hari kiamat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi sholallohu’alaihi wasallam:

    “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya“.
    (HR. Tirmidzi dan di shohihkan oleh al-Albani dalam Shohihul Jami’)

  3. Akhlakul karimah adalah warisan terbaik, sehingga karena kesholihan sang ayah yang menunjukan kebaikan akhlaknya, harta anakpun dijaga oleh Alloh subhanahu wata’ala. Perhatikanlah ucapan Nabi Khidir ‘alaihissalam kepada Nabi Musa ‘alaihissalam ketika menjelaskan kenapa dia mau menegakkan tembok yang hampir runtuh tanpa upah dari manusia.

    Alloh subhanahu wata’ala berfirman mengenai kisah ini:
    “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih. Maka Robbmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Robbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.
    (QS. Al-Kahfi: 82).

Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam adalah orang yang paling tawadhu di antara manusia. Ketawadhuan Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam sangat luar biasa, hal itu bisa dilihat dalam kehidupan sehari-harinya, tidak ada sedikitpun kesombongan tampak pada diri dan hatinya padahal beliau adalah makhluk Alloh subhanahu wata’ala yang paling mulia. Ketikapun beliau sholallohu’alaihi wasallam menyebutkan dirinya adalah manusia paling mulia dan menyebutkan keutamaan-keutamaannya maka hal itu hanya sebatas untuk menerangkan hakekat kedudukannya pada manusia yang lain yang tidak didasarkan atas kesombongan.

Perhatikanlah hadits berikut:

“Dari Abu Sa’id rodhiyallohu’anhu: Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda: Aku adalah penghulu anak Adam pada hari kiamat tanpa berbangga diri, ditanganku bendera pujian tanpa berbangga, tidak ada seorang Nabi pun termasuk Adam ‘alaihissalam kecuali berada di bawah benderaku dan aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari dalam kubur tanpa berbangga.
(HR. Tirmidzi)

Dari hadits ini jelas sekali akan tawadhuan Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam, beliau setiap kali menerangkan keutamaan dirinya selalu menjelaskan juga bahwa keterangan itu bukan untuk membanggakan diri akan tetapi sekedar informasi bahwa itulah karunia Alloh subhanahu wata’ala yang diberikan kepadanya.

Ini adalah salah satu sifat Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam yang sangat terpuji. Dan seorang Muslim harus bertawadhu dengan tidak merendahkan maupun menghinakan diri. Tawadhu adalah sifat luhur, sementara kesombongan atau takabbur bukan termasuk akhlaknya dan tidak mungkin bersanding dengannya. Seorang Muslim harus menghiasi dirinya dengan sifat ini agar dimuliakan oleh Alloh subhanahu wata’ala, sebab sudah menjadi sunnah Alloh subhanahu wata’ala untuk memuliakan orang-orang yang bertawadhu karenanya serta merendahkan orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.

Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Dari Abu Hurairoh ra, dari Rosululloh saw beliau bersabda: Sodakoh itu tidak akan mengurangi harta, dan tidaklah Alloh menambah seorang hamba yang pema-af kecuali kemuliaan dan tidaklah seseorang bertawadhu karena Alloh kecuali Dia mening-gikannya.”
(HR. Muslim)

Dan Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Orang-orang sombong pada hari kiamat akan digiring seperti benda kecil dalam bentuk seorang lelaki yang diliputi kehinaan dari segala penjuru, digiring memasuki penjara di dalam neraka jahannam yang namanya “penjara bulas” diliputi api yang paling panas dan diberi mi-num dari kotoran penghuni neraka yang sangat busuk.”
(HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hadits ini hasan sohih)

Seorang Muslim dikala telinga dan hatinya mendengar kabar yang maha benar ini dari Alloh subhanahu wata’ala dan Rosul-Nya sholallohu’alaihi wasallam tentang pujian bagi orang-orang yang sangat tawadhu dan tentang celaan bagi orang-orang yang sangat sombong, yang satu memerintahkan tawadhu dan yang lain melarang kesombongan, maka bagaimana mungkin ia tidak menjauhi kesombongan dan tidak membencinya. Secara langsung Alloh subhanahu wata’ala pun memerintahkan Rosul-Nya untuk bertawadhu.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.”
(QS. As-Syuara: 215)

Dalam Surat Al Isro: 37, Alloh subhanahu wata’ala juga berfirman:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”
(QS. Al-Isro’: 37)

Alloh subhanahu wata’ala juga berfirman memuji sifat tawadhu para kekasih-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”
(QS. Al-Maidah: 54)

Alloh subhanahu wata’ala berfirman tentang balasan bagi orang yang bertawadhu:

“Negeri akhirat [Surga] itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Qosos: 83)

Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda di dalam perintah tawadhu:

“Sesungguhnya Alloh telah mewahyukan kepadaku agar kamu sekalian saling bertawadhu, sehingga tidak seorangpun menyombongkan diri atas yang lain dan tidak ada seorangpun yang melampaui batas yang lain.”
(HR. Muslim)

Ketawadhuan Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam pun sangat tampak ketika beliau tidak pernah menolak untuk menerima undangan makan dan hadiah meskipun hanya sekedar tulang hasta ataupun tulang betis.

Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Jika aku diundang kepada satu tulang hasta atau tulang betis pasti aku datangi, dan jika aku dihadiahi tulang hasta atau tulang betis pasti aku terima.”
(HR. Bukhori)

Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda ketika memperingatkan takabbur:

“Maukah aku kabarkan tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang bengis, suka bersuara keras dan sombong .”
(HR Bukhori dan Muslim)

Semoga Alloh subhanahu wata’ala senantiasa mencurahkan nikmat-Nya kepada kita dalam Agama ini.

Allohu Ta’ala A’lam

Be Sociable, Share!