Kado Perpisahan Terbaik Dari Bulan Ramadhan

23 Jun 2017Redaksi Artikel Ilmiyah

Kado Perpisahan Terbaik Dari Bulan Ramadhan – Kita dibina menjadi hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bertakwa selama bulan Ramadhan. Dejarat ketakwaan merupakan tujuan disyariatkannya ibadah puasa. Dengan ketakwaan, maka seorang hamba akan meraih kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dimudahkan segala urusannya, dilapangkan rezekinya, diberi hidayah dan bimbingan dalam mengarungi bahtera kehidupan, dihapuskan kesalahannya, diberi petunjuk mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, dan meraih kemenangan dengan dimasukannya ke dalam Surga serta meraih berbagai kenikmatan hidup di akhirat.

Keindahan dan keistimewaan bulan Ramadhan tidak mungkin bisa digambarkan dengan uraian kata-kata indah. Tapi, jiwa-jiwa orang yang beriman pasti merasakan betapa indah dan istimewanya bulan Ramadhan. Khususnya meraka yang menyambut bulan Ramadhan penuh dengan keimanan dan pengharapan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dari sekian banyaknya keindahan bulan Ramadhan, ada beberapa yang bisa kita ambil pelajarannya selama kita hidup di Bulan Ramadhan. Pelajaran ini merupakan kado terbaik yang diberikan bulan Ramadhan kepada kita yang menjalankan beragam ketaatan di bulan Ramadhan.

Pertama: al-Qur’an

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selama bulan Ramadhan banyak membaca al-Qur’an. Beliau senantiasa bertadarus al-Qur’an dengan malaikat Jibril alaihisalam setiap malam di bulan Ramadhan sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pula yang dilakukan oleh salafsusholeh yang lebih fokus berinteraksi dengan al-Qur’an selama bulan Ramadhan.

Dengan demikian, bulan Ramadhan telah memberikan pesan agar orang-orang beriman senantiasa berinteraksi dengan al-Qur’an. Mulai dari membacanya, menghafalnya, memahami maknanya, mempelajari hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, mentadaburinya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. Hal ini dikarenakan kitab suci al-Quran adalah sumber hukum utama dalam agama Islam, hidayah bagi manusia, dan jaminan keselamatan dunia akhirat. Imam Malik meriwayatkan hadits dalam kitab al-Muwatha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya. Yaitu kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.”

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata berkaitan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala QS. Thaha ayat 124, “Barangsiapa membaca al-Qur’an dan mengikuti isi kandungannya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya hidayah selamat dari kesesatan. Serta ia pun akan dilindungi dari keburukan pada hari hisab.”

Pada zaman sekarang, fasilitas untuk memahami al-Qur’an telah dimudahkan. Mulai dengan banyak ragam cetakan dengan berbagai ukuran, edisi terjemahan, edisi terjemah perkata, terjemah tafsiriyah, dan beragam terjamahan kitab tafsir ke dalam bahasa Indonesia. Mulai dari tafsir yang ringkas sampai tafsir induk seperti tafsir at-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Semua itu adalah kemudahan bagi kita untuk banyak berinteraksi dengan al-Qur’an dan memudahkan kita semua dalam usaha memahaminya serta benar-benar menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Kedua: Muraqabatullah

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh anak Adam akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.”

Hadits tersebut menegaskan bahwa seorang hamba dengan rela dan penuh kesadaran meninggalkan makan minum dan syahwatnya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Inilah makna murabatullah. Yaitu orang yang berpuasa dilatih senantiasa merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan inilah hakikat ketakwaan yang dengannya ibadah puasa disyariatkan. Dalam hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Ihsan adalah Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat-Nya dan jika Engkau belum merasa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Ketahuilah bahwa sifat muraqabatullah  lahir dari seseorang yang mengenal dan meyakini bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Mengawasi. Sehingga hamba yang telah terbina dengan sifat muraqabatullah akan senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kapanpun dan di manapun, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan ramai, baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan, maka ia akan tetap beribadah kapada Allah Subhanahu Wa Ta’ala hingga kematian menjemputnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai ajal datang kepadamu.” (QS. al-Hijr [16]: 99)

Ketiga: Sedekah

Bulan Ramadhan memberikan pelajaran kepada orang-orang beriman untuk menjadi orang yang dermawan. Hal tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang meningkatkan sifat kedermawanannya pada saat bulan Ramadhan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu anhuma yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau ditemui oleh Jibril.”

Bukankah kita merasakan lapar dan haus saat menjalankan puasa? Bukankah kita merasakan bahagia tatkala waktu berbuka puasa tiba? Ketahuilah bahwa apa yang kita rasakan saat berpuasa adalah kondisi kaum fakir miskin sepanjang siang dan malam? Karena itu, melalui ibadah puasa kita dibina untuk memperhatikan kaum fakir miskin. Bahkan, di akhir pelaksanaan ibadah puasa, kita diwajibkan menunaikan zakat fitrah yang diberikan kepada kaum fakir miskin. Hal tersebut agar mereka berbahagia sebagaimana kita berbahagia di hari raya.

Oleh karena itu, hendaknya harta yang kita miliki dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengantarkan kita masuk Surga melalui pintu sedekah disebabkan kita gemar bersedekah sewaktu di sunia. Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

“Barangsiapa termasuk orang yang senantiasa bersedekah maka dia akan dipanggil masuk Surga melalui pintu sedekah.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Keempat: Sabar

Dalam ibadah puasa terkandung makna kesabaran. Sabar menjalankan ketaatan-ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sabar menjauhi larangan-larangan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dibutuhkan kesabaran. Bahkan, tidak ada satu ibadah pun yang terlaksana tanpa kesabaran. Seperti mempertahankan keimanan, menjalankan shalat, menunaikan zakat, ibadah haji, membaca al-Qur’an, berbagi kepada orang tua dan ibadah-ibadah lainnya. Hal ini dikarenakan karakter jalan-jalan menuju Surga dirasa memberatkan dan tidak disukai oleh jiwa manusia.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ »

Anas ibn Malik radhiallahu anhu meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan dan Neraka itu diliputi dengan hal-hal yang menyenangkan.” (HR. Muslim)

Kelima: Shalat dan Masjid

Masjid-masjid begitu meriah dan ramai di bulan Ramadhan. Baik orang dewasa maupun anak kecil dan laki-laki maupun perempuan. Semua bersemangat mendatangi masjid untuk mendirikan shalat fardhu dan tarawih berjamaah. Sekalipun mengalami penurunan jika memasuki sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, tetapi paling tidak umat Islam memahami bahwa masjid adalah salah satu tempat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Fenomena istimewa tersebut sebenarnya memberikan pesan kapada umat Islam agar menghidupkan masjid dengan beragam ibadah. Di antaranya adalah shalat berjamaah di masjid. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat dan shalat wustha dan laksanakanlah shalat dengan khusyuk.” (QS. al-Baqarah [2]: 238)

Masih banyak kado perpisahan yang diberikan Bulan Ramadhan yang bisa kita ambil untuk mengihiasai kehidupan kita. Seperti senantiasa menjaga shalat wajib berjama’ah di masjid, antusias menjalankan beragam sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, terpaut dengan masjid, berdoa meminta segala kebutuhan hidup dan kebahagiaan akhirat hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, meningkatkan amal ibadah pada waktu dan tempat terbaik, dibutuhkannya dakwah Islam untuk menyebarluaskan tuntunan gama Islam, dan lain-lain.

Baca juga artikel Zakat Fitrah Wajib Ditunaikan Oleh Muslim

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memudahkan kita semua dalam menjalankan kemurnian agama Islam sesuai dengan pemahaman dan pengamalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Allahuma Amin