Hingga Titik Penghabisan

7 Apr 2014Redaksi Sejarah Islam

وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّىءُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ

“Dan ingatlah ketika kamu berangkat pada pagi hari dari rumah keluargamu untuk menempatkan orang-orang mukmin di beberapa tempat untuk berperang.” [QS.Ali ‘Imran (121-123)]

Sejarah Perang Uhud

Makkah menggelegak terbakar kebencian terhadap orang-orang Muslim karena kekalahan mereka di perang Badr serta terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat itu. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas. Bahkan karenanya Quraisy melarang semua penduduk Makkah meratapi para korban Badr dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang Muslim tidak merasa di atas angin karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka.

Setelah perang Badr, semua orang Quraisy sepakat untuk melancarkan serangan habis-habisan terhadap orang-orang Muslim, agar kebencian mereka terobati dan dendam kesumat mereka bisa terobati. Karena itu mereka menggelar persiapan terjun ke kancah peperangan sekali lagi.

Setelah genap setahun, persiapan mereka benar-benar sudah matang. Tidak kurang dari tiga ribu prajurit Quraisy sudah berhimpun bersama sekutu-sekutu mereka dan kabilah-kabilah kecil. Para pemimpin Quraisy berpikir untuk membawa serta para wanita. Karena hal ini dianggap bisa mengangkat semangat mereka. Adapun jumlah wanita yang diikutsertakan ada lima belas orang.

Hewan pengangkut dalam pasukan Makkah ini ada tiga ribu onta. Penunggang kudanya ada dua ratus, yang disebar disepanjang jalan yang dilaluinya, dan mengenakan baju besi ada tujuh ratus orang.

Komandan pasukan yang tertinggi dipegang Abu Sufyan bin Harb, komandan pasukan penunggang kuda dipimpin Khalid bin Al-Walid, dibantu Ikrimah bin Abu Jahl. Adapun bendera perang disertakan kepada Bani Abdid-Dar. Mereka semua bersama-sama dengan tujuan yang sama yaitu melancarkan serangan dahsyat kepada kaum Muslimin. Lantas bagaimana langkah & persiapan kaum Muslimin guna mengantisipasi serangan tersebut?

Ditempat lain, Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) sedang menggelar Majelis Permusyawaratan Militer guna merumuskan strategi perang yang akan digunakan. Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) mengemukakan bahwa untuk kondisi saat ini, sebaiknya kaum Muslimin tidak usah terlalu opensif, akan tetapi cukup menunggu di Madinah saja. Jika mereka mulai masuk, maka dengan cepat kaum Muslimin menyerbu melalui mulut-mulut gang dan para wanita melancarkan serangan dari atap-atap rumah. Akan tetapi ternyata para sahabat mayoritas mengusulkan untuk keluar dari Madinah dan langsung menyerang mereka. Akhirnya Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) mengikuti pendapat mayoritas sahabatnya dan mengabaikan pendapatnya. Maka ditetapkan untuk keluar dari Madinah dan bertempur di kancah terbuka.

Meskipun diperjalanan sebagian kaum Muslimin ada yang mengundurkan diri dan membelot yaitu Abdulloh bin Ubay bin Salul dan rombongannya, akan tetapi pasukan kaum Muslimin tetap melanjutkan perjalanan walaupun jumlah pasukan mereka berkurang.

Sejarah Perang Uhud

Akhirnya tibalah mereka di bukit uhud, dua belah pihak sudah saling berhadapan. Diawali dengan aksi Az-Zubair  yang berhasil menghabisi salah satu pasukan musuh yaitu Thalhah bin Abu Thalhah Al-Abdari. Setelah itu, pertempuran pun meletus dan semakin mengganas diantara kedua belah pihak. Semua sudut menjadi kancah pertempuran yang hebat. Pertempuran yang paling berat ada di sekitar bendera orang-orang musyrik. Silih berganti melancarkan serangan, sampai akhirnya pasukan kaum Muslimin sudah berada diatas angin.

Kemenangan sudah di depan mata, sekalipun pasukan kaum Muslimin mengalami kerugian yang besar dengan terbunuhnya singa Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan singa Rosul-Nya, Hamzah bin Abdul-Muthalib, mereka tetap mampu menguasai seluruh keadaan. Begitulah roda pertempuran terus berputar dan pasukan Muslimin yang kecil justru menguasai seluruh keadaan, sehingga sempat menyurutkan ambisi para dedengkot musyrikin, dan membuat mereka berlari kesemua penjuru medan pertempuran.

Pada saat pasukan Islam yang kecil tinggal meraih kemenangan sebentar lagi atas pasukan Quraisy, terjadi kesalahan fatal yang dilakukan para pemanah. Sekitar empat puluh orang meninggalkan pos di atas bukit, lalu mereka bergabung dengan pasukan inti untuk mengumpulkan harta rampasan. Dengan begitu punggung kaum  Muslimin menjadi kosong, tinggal Ibnu Jubair dan sembilan rekannya.

Kesempatan emas ini di pergunakan Khalid bin al Walid. Dengan cepat ia mengambil jalan memutar, hingga tiba dibelakang pasukan Muslimin. sehingga bisa membalikan keadaan secara total dan akhirnya menimbulkan kerugian yang amat banyak bagi pasukan Muslimin, bahkan hampir saja menyebabkan kematian bagi Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Sejarah Perang Uhud

Semua terjadi begitu cepat, walalupun  para sahabat  Nabi ketika itu benar-benar berjuang habis-habisan, tapi kuantitas pasukan tetap tidak seimbang. sampai akhirnya pasukan muslim-pun harus mundur teratur untuk menghindari serangan yang dilancarkan secara bertubi-tubi. Selain memang sudah tersiar kabar bahwa Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) sudah wafat terbunuh, sehingga serangan pun sudah tidak terlalu deras. Namun akhirnya suasana dapat dikendalikan kembali sehingga pasukan Muslim berhasil lolos dan selamatlah Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Dari peristiwa ini dapat diambil beberapa  hikmah yang sangat berarti untuk dijadikan bahan pelajaran:

  • Memperlihatkan kepada orang-orang Muslim akibat yang tidak menguntungkan dari melanggar larangan.
  • Kemenangan yang tertunda seringkali meremukkan jiwa dan meluluhkan kehebatan yang dirasakan. Namun orang-orang mukmin tetap sabar saat mendapat cobaan, sedangkan orang-orang munafik menjadi risau.
  • Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) telah menyediakan bagi hamba-hambaNya yang Mukmin kedudukan yang mulia di sisi-Nya, yang tidak bisa dicapai begitu saja. Tetapi Dia perlu menguji dan mencoba mereka, sebagai jalan bagi mereka untuk mencapai kedudukan tersebut.
  • Mati syahid merupakan kedudukan para penolong agama Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) yang paling tinggi.
  • Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) ingin menghancurkan musuh-musuh-Nya, dengan menampakkan sebab-sebab yang memang menguatkan kekufuran mereka, karena mereka menyiksa para penolongNya.

[Red-HASMI]