Jangan Ungkap Aib Keluarga

29 Jan 2014Redaksi Ruang Keluarga

Jangan Ungkap Aib Keluarga

Dalam sebuah hubungan keluarga khususnya hubungan antara suami dan istri, selalu ada kurang dan lebihnya dimata pasangan masing-masing, baik di mata sang istri maupun suami. Baik kekurangan maupun kelebihan ini tentu saja tidak akan lepas dari manusia sebagai makhluk yang memang telah diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kekurangan pada pasangan kita, baik pada suami kita maupun pada istri kita adalah kekurangan kita juga.

Hal ini karena ketika seseorang telah menikah, maka istri dan suami dengan sendirinya telah menjadi satu bagian yang utuh. Ketika mereka melakukan hubungan badan, maka  sebagian dari tubuh mereka telah menjadi bagian tubuh dari yang lain. Dengan demikian sudah tentu wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga segala bentuk kekurangan yang menjadi rahasia pasangan kita.

Sekarang ini sering kali kita temui betapa obrolan-obrolan vulgar yang menyangkut masalah kekurangan pada pasangannya ketika melakukan hubungan badan dibuka secara blak-blakan tanpa rasa malu dan bersalah. Mereka membeberkan masalah hubungan seksual mereka dengan istri maupun dengan suaminya sambil tertawa-tawa. Hal seperti ini tidak hanya terjadi pada kaum ibu-ibu (istri-istri), sekelompok bapak-bapakpun kadang suka melakukan hal tersebut.

“Dari Abu Sa’id al-Kudriy, ia berkata, Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda : “Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di hari kiamat adalah seorang laki-laki (suami) yang bercampur (bersetubuh) de-ngan istrinya, kemudian membeberkan rahasia (istri)-nya tersebut.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas ada beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil:

Pada masing-masing pasangan baik suami maupun istri memiliki kekurangan atau aib yang berkenaan dengan masalah seksual. Segala bentuk kekurangan dan aib tersebut tentunya merupakan rahasia besar antara seorang suami dan istri, yang mutlak dijaga dari pandangan atau pendengaran orang lain.

Menjaga rahasia mengenai aib atau kekurangan pasangan adalah amanah yang diberikan oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) kepada seluruh pengikutnya melalui hadits di atas. Maka tidak salah jika Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him)  memberikan label “manusia yang paling jelek”  kepada mereka yang suka membeberkan rahasia atau aib pasangannya kepada orang lain, karena mereka telah menghianati pasangannya dan menghianati amanah Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Penekanan “manusia yang paling jelek disisi Alloh” merupakan sebuah peng-HARAM-an terhadap tindakan pembeberan masalah aib diantara kedua suami dan istri.

Tindakan pembeberan masalah rahasia keluarga akan menghilangkan rasa saling percaya dan menimbulkan rasa saling curiga di antara kedua pasangan.

Sebagai bahan tambahan, para ulama telah mengatakan bahwa “Hanya sekedar menyinggung  perihal jima’ (bersetubuh) hukumnya makruh jika tidak ada keperluannya, dan diperbolehkan jika memang ada keperluannya”.

Manusia tidak ada yang sempurna. Begitupun dalam keseharian suami istri, pastilah banyak kekurangan disana sini.

Ketika seseorang telah menikah, maka istri dan suami telah menjadi satu bagian. Mereka bagaikan pakaian bagi satu sama lain. Dan fungsi utama pakaian adalah menutup aurat. Artinya, masing-masing suami istri harus berusaha menutupi aib pasangannya, dan pantang mengungkapkannya kepada orang lain, meski keluarga sendiri.

Manusia penuh dengan kekhilafan, begitupun sang suami ataupun istri. Sebaik baiknya pasangan kita, pastilah mempunyai kekurangan, aib, cacat dan cela. Akan lebih baik jika kita menyimpan rapat rapat semua itu, dan menyibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung serta memperbaiki aib kita sendiri.

Rumah yang paling cepat rusak adalah rumah yang salah seorang dari suami-istri  menyebarkan rahasianya, sering mengeluhkan pasanganya serta mencelanya. Rumah tersebut menjadi tempat milik semua orang, tidak ada kehormatan sedikit pun di dalam rumah tersebut. Tidak ada penghargaan bagi kesucian hubungan suami-istri. Suami atau istri yang melakukan hal tersebut adalah orang yang sedikit rasa malunya, dan lemah imannya. Maka tak ada cela bagi teman hidupnya apabila berpisah darinya dan tidak kembali lagi kepadanya.

Telah disebutkan diatas bahwa Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) mensifati orang-orang yang menyebarkan rahasia rumah tangga, mereka itulah orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) pada hari kiamat. Apabila perkara yang disebarluaskan tersebut berkaitan dengan hubungan khusus yang terjadi antara suami-istri, maka hal ini lebih besar lagi keburukannya.

Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

“Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang menuaikan hajatnya kepada seorang wanita (istrinya) dan ia menunaikan hajatnya kepada laki-laki tersebut (suaminya) kemudian laki-laki tersebut menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim)

Sungguh sebagian pasangan suami istri yang telah menikah terus menerus meng-ulangngulang keluhan terhadap suaminya, baik karena satu sebab ataupun tanpa sebab, serta menuduhnya mengurangi haknya secara syar’i, dan hal lainnya. Tidak ada hari yang berlalu kecuali ia mencari pendengar baru agar ia dapat menjelaskan kepadanya kekurangan pasangannya masing-masing.

Sesungguhnya Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) sangat membenci hal ini. Terutama kepada istri yang senantiasa mencela suami dan tidak bersyukur atas suaminya.

Rasululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

“Alloh tidak melihat kepada wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya sementara ia membutuhkannya.” (HR. Baihaqi)

Dalam sabdanya yang lain:

“Aku menengok ke dalam neraka, di-mana aku lihat kebanyakan penduduknya adalah wanita, mereka berbuat ingkar ke-pada salah seorang di antara mereka se-panjang masa, kemudian ia melihat satu kesalahan saja darimu, maka ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan se-dikit pun darimu.” (HR. Bukhari)

Dari dua hadits diatas maka jelaslah bahwa mengumbar aib kelurga adalah salah satu perbuatan tercela. Pelakunya tentu tidak akan mendapatkan kebaikan sedikitpun dari Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), baik di dunia maupun di akhirat.

Di Dunia jelas efeknya akan sangat terasa, hubungan rumah tangga yang tidak harmonis, KDRT bahkan bisa menuju perceraian. Di Akhirat lebih-lebih lagi, tentunya perbuatan itu termasuk dosa yang Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) sangat tidak menyukai hal itu. Lantas, apakah kita masih berharap keberkahan dari Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)?

Dari beberapa poin di atas, kesimpulan utama yang dapat diambil adalah “HARAM hukumnya membeberkan aib atau keku-angan pasangannya tanpa ada keperluan yang dibenarkan”. [Red-HASMI]

.:: Wallahu Ta’ala ‘Alam ::.

Be Sociable, Share!