Kelahiran Manusia Termulia

1 Apr 2014Redaksi Sejarah Islam

Kehidupan ummat manusia timbul dan tenggelam dalam samudra sejarah. Keterpurukan dan kebangkitan datang silih berganti.

Adam yang telah bangkit kembali dari sebuah “ketergelinciran kecil” turun daru syurga sebagai “Insan yang bangkit” dengan status sebagai seorang Nabi. Sepuluh gengerasi setelah turunnya Adam ke bumi, manusia berada dalam kehidupan bertauhid. Sampai datanglah suatu ketika sebuah generasi tergelincir dan terpuruklah generasi sesudahnya.

Kemudian Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) mengutus Nuh [alaihis] untuk membangkitkan kaumnya dari keterpurukan total, dimana mereka telah menghinakan diri sendiri dengan menyembah berhala-berhala mati. Nuh pun menda’wahi kaumnya selama 950 tahun, tetapi yang beriman hanyalah sedikit. Mereka yang tidak berimanpun terbinasakan,  sedangkan yang beriman terselamatkan, mulai saat itu kehidupan manusia pun berlanjut dalam kebangkitan, akan tetapi keterpurukan di rentang-rentang generasi selanjutnyapun kembali terulang. Para rosul dan nabi pun diutus untuk mempelopori kebangkitan di negeri masing-masing. Seperti Nabi Ibrahim , Musa , Isa.

Sampailah datang suatu zaman Jahiliah yang melanda jazirah Arab, yaitu  ketika manusia kembali terpuruk dan menjadi hamba-hamba untuk berhala-berhala hina serta mengikuti syari’at pemujaan setan, akal yang Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)  berikan kepada mereka, digusur dengan minuman-minuman keras yang sangat merajalela. Manusia pada waktu itu tidak lagi berjalan dengan akalnya, melainkan disetir oleh hawa nafsu kebinatangannya. Yang kuat memeras yang lemah. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, melainkan semata simbol seks dan pemuas hawa nafsu. Akidah yang dibawa para Nabi sebelumnyapun telah lenyap ditelan kebodohan. Mereka tidak lagi menyembah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), Pencipta alam semesta, melainkan menyembah patung-patung yang mereka ciptakan sendiri. Kitab suci yang dibawa para Nabi, seperti Injil dan lain-lain pun mereka gerogoti kemurniannya. (lihat Al Siroh Nabawiyah, Abul Hasan Al Nadwi, hal. 19-67).

Jazirah Arab pada waktu itu benar-benar dalam puncak kegelapan dan kerendahan moral. Sengsaralah umat manusia ketika itu, sampai tiba waktunya fajar baru menyingsing… fajar yang sinarnya akan segera melenyapkan gelapnya kehidupan Jahiliyah… Itulah fajar kelahiran Nabi Muhammad, fajar Islam terakhir sekaligus sebagai tanda berakhirnya keterpurukan total…

Kelahiran Rasulullah – Manusia Termulia

Nabi  dilahirkan dari pasangan Abdulloh bin Abdul Muttholib yang menikah dengan Aminah binti Wahab dari kabilah Zuhrah, dan beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, dikarenakan sang ayah meniggal saat beliau masih berada dalam kandungan. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah.

Beliau ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dilahirkan di kota Makkah pada hari senin, berdasarkan sabda beliau tatkala beliau ditanya tentang puasa sunnah pada hari senin, beliau berkata:

“Hari itu adalah hari kelahiranku, dan hari saat aku menerima wahyu”. (HR. Muslim)

Nasab – Manusia Termulia

Beliau Adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muththolib bin Hasyim  bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. (Fathul Baari, 7/162)

Nasab beliau ini sangatlah mulia, bahkan hal inipun diakui oleh musuh-musuh Islam ketika itu, termasuk oleh Heraklius sang kaisar Romawi. (lihat: Bukhori, Kitab Bad’u al wahyi, no.6)

Bulan Kelahiran – Manusia Termulia

Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, namun pendapat yang benar adalah pada bulan Rabiul Awwal, namun para ulama kembali berselisih ketika menetapkan tanggal berapakah beliau dilahirkan? Ada yang mengatakan tanggal 2, ada yang berpendapat tanggal 8, 9, 10, 12, 17, dan ada pula yang berpendapat tanggal 22. (Dr. Zaid bin Abdul Karim, Fikih Shiroh, hal. 51).

Tahun Kelahiran – Manusia Termulia

Ibnu Qoyim sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah, 2/276 menjelaskan bahwa kelahiran beliau adalah pada tahun gajah dan bertepatan dengan tahun 571 Masehi.

Setelah beliau  dilahirkan dalam keadaan yatim, ibunya mengirim beliau kepada sang kakek (‘Abdul Muththolib). Di hari yang ke tujuh dari kelahirannya, sang kakekpun memotongkan kambing dan mengundang orang-orang Quraisy, setelah mereka selesai makan, Abdul Muththolib memberitahu kepada para tamu undangan bahwa nama cucunya itu adalah Muhammad, dimana nama tersebut adalah nama yang asing di kalangan bangsa Arab saat itu, kecuali bagi beberapa orang tua yang mengetahui nama Nabi akhir zaman adalah Muhammad, sehingga menamakan anaknya dengan nama tersebut dan berharap anaknya nanti akan menjadi nabi akhir zaman.

Dari kisah tersebut, maka kita bisa mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya gelombang pengutusan para Nabi dan Rasul pada hakikatnya ialah untuk mengentaskan keterpurukan ummat dengan kembali mentauhidkan Alloh, begitu pula yang terjadi pada diri Rosululloh Muhammad , Alloh telah mempersiapkan beliau untuk menjadi pelopor gerakan kebangkitan. Dan kenyataan yang kita hadapi pada saat ini tidaklah jauh berbeda  dengan kondisi di zaman Jahiliyah, sementara Alloh  sudah tidak lagi mengutus rosulnya, maka dari itu kita sebagai Ummat Islamlah yang wajib berusaha membangkitkan ummat dengan mengusung da’wah kemurnian, sebagaimana yang telah diterapkan oleh Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan para shahabatnya. [Red-HASMI]

Be Sociable, Share!