Ketika Kemurnian Terabaikan

28 Feb 2014Redaksi Opini Islami

Ketika Kemurnian Terabaikan

لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ اْلبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ

“Sesungguhnya Aku telah tinggalkan untuk kalian (jalan) yang putih malamnya bagaikan siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali akan binasa”[HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Islam adalah agama yang sempurna, karena Islam datang dari Dzat yang Maha Sempurna, Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He).Islam agama yang abadi, tidak akan punah sepanjang zaman dan tidak akan tertinggal oleh zaman mana pun. Islam diturunkan untuk jaya selamanya, untuk selalu berada di tingkat tertinggi di atas semua agama yang ada di bumi ini.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Dialah yang mengutus Rosul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya di atas segala agama, walupun orang-orang musyrik tidak menyukainya”. (QS.At Taubah  {9} :33)

Tetapi harus diingat!  Itu semua hanya dapat dicapai ketika Islam berada di alam kemurnian, di jalur nubuwwah.

Berkata Ibnu Taimiyah raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him): “Barangsiapa keluar dari kenabian, maka pasti akan terjatuh dalam kesyirikan dan yang lainnya… Kesyirikan bukanlah fitrah asli manusia, keturunan Adam. Adam  dan keturunan beliau yang komitmen berada dalam tauhidulloh karena mereka berittiba’ kepada nubuwwah, sebagaimana firman Alloh  : “dan tidaklah manusia dahulunya melainkan umat yang satu, lalu mereka menyimpang (berikhtilaf) …” Berkata Ibnu Abbas : Antara Adam  dan Nuh  terdapat sepuluh generasi, semuanya di atas Islam. Dikarenakan peninggalan mereka terhadap ittiba’ pada syari’at para nabi maka mereka terjatuh ke dalam kesyirikan. (Majmu’ al Fatawa juz 20 hal 106, lihat Ahlus Sunnah wal Jama’ah Ma’alim Intilaq al Kubra hal 25)

Kenabian adalah identik dengan kemurnian, ketika keluar dari kenabian maka akan terjatuh ke dalam kesyirikan atau kebid’ahan. Dan kesyirikan adalah keterpurukan yang maha dahsyat. Di akhirat dia akan disiksa di neraka Jahannam kekal  selama-lamanya.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48)

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, Maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun” (QS. al-Ma’idah: 82).

Bencana-bencana di dunia yang datang silih berganti, kehidupan yang sempit, kemiskinan dan lain-lain adalah efek dari diabaikannya kemurnian, di tinggalkannya jalan yang lurus “Sirotolmustaqim”. Sejarah telah membuktikan, ayat-ayat al Quran di bawah ini cukup sebagai bukti:

Ibrahim [alaiyhis] bertanya: “Apakah urusan kalian.. Hai para utusan”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang di-tandai di sisi Robbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas”. Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih. Juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh) ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mu’jizat yang nyata. Maka dia (Fir’aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila”. Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela. Juga pada (kisah) ‘Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan suatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. Juga pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: “Bersenang-senanglah kalian sampai suatu waktu”. Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Robbnya, lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan, dan (Kami membinasakan) kaum Nuh  sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.(QS. Adz-Dzariyat : 31-46)

Gelombang keterpurukan dan kebangkitan terus silih berganti, sampai akhirnya diutuslah Nabi Muhammad  ditengah keterpurukan total membawa risalah kebangkitan terakhir untuk seluruh manusia hingga hari kiamat. Maka berkibarlah bendera kenabian, hingga Konstantinopel jatuh. Namun setelah itu lambat laun ikatan demi ikatan kemurnian pudar, detik-detik runtuhnya kekhilafahan tidak bisa dibendung. Kesyirikan merajalela, kebid’ahan menjamur di mana-mana, akhirnya jatuhlah kekhilafahan, karena kekhilafahan tidak bisa tegak di atas kepalsuan..!!

Ratapan dan tangisan tidaklah berguna. Tugas yang harus dipikul sekarang adalah mengembalikan manusia kepada rel nubuwwah “sirotolmustaqim” untuk meraih kejayaan kembali.

Saudaraku yang budiman..!!

Masih ada episode kebangkitan total yang dijanjikan menjelang hari kiamat: “Tegaknya kekhilafahan di atas manhaj kenabian”, yang ditandai dengan jatuhnya Roma (Itali)..!! Inilah ladang para peniti jalan kenabian mengambil perannya, walau hanya peran yang kecil, bersama kafilah Da’wah yang tidak akan pernah terputus hingga hari kiamat..!! [Red-HASMI]