Iffah Meraih Kemuliaan Sejati

18 Aug 2017Redaksi Materi

Iffah Meraih Kemuliaan Sejati – Berbicara tentang kemuliaan, tentu saja akan ada banyak hal yang  muncul di benak kita bukan?, Karena tidak bisa di pungkiri, kebanyakan dari masyarakat zaman ini hanya melihat kemuliaan seseorang dari banyaknya harta dan tingginya jabatan. Jika seseorang sudah memiliki banyak harta, maka pujian dan sanjungan pun akan selalu menyelimutinya, begitu pula jika seseorang memiliki jabatan yang tinggi atau memiliki keluarga atau saudara yang terpandang, maka kemuliaan pun seakan selalu bersamanya. Namun bagi seorang Muslim sejati, maka hal itu tidak akan terjadi, karena bagi seorang Muslim kemuliaan itu berasal dari Alloh  dan Alloh  pulalah yang akan memberikan kemuliaan tersebut kepada hamba-hambanya yang Ia inginkan, baik sang hamba  itu kaya ataupun miskin, tua ataupun muda, pejabat ataupun rakyat jelata. Dan salah satu cara meraih kemuliaan diri kita adalah dengan cara menjaga iffah.

Sebagaimana sabda Nabi

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ،
“…Barangsiapa yang bersikap iffah (menjaga kehormatan), maka Alloh akan memuliakannya…”
(HR. al-Bukhori dan Muslim)

Definisi iffah

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang iffah ini, maka kita harus tahu terlebih dahulu definisi dari kata iffah ini. Secara bahasa iffah berarti menahan. Dan secara istilah iffah adalah menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Alloh haramkan. Hal ini sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala:

 “Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Alloh menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.”
(QS. an-Nur [24]: 33)

Jadi orang yang menjaga iffahnya adalah orang yang selalu menjaga dirinya dari hal-hal yang di haramkan oleh Alloh subhanahu wata’ala, seperti menjaga diri dari berbuat syirik, perzinahan, mencuri, ghibah dan lain sebagainya, dan dalam hal ini iffah lebih khusus dalam hal menjaga diri dari perbuatan zina. Jika seseorang sudah mampu menjaga dirinya dari hal-hal yang di haramkan oleh Alloh subhanahu wata’ala, maka ia sudah pantas di sebut sebagai ‘afif (laki-laki yang menjaga iffah) atau ‘afifah (Wanita yang menjaga iffah).

Dan termasuk pengertian dari iffah adalah menjaga diri dari meminta-minta kepada manusia, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala:

 “…Orang yang tidak tahu menyangka mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang berkecukupan karena mereka ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta kepada manusia)…
(QS. al-Baqoroh [2]: 273)

Jadi, dari ayat di atas sudah jelas bahwa selain menjaga diri dari yang haram, maka orang yang menjaga iffahnya  juga harus menahan dirinya dari meminta-minta kepada manusia.

Tips Meraih Sifat Iffah

Setelah kita mengetahui bersama tentang definisi dan keutamaan sifat iffah, maka kita pun harus tahu kiat-kiat untuk meraih sifat iffah ini. tentunya agar kita lebih mudah untuk meraih kemuliaan dari sifat iffah tersebut, selain dari itu akhlak yang satu ini merupakan akhlak yang tinggi, mulia dan dicintai oleh Alloh . Bahkan akhlak ini merupakan sifat hamba-hamba Alloh yang sholih, yang senantiasa menghadirkan keagungan Alloh dan takut akan murka dan azab-Nya. Ia juga menjadi sifat bagi orang-orang yang selalu mencari keridhoan dan pahala-Nya.

Nah di antara kiat-kiat yang dapat kita lakukan untuk meraih sifat iffah itu adalah :

  1. Berdoa dan memohon kepada Alloh agar di karuniai sifat iffah.

Tidak di ragukan lagi bahwa doa adalah senjata paling ampuh yang dimiliki oleh seorang Mukmin . Sebagaimana sabda Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam: ” Do’a adalah senjata seorang Mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi (HR. Hakim). Maka dari itu, tidak heran suatu kaum yang gagah perkasa pun bisa musnah karena doa. Seorang yang sakit parah pun bisa sembuh total dan pulih kembali, seakan-akan ia tidak pernah sakit sebelumnya, juga karena doa. Dan untuk mendapatkan kemuliaan dari sifat iffah ini pun kita harus berdoa kepada Alloh .

Bahkan berdoa kepada Alloh  agar mendapatkan sifat iffah ini merupakan salah satu sunnah yang diajarkan oleh Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam. Sebagaimana doa beliau sholallohu’alaihi wasallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah, dan kecukupan.”
(HR. Muslim no. 6842 dari Ibnu Mas’ud  )

Nah dari doa di atas pula, kita dapat mengambil pelajaran yang sangat banyak. Salah satu di antaranya adalah kebutuhan kita untuk selalu menjaga iffah atau menjaga kemuliaan diri ini dengan cara menjauhi setiap hal yang di haramkan oleh Alloh subhanahu wata’ala. Karena Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam saja yang sudah di hapuskan segala dosanya oleh Alloh subhanahu wata’ala (maksum) masih meminta sifat iffah ini. Maka, sudah seharusnya kita, yang selalu mengikuti sunnah-sunnah Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam lebih mengharapkan hadirnya sifat iffah dalam diri kita yang penuh dengan dosa dan maksiat ini.

  1. Hanya Meminta dan Mengadu kepada Alloh subhanahu wata’ala.

Banyak sekali ayat suci al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk meminta hanya kepada Alloh  serta larangan meminta kepada selain Alloh . Sebagaimana dalam firman-Nya, (QS. al-Insyiroh [24]: 8)

Dan hanya kepada Robb mulah engkau berharap

Begitu pula dalam sabda nabi-Nya , yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi,

“Jika engaku meminta, maka mintalah kepada Alloh subhanahu wata’ala dan jika engkau memohon (pertolongan), maka mohonlah kepada Alloh subhanahu wata’ala…”

Jadi, ketika seseorang sedang di timpa musibah atau ujian dari Alloh subbhanahu wata’ala, seperti kekurangan harta atau penyakit yang tidak kunjung sembuh, maka hal pertama yang harus di lakukannya adalah dengan memohon kepada Alloh subhanahu wata’ala, bukan kepada makhluknya.

  1. Boleh meminta kepada manusia dalam kondisi terdesak dan sangat membutuhkan.

Meminta kepada manusia pada prinsipnya adalah hal yang di haramkan oleh Alloh subhanahu wata’ala, akan tetapi di bolehkan jika dalam kondisi yang darurat atau sangat mendesak. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam banyak hadits dalam kitab-kitab Shohih, Sunan dan Musnad. Salah satunya adalah sabda beliau sholallohu’alaihi wasallam,

Tidaklah salah seorang di antara kalian senantiasa meminta-minta kecuali ia datang pada hari kiamat dan di wajahnya tidak ada sepotong daging.
(HR. al-Bukhori, an-Nasai, Ahmad dan yang lainnya)

Dan sabda beliau yang lain adalah,

Siapa saja yang meminta kepada manusia sementara ia memiliki apa yang mencukupinya, maka ia datang pada hari kiamat dalam keadaan muka terkoyak, tercakar atau tergaruk
(HR.at-Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Nah, dari dua dalil di atas, sudah jelaslah bahwa meminta kepada manusia secara hukum asal di haramkan oleh Alloh subhanahu wata’ala. Akan tetapi hal tersebut di perbolehkan jika ada hal-hal yang sangat mendesak, sebagaimana yang di sabdakan oleh Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam,

Tidak halal meminta-minta kecuali bagi orang yang di lilit oleh hutang, orang yang di bebani oleh diyat atau kefakiran yang menghinakan
(HR.at-Tirmidzi, an-Nasa’I, Ibnu Majah dan yang lainnya)

  1. Menjauhi hal-hal yang mendekati maksiat

Jika ada asap pasti ada api. Jika ada akibat pasti ada sebabnya. Begitu pula dengan kemaksiatan pasti ada sebab-sebab yang menggiring seseorang untuk melakukan sebuah kemaksiatan. Di antara sebab-sebab yang dapat memdekatkan kita pada kemaksiatan adalah berteman dengan teman yang buruk atau teman yang biasa melakukan kemaksiatan. Jika kita sampai berteman akrab dengannya, maka ia akan menularkan kemaksiatannya itu kepada kita. Misalnya saja orang yang berteman dengan pemabuk, maka lambat laun iapun akan mencoba sedikit demi sedikit untuk meminum minuman keras. Begitu pula dengan kemaksiatan yang lainnya. Maka dari itu Rosululloh  pun selalu mengingatkan kita agar pandai dalam memilih teman. Karena teman dekat itu dapat mempengaruhi agama seseorang.

Dan  termasuk juga mengurangi sifat iffah seseorang ketika ia berteman dengan teman yang buruk. Apalagi sampai mengikuti kemaksiatan yang ia lakukan. Mudah-mudahan Alloh subhanahu wata’ala melindungi kita dari teman-teman yang buruk seperti itu.

  1. Menjaga sifat Qona’ah

Qona’ah adalah merasa cukup dengan nikmat-nikmat Alloh subhanahu wata’ala yang telah di berikan oleh-Nya. Sehingga tidak ada rasa iri ataupun dengki pada nikmat lain yang kita inginkan yang terdapat pada saudara kita yang lainnya. Sifat yang satu ini merupakan sifat yang amat penting dalam membangun sifat iffah dalam diri kita. Karena mana mungkin seseorang dapat menjaga dirinya dari meminta-minta, jika ia masih ada rasa iri dan dengki pada nikmat saudaranya.

Cara mudah mengukur sifat qona’ah ini adalah jika hati kita sudah tidak berdebar jika saudara kita memiliki salah satu harta dunia yang baru, motor kah, laptop rumah dan sebagainya. Nah jika kita masih merasakan hal ini, maka tahanlah keinginan tersebut dan yakinlah bahwa rizki itu dari Alloh sehingga tidak mungkin tertukar antara rezeki kita dengan orang lain.

Mudah-mudahan Alloh menganugerahi kita sifat iffah ini dan memudahkan kita untuk menjalankan kiat-kiat di atas.

Amin.

Wallohu a’lam