Hukum Mengqodho Sholat Sunnah

15 Feb 2018Redaksi Konsultasi

Nama : MS-286 MUHAMAD SYAMSUL AIMAH
Angkatan 8

Pertanyaan:
Hukum mengkodo solat sunnah apa kang?

Jawaban:
Sholat sunnah ditinjau dari keterikatannya dengan waktu terbagi menjadi dua macam, ada sholat sunnah yang dibatasi dan sholat sunnah yang tidak dibatasi waktu. Sholat sunnah yang tidak dibatasi waktunya seperti sholat kusuf (gerhana), sholat istisqo’ (minta hujan), dan sholat tahiyatul masjid, tidak ada qodho’ pada sholat sunnah tersebut. Adapun sholat sunnah yang dibatasi waktunya seperti sholat ‘id, sholat Dhuha, sholat rowatib (yang mengiringi sholat wajib), maka boleh diqodho jika tertinggal.

Seperti dalam sabda-sabda Nabi berikut ini,

مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ

“Bagi siapa saja yang tidak sholat dua raka’at sebelum Shubuh, maka hendaklah ia sholat setelah terbitnya matahari.”
(HR. At-Tirmidzi)

Begitu pula hadits Ummu Salamah dalam Bukhori dan Muslim bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengqodho’ dua roka’at setelah Zhuhur dilakukan setelah ‘Ashar. Beliau melakukan demikian karena beliau sibuk mengurus urusan Bani ‘Abdil Qois.

Juga ada hadits dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا لَمْ يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ صَلاَّهُنَّ بَعْدَه

“Jika Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan sholat rowatib 4 roka’at sebelum Zhuhur, beliau melakukannya setelah sholat Zhuhur.”
(HR. At-Tirmidzi)

Juga ada hadits dari Abu Sa’id Al Khudri rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَامَ عَنِ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَ وَإِذَا اسْتَيْقَظَ

“Bagi siapa saja yang ketiduran dan terluput dari mengerjakan sholat witir atau lupa mengerjakannya, maka kerjakanlah sholat tersebut ketika ingat atau ketika terbangun.”
(HR. At- Tirmidzi)

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا شَغَلَ عَنْ صَلاَتِهِ بِاللَّيْلِ بِنَوْمٍ أَوْ مَرَضٍ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

“Jika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak dapat melakukan sholat pada malam hari karena tertidur atau jatuh sakit, maka beliau melakukan sholat pada siang hari sebanyak dua belas raka’at.”
(HR. Muslim)

Wallohu A’lam

Be Sociable, Share!