Bila Futur Melanda Diri

1 Aug 2017Redaksi Konsultasi

Bila Futur Melanda Diri
Tanya:
Assalamu’alaikum. Ust. Ana mau tanya. Ana selalu merasa hati ana rusak, kacau, kosong. Bagaimana caranya agar hati ana kembali menjadi hati yang bersih dan apakah kefuturan menyebabkan hati menjadi kacau? Syukron
Dari: Hamba Alloh, 085925093XXX

Jawab:
Saudaraku yang dirahmati oleh Alloh. Bencana alam, gempa bumi, kematian, kehilangan harta, fitnah, masihlah sebuah ujian yang tak seberapa, karena sesungguhnya ada 2 musibah yang jauh lebih besar dan berbahaya bagi seorang mukmin, dan kedua musibah itu adalah:
1. Hilangnya kekhusyukan dalam beribadah
2. Sulitnya hati dinasihati

Bila Futur Melanda Diri

Hilangnya kekhusyukan dalam beribadah disebabkan oleh maksiat-maksiat yang dilakukan. Semakin banyak maksiat, maka semakin sulit kita memaknai ibadah-ibadah kita, semakin terasa hambar, kosong, dan sekedar rutinitas. Hilang makna. Akhirnya terasa membosankan, karena kita kehilangan kenikmatan dan hikmah darinya. Kemalasan pun melanda, sulit tergerak ketika kewajiban harus tertunaikan. Lalu apa yang terjadi? Benar sekali, ia menjadi kefuturan, bahkan bisa jadi hingga ibadah-ibadah itu pun ditinggalkan. fasik!

Setiap maksiat itu akan selalu meninggalkan bekas, baik dalam ingatan, perilaku, kepribadian (akhlaq), entah langsung atau tidak. Dikatakan dalam Qs. Al Muthofifin 14, “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang telah mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka…”

Ada kata ‘ron’ di sana, apa itu ‘ron’? Ron adalah karat. Setiap maksiat demi maksiat, ia akan memberikan bekas dalam hati berupa karat-karat yang bisa-bisa menutupi hati seluruhnya. Satu maksiat meninggalkan satu titik, dua, tiga, maksiat, bertambahlah titik-titik karat itu, semakin banyak, semakin bertambah, selalu seperti itu, apalagi bila ia tak segera dibersihkan.

Taubat, dan amal-amal shalih itulah pembersihnya…

”Sungguh beruntung orang yang menyucikannya….”
(QS. Asy-Syams: 9)

Jiwa tak selalu suci bersih. Adakalanya ron-ron akan menutupi hati, namun barangsiapa rajin menyucikan jiwanya, selalu, maka ia lah orang-orang yang beruntung itu.

“Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya…”
(QS. Asy Syams: 10)

Banyaknya maksiat, serta banyaknya karat-karat yang menutupi hati, maka hilang sudah kekhusyukan dan kenikmatan beribadah, hilanglah makna, dan terasa membosankan, futur sudah, bahkan bisa-bisa fasik pula jadinya… na’udzzubillahimindzaalika…

Namun, begitulah akibatnya. Ketika itu terjadi, maka satu musibah besar telah menimpa, sangat besar. Bila tak jua disadari, maka musibah besar kedua bisa melanda pula, ‘sulitnya hati dinasihati’. Saat orang tua menegur, saat teman mengingatkan, saat mendengar ceramah ustadz, saat membaca buku, sukarnya ilmu diperoleh, sulitnya hati tergerak karena nasihat-nasihat itu. Ia telah tertutup ron-ron/karat-karat maksiat. Pintu kebenaran tertutup sudah, dan kesesatan menjadi ancaman. Benar-benar musibah yang besar. Berhati-hatilah!!.

Waspadalah jika ni’mat ibadah itu tak lagi kita rasakan!!. Resahlah jika kekhusyukan telah hilang dalam setiap amal!!. Segeralah mengingat-Nya, berlari mendekat pada-Nya, sungguh ampunan-Nya terhampar luas, lebih luas dari samudera, bahkan jika langit dan bumi dihamparkan!!. Bertaubatlah, dan bersihkan jiwa, hingga terasai lagi khusyukan dan kenikmatan mengabdi pada-Nya!!.

Cobalah juga kita kembali merenungi jati diri kita, perbaiki niat dan motivasi awal kita. Untuk siapa kita beribadah? Untuk apa kita beribadah? Manfaat apa yang diraih bila kita beribadah? Apa kerugiannya bila tidak melaksanakannya? Ulang-ulangi terus pertanyaan ini dan camkan jawabannya. Apakah dari semua jawaban lebih banyak manfaatnya buat kita atau untuk orang lain?

Baca juga artikel Agar Tidak Terjatuh Lagi Pada Lubang Yang Sama

Cari juga motivasi-motivasi yang dapat menyentakkan hati kita. Seperti menghadiri majlis ta’lim, meminta nasehat dari orang yang terpercaya, membaca buku-buku para ulama yang mu’tabar (diakui). Terkadang dengan hal-hal itu, walaupun hati kita sedang kosong, sewaktu-waktu dapat menyentakkan, meloncatkan kita pada periode yang di luar dugaan. Seperti lontaran batu yang dihempaskan ke atas langit. Begitupun diri kita, harus seperti itu. Asalkan kita harus tetap memenuhi syarat: Jangan pernah bosan!!. Mungkin pada satu kali pertemuan ta’lim atau nasehat tidak terasa atsar (hasiatnya), tapi yakinlah bila suatu saat Alloh  pasti akan memberikan jawabannya yang terbaik. Tidak selalu yang kita tuntut dari ta’lim tersebut, akan nyangkut semuanya pada hati kita. Karena kata para ulama, “Setitik ilmu yang Alloh  turunkan ke dalam hati kita, itulah yang bermanfaat.”

Coba bayangkan, bila kita senantiasa menuntut ilmu, dan bila tiba-tiba kita tersentak, kaget, merasakan alur jiwa yang tersirami oleh sederet kalimat pendek yang disampaikan oleh ustadz misalkan, maka itulah setitik ilmu yang Alloh  turunkan ke dalam hati kita, yang terkadang tidak kita sadari adalah merupakan sebuah anugerah yang sangat besar yang dapat menuntut kita menuju ke jalan-Nya. Dan yang pasti, itu tidak dapat datang sewaktu-waktu, bila kita tidak mengusahakannya.

Ada satu hadits dari Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam yang berbicara tentang kefuturan:
“Setiap waktu pasti ada gairahnya (masa semangat) dan di setiap gairah pasti mengalami penurunan (futur), barangsiapa penurunannya kepada sunnah maka ia telah beruntung dan barangsiapa penurunannya kepada sesuatu yang lain (selain sunnah) maka ia telah binasa.”
(HR. Ahmad)

Jadi, jangan salahkan bila diri kita mengalami masa penurunan itu, karena itu adalah hal yang wajar (sunnatulloh). Akan tetapi, di dalam hadits ini telah jelas, bila kefuturan menghinggapi, maka kita harus tetap teguh berada di dalam sunnah-sunnah Rosul sholallohu’alaihi wasallam, dalam amal-amal kebaikan yang wajib maupun sunnah, walaupun itu berubah, maksimal turun dari yang sunnah ke tingkat yang mubah, jangan sampai kita terjatuh kepada tingkat yang haram, apalagi meninggalkan yang wajib. Bila kita sampai terlempar dari sunnah Rosul dan terjatuh ke dalam perbuatan-perbuatan haram, maka seperti yang Rosul katakan, “ia celaka”.