Cahaya Islam di Negeri Tirai Bambu

15 Apr 2014Redaksi Kisah Muslimah

Republik Rakyat China atau biasa dikenal dengan julukan negeri Tirai Bambu ini, memiliki luas Negara hingga mencapai 9.600.00 km2, negeri ini merupakan penduduk terbanyak di dunia hingga populasi melebihi 1,3 miliar jiwa. Negeri ini pun bahkan terbesar di Asia Timur dengan bentuk pemerintahan republik komunis, dan merupakan terluas di dunia, setelah Rusia dan Kanada.

RRC berbatasan dengan 14 negara sekitar: Afghanistan, Bhutan, Myanmar, India, Kazakhstan, Kirgizia, Korea Utara, Laos, Mongolia, Nepal, Pakistan, Rusia, Tajikistan dan Vietnam.

China mempunyai pasukan tentara terbesar di dunia, yaitu Pasukan Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army, PLA) yang terdiri dari angkatan laut  dan angkatan udara. Tentara RRC atau PLA kini terus memupuk kekuatan sebagai persiapan kemungkinan berperang dengan Amerika Serikat yang selama ini terus terjadi silang pendapat dalam kenegaraan. Negara ini aktif membeli senjata tempur canggih seperti Su-27 dan Su-30, hal ini di latar belakangi atas kehebatan AU Amerika di Irak.

Kemunculan Islam di Dataran China

Munculnya Islam di Negeri  ini disebabkan oleh rombongan yang diutus oleh Kholifah Utsman bin Affan raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) pada 651M. Yang mengetuai rombongan tersebut adalah Sa’ad bin Abi Waqqos raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him).

Pada zaman Dinasti Tang di China, Islam dibolehkan masuk dan kemudian berkembang. Hal ini ditandai banyaknya masjid-masjid yang berdiri di negeri ini. Adapun masjid yang pertama kali didirikan adalah masjid Huaisheng atau masjid Memorial di daerah Canton ada juga yang berpendapat Masjid pertama di China ialah Masjid Raya Xi’an. Masjid ini berdiri atas perintah Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang pada tahun 651 M.

Ketika Dinasti Tang berkuasa, Islam di China tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal oleh masyarakat China, khususnya di Tiongkok. Bahkan ketika Dinasti Song bertahta, umat Muslim telah menguasai industri ekspor dan impor.

Dengan perkembangan Islam yang kian melejit, maka pada zaman Dinasti Ming, Islam di China menghadapi rintangan dan perlawanan. Maha raja pertama Dinasti Ming ini, mengeluarkan perintah untuk melarang rakyat menyembelih lembu dan ada beberapa dasar yang mendiskriminasi umat Islam, termasuk orang Islam tidak boleh menjadi pegawai kerajaan dan lain-lainnya. Dengan sebab ini meletuslah kemarahan umat Islam di China yang saat itu sangat antusias dengan Islam, di antaranya umat Islam mengadakan pemberontakan di ibu kota Negara sebagai aspirasi protesnya.

Pada tahun 1978 pemerintah mulai mengendorkan kebijakannya kepada umat Islam, kaum Muslimin pun kini menggeliat di China hingga saat ini. Hal itu ditandai dengan banyaknya masjid serta aktivitas Muslim antar etnis di China.

Minoritas Bukan Berarti Lemah

Dengan empayar maharaja yang terus silih berganti hingga era peme-rintahan republik komunis, sinar Islam tidak pernah pudar. Malah, sejak 618 M hingga kini, dakwah Islam yang dibawa oleh sahabat Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), Sa’ad bin Abi Waqqos ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), terus kukuh di bawah acuan budaya dan nilai yang tersendiri sebilangan rakyat China. 

Kelompok etnis Muslim Cina terbagi 10 kelompok, yakni Hui, Uighur, Kazakh, Dongziang, Kirgiz, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan dan Tatar. Umumnya mereka adalah muslim suni bermazhab Hanafi.

Walaupun Muslim di China masih tergolong minoritas, penduduk Muslimnya kini mencapai 100 juta orang. Berarti secara jumlah penduduk muslim, China bisa bersanding dengan Indonesia,Pakistan dan India.

Negara Tirai Bambu ini juga memiliki banyak bangunan masjid lebih dari 42.000 masjid. Begitu juga dengan restoran-restoran khusus Muslim yang menyediakan makanan halal di seputar ibu kota. Setiap tahunnya, umat Islam di negeri ini terus bertambah. Pemerintah China pun kini mempermudah kehidupan beragama bagi kaum Muslim seperti pelaksanaan ibadah haji dan pendirian masjid.

Walaupun banyak juga kabar-kabar yang menyedihkan bagi kita atas kekejaman rezim China, di antaranya pembakaran masjid yang terjadi pada awal tahun bulan Februari kemarin. Dengan berdalih masjid tersebut ilegal, mereka membakar masjid tersebut hingga menewaskan 2 orang, 50 orang luka-luka dan 100 orang ditahan. [lihat: syabab.com]. Dalam hal ini, tidaklah heran dan sudah menjadi kewajaran, karena negara tersebut bukanlah negara Islam, apalagi negara komunis yang sangat membenci agama. Dengan do’a kita mudah-mudahan Alloh  memudahkan dakwah dan menolong saudara-saudara kita di negeri Tirai Bambu tersebut.

(Red-HASMI/Reno Saputra, S.Ud)