Derita Dan Nestapa Pemilik Kebun (Yang Kikir)

8 Feb 2018Redaksi Materi

Sebuah Pelajaran Berharga Akibat Kekikiran

Al-Qur’an, yang di dalamnya penuh dengan petunjuk dan pelajaran mengisahkan kepada kita akan akibat buruk berupa kerugian dan penyesalan kepada orang-orang yang berbuat kikir dan tipudaya terhadap Alloh subhanahu wata’ala dengan menghindari kewajiban dan tanggungjawab terhadap orang-orang fakir dan miskin. Dalam surat Al-Qolam [68] ayat 17-33, Alloh subhanahu wata’ala memberi perumpamaan bagi orang-orang kafir Quraisy (saat itu). Mereka telah menerima rahmat yang besar dan nikmat yang agung dengan diutusnya Muhammad shollallohu’alaihi wasallam kepada mereka. Namun mereka membalasnya dengan pendustaan, penodaan dan permusuhan.

Alloh subhanahu wata’ala Berfirman,

“Sesungguhnya kami telah menguji mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana kami telah menguji pemilik-pemililik kebun.”
(QS. Al-Qolam [68]: 17)

Mereka adalah sekelompok manusia yang diberi nikmat besar berupa kebun yang penuh dengan berbagai jenis buah-buahan. Bukan syukur yang mereka lakukan tetapi kufur yang mereka kerjakan.

Suatu ketika, di malam musim panen, pemilik-pemilik kebun-kebun itu sangat yakin sekali akan memanen hasil perkebunan mereka, sehingga mereka saling mengucapkan sumpah untuk memetik (memanen) hasil kebun tersebut tanpa sedikitpun menyandarkan sumpah mereka itu pada kekuasaan Alloh subhanahu wata’ala, yaitu dengan ucapan insyaAlloh. Dan juga, mereka bersepakat untuk memanennya pagi-pagi sekali, dengan maksud tidak akan menzakatkan hasil panen itu sedikit pun kepada para faqir miskin.

Karena sikap, makar dan niat itu, Alloh subhanahu wata’ala mentakdirkan atas mereka tidak dapat memenuhi sumpah tersebut. Alloh turunkan azab. Kebun itu diliputi malapetaka yang datang di saat mereka sedang tidur. kebun itu tertimpa bencana langit.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman,

“maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang hitam.”
(QS. Al-Qolam [68]: 20)

Ibnu Abbas berkata, “(Yakni) bagaikan malam yang hitam” Ats-Tsauri dan As-Suddi berkata, “Seperti ladang yang telah dipanen, yakni kering kerontang.”

Keesokan harinya (sebelum tahu apa yang telah terjadi), dengan semangat mereka saling memanggil dan saling berbisik menuju kebun dengan tujuan menghalangi orang-orang miskin agar tidak tahu dan masuk ke kebun serta meminta shodaqoh dari hasil kebun itu.

Tetapi alangkah terkejutnya begitu melihat apa yang terjadi pada kebun-kebun yang mereka miliki, kebun itu sudah porak poranda, hitam, gersang dan kering kerontang bagaikan malam yang gelap gulita. Mereka berkata “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang tersesat(jalan)” (QS. Al-Qolam [68]: 26)

Ibnu abbas mengatakan pada awalnya mereka tidak percaya bahwa yang mereka dapati adalah kebun mereka karena mereka tahu kebun mereka sangatlah subur, hijau dan siap panen, tetapi saat itu mereka dapati dalam keadaan gersang. Setelah mereka menyelidiki secara seksama, barulah mereka sadar bahwa itu memang kebun mereka dan berkatalah mereka, “Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).” (QS. Al-Qolam [68]: 27). Yakni memang inilah kebun kita, tapi kita tidak beruntung dan tidak mendapat bagian sedikit pun.

Tiga Faidah utama cerita:

  1. Kehancuran, penderitaan, penyesalan dan kebinasaan akibat kekufuran terhadap nikmat Alloh, baik berupa nikmat hidayah (petunjuk yang di bawa oleh Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam) maupun nikmat yang berupa materi seperti harta, jabatan, ilmu dan lainnya.
  2. Kewajiban bersyukur atas karunia yang telah Alloh berikan dengan cara; Menjalankan apa yang telah Alloh perintahkan dan meninggalkan apa yang telah Alloh larang melalui Rosul-Nya.
  3. Menunaikan hak-hak dan kwajiban-kewajiban yang berhubungan dengan harta dengan cara; benar dalam memperolehnya, membayar kewajibannya (zakat, infaq, shodaqoh dan lain-lain).

Oleh: Ust. Muhammad Fatih Haidaril Iltizam, M.Pd.I.

Be Sociable, Share!