Haruskah Berittiba’ Kepada Ahlul Bait?

8 May 2014Redaksi Kumpulan Khutbah

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ

Dalam realita yang ada, ideologi dan keyakinan agama Syi’ah tentang ahlul bait ternyata saling bertentangan. Di satu sisi agama Syi’ah mengkultuskan ahlul bait, sampai-sampai dinyatakan bahwa mereka mengetahui hal yang gaib, memiliki kekuasaan untuk mengatur urusan dunia dan tidak akan mati kecuali atas kehendak mereka sendiri. Akan tetapi di sisi lain, mereka menghinakan ahlul bait, sampai-sampai menjuluki al-Hasan sebagai tokoh yang telah menghinakan umat Islam, menggambarkan para imam ahlul bait sebagai figur penakut, pengecut bahkan lebih dahsyat lagi dari semua itu.

Untuk membuktikan kecintaan mereka, Syi’ah selalu menukil hadits tsaqolain, demi menegaskan wajibnya mengikuti ahlul bait. Tapi apakah Syiah konsekuen dengan ucapannya sendiri? Inilah yang perlu kita teliti.

Sebagai gambarannya, bahwa mengikuti al-Qur’an adalah dengan mengikuti perintah yang ada di dalamnya, dan menjauhi larangannya. Itulah yang disebut mengikuti. Begitu juga dengan mengikuti ahlul bait, dengan mengikuti perintah mereka, dan menjauhi apa yang mereka larang.

Al-Qur’an ada di hadapan kita, dapat kita baca setiap hari. Dengan mudah kita mengakses perintah dan larangan. Tetapi ahlul bait versi Syi’ah, mereka telah pergi. 11 imam telah pergi menghadap Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), sementara imam ke 12 malah pergi bersembunyi, me-ninggalkan tugasnya untuk men-jaga syariat, meninggalkan fung-sinya sebagai penerus Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).  Bagaimana caranya mengakses perintah ahlul bait?

Bagi agama Syiah, kitab-kitab yang dimiliki mereka banyak memuat riwayat dari para imam mereka. Dengan kitab-kitab itulah mereka bisa mengikuti ahlul bait.

Namun, tentunya tidak semua riwayat bisa diterima begitu saja, harus ada proses penelitian mengenai validitas perawi, apakah cacat atau valid. Dari situ bisa diketahui mana riwayat yang shohih maupun yang dhoif.

Jika sebuah riwayat dari seorang imam terbukti shohih, maka harus diikuti, karena riwayat itu memuat sabda imam yang mak-sum (menurut Syiah), yaitu imam yang terbebas dari salah dan lupa. Sabdanya memiliki kekuatan hukum yaitu wajib diikuti. Inilah inti hadits tsaqolain, yaitu perintah untuk mengikuti ahlul bait.

Tetapi apa yang terjadi?

Ketika sebuah riwayat shohih dari imam maksum menyelisihi pendapat ulama Syi’ah, mereka mengambil pendapat para ulama Syi’ah dan meninggalkan riwayat dari imam maksum. Seolah-olah yang maksum di sini adalah para ulama Syi’ah, bukan 12 imam ah-lul bait. Ahlul bait tidak lagi maksum ketika ada sabdanya yang menyelisihi ulama Syiah.

Al-Isytahardi menyatakan da-lam Taqrirot Fi Ushulil Fiqh-Taqrir Bahts al-Burjuwardi, hal 296: “Dari sini terkenal sebuah kaedah, bahwa ketika sebuah riwayat semakin shohih, maka derajatnya semakin dhaif dan meragukan ke-tika riwayat itu ditinggalkan oleh ulama kami, dan sebaliknya, ketika riwayat semakin dhoif tapi diamalkan oleh ulama kami, maka akan semakin kuat, seperti dalam masalah yang ditunjukkan.”

Kesimpulannya, ucapan para imam ditentukan oleh sikap ulama Syi’ah terhadap riwayat itu. Ketika sabda para imam menyelisihi keinginan ulama Syi’ah, maka yang harus diikuti adalah keinginan ulama Syi’ah, bukan lagi sabda imam ahlulbait. Apakah berarti ahlul bait sudah keluar dari tsaqo-lain yang harus diikuti, dan digan-tikan oleh ulama Syi’ah? Lalu apa lagi gunanya ada penelitian hadits, jika hadits yang shohih bisa digu-gurkan oleh ulama? Sebenarnya siapa yang menjadi panutan Syi-’ah? Imam maksum atau ulama Syi’ah yang tidak maksum? Apa gunanya imam maksum jika uca-pannya dapat digugurkan oleh ulama-ulama Syi’ah yang tidak maksum? Syi’ah selalu berdalil dengan hadits tsaqalain, namun di saat yang sama Syi’ah mem-buangnya jauh-jauh.

Sehingga dari hal tersebut, muncul satu pertanyaan: siapakah pembela ahlul bait yang sebenarnya? Siapakah yang benar-benar telah menjalankan wasiat Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) tatkala beliau berkhutbah di sungai Khum (Ghodir Khum): “… Dan aku menitipkan kepada kalian dua hal besar: Pertama : Kitabulloh, … Dan kedua: adalah keluargaku, aku meng-ingatkan kalian agar senantiasa takut kepada Alloh dalam memperlakukan keluargaku.” (HR. Muslim).

Simaklah sejenak wahai saudaraku, bagaimana Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) menekankan perintah agar kita bersikap yang sewajarnya kepada keluarga dan anak keturunannya, serta tidak menjadikan mereka sebagai standari berittiba’:

“Sungguh demi Alloh , andai Fatimah raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.”(HR. Bu-khori dan Mulsim).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْﺁن الْعَظِيْمِ وَ نَفَعَنِي وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاۤيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ .أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH II

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، رَبِّ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ  وَعَلَى آلِهِ اْلأَطْهَارِ وَصَحْبِهِ الرَّافِعِيْنَ قَوَاعِدَ الدِّيْنِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Jadi, siapakah yang sebenarnya pembela dan pengikut ahlul bait yang sebenarnya? Apakah agama Syi’ah yang telah mencela imam Ali , al-Hasan , dan bahkan mengkhianati imam al-Husain  hingga akhirnya ia terbunuh disebabkan makar mereka? Ataukah ahlussunnah yang senan-tiasa bersikap proporsional dan sewajarnya, tetap menghormati dan tidak bersikap ekstrim? Camkanlah dengan baik-baik wahai saudaraku..!!

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لََعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لََعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ