Kedudukan Akal dalam Islam

12 Apr 2014Redaksi Materi

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kalian sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kalian. Maka apakah kalian tiada memahaminya?(QS. al-Anbiya [21]:10)

Akal berasal dari bahasa Arab ‘aql yang secara bahasa ber-arti pengikatan dan pemaha-man terhadap sesuatu. Pengertian lain dari akal adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu), kemampuan melihat, cara memahami lingkungan, atau merupakan kata lain dari pikiran dan ingatan.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memberikan anugerah akal kepada manusia yang membedakannya dari makhluk hewan lainnya.

Katakanlah:`Dialah yang menciptakan kalian dan menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati. (Tetapi) amat sedikit kalian bersyukur. (QS. al-Mulk [67]: 23)

Dengan telinga manusia mendengar, dengan mata manusia melihat dan dengan hati manusia berpikir, walaupun mayoritas manusia amat minim untuk bersyukur. Demikian pemahaman yang dapat kita petik dari ayat tersebut.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menjadikan afidah (hati) sebagai tempat berpikir dan merenung, sebagaimana Dia berfirman di dalam ayat yang lain:

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. al-Hajj [22]: 46)

Anugerah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) yang besar ini menjadikan manusia mencapai derajat kemampuan menerima tugas-tugas (taklif) syar’i dari Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) serta kesiapan untuk mengerti dan memahaminya. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) hanya menuntut perintah dan larangan untuk mereka yang berakal; seperti perintah bertauhid, sholat dan lain-lain. Dengan demikian tidak berlaku taklif buat mereka yang tak berakal.

Untuk itu, Syari’at Islam meme-rintahkan manusia untuk menjaga akal dengan berbagai unsurnya:

  1. Mendidiknya dengan ilmu penge-tahuan yang baik, logika ilmiyah, pemikiran objektif dan metodologi penelitian.
  2. Melarang apa saja yang membahaya-kan atau melenyapkan perannya, seperti dilarangnya minum khomr, nafza dan lain-lain.
  3. Memerintakan manusia untuk memberinya gizi rohani  dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan mengaktifkannya dalam kebaikan.
  4. Melarang manusia untuk melakukan tindakan pidana terhadap akal, seperti memukul dan lain-lain.

Kedudukan yang mulia itu di-berikan oleh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) kepada akal (yaitu bagian dari manusia) melalui wahyuNya. Sedangkan akal yang dimulia-kan tetaplah makhluk yang merupakan bagian dari dimuliakannya manusia. Di sini sangat jelas bahwa akal tetaplah bagian dari manusia yang merupakan makhluk, bukan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He).

Tetapi iblis tetap iblis, mencari berbagai cara untuk menjerumuskan anak Adam ke neraka Jahannam. Ada wajah pengikutnya yang komitmen bahwa apapun kalam wahyu harus diukur melalui logika akal, karena akal sangat sakral, sedangkan wahyu abstrak dan universal.

Ada wajah pengikutnya yang ber-juang untuk menempatkan akal se-bagai Tuhan penentu kebenaran, karena kebenaran tidak memihak, karenanya bicaralah menurut logika akal. Kata-kata semu yang sama sekali tak berdefinisi dan batasan ini pun dimakan dan diterima oleh banyak “pejabat” dan “intelektual” Harry Potter (Murid Iblis pemegang sihir).

Kaum Syiah yang berdusta di kaki logika, liberal mu’tazilah yang berkalam dengan filsafat paganisme batu, kaum sufi yang menuranikan akal hanya agar bisa menangis dan meresap serta orang-orang awam yang berlogika yang penting hati didada, walau raga penuh dosa.

Akal tetaplah akal, makhluk Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) yang diciptakan. Kemuliaannya karena manusia dimuliakan untuk menjalankan amanah dan tugas kehidupannya, ibadah dan menjalankan khilafah. Saat amanah, peran dan tugas kehidupannya dilupakan atau ditinggalkan, keter-purukan tetap akan menimpanya, walau mengaku berakal dan mengguna-kan akal. Hanya akal yang diberi cahaya wahyu (al-Qur’an dan as-Sunnah) yang akan berjalan menuju kemuliaan dan kebangkitan. Hanya akal yang tunduk pada Islam yang diajarkan Rosul-Nya ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) lah yang akan menggapai kebahagiaan dan kemuliaan.

(Red-HASMI)

Be Sociable, Share!