Berselimut Tawadhu’ dalam Dinginnya Kesombongan

20 Feb 2014Redaksi Pemuda Juang

Berselimut Tawadhu’ dalam Dinginnya Kesombongan

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa jika ingin mulia, terhormat dan dipandang oleh manusia, maka janganlah sekali-kali ia menampakkan hal-hal yang dianggap dapat merendahkan dirinya di hadapan manusia. Seorang suami misalnya, enggan membantu pekerjaan rumah tangganya di rumah, hanya karena takut bahwa wibawanya akan hilang di mata istri dan anak-anaknya.  Misalnya lagi seorang pemimpin yang khawatir kehormatannya akan hilang jika ia berbicara langsng dengan OB (Office Boy), karena derajat di antara mereka terlalu tinggi. Ataupun seorang guru juga terkadang menganggap bahwa jika ia menerima saran ataupun masukan dari muridnya, maka harga dirinya pun akan jatuh.

Padahal Islam telah mengajarkan sifat tawadhu’ (rendah hati) sebagai salah satu sifat mulia yang akan membuat seseorang menjadi semakin mulia dan terhormat di mata penduduk langit dan bumi. Abu Bakar Ash Shiddiq raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) berkata, “Kami dapati kemuliaan itu datang dari sifat takwaqona’ah (merasa cukup) muncul karena yakin (pada apa yang ada di sisi Alloh), kedudukan mulia didapati dari sifat tawadhu’.”

Definisi  Tawadhu’

Sudah banyak para ulama yang mendefinisikan kata tawadhu’ ini, di antaranya adalah Ibnu Hajar al-Atsqolani raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him),  Ia berkata, “Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya.” Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Bari, 11: 341)

Sedangkan Al-Hasan Al-Bashri  raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) berkata, “Tahukah kalian apa itu tawadhu’Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang Muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”

Dan puncak dari sifat tawadhu’ ini adalah sebagaimana perkataan ‘Abdulloh bin Al-Mubarrok raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) “Puncak dari tawadhu’ adalah engkau meletakkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat Alloh, sampai-sampai engkau memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia dirinya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298)

Jadi secara garis besar tawadhu’ adalah tidak menyombongkan setiap nikmat yang Alloh berikan dan selalu merasa kurang dalam beramal sholeh di sisi orang lain.

Seorang ustadz yang tawadhu’ tidak mungkin melecehkan santrinya. Karena memang sang santri baru belajar kepadanya jadi sangat wajar jika ia kurang akan ilmu. Begitu pula orang yang kaya tidak mungkin merasa terhina jika duduk berdampingan dengan orang dhu’afa, karena ia tahu yang membedakan antara ia dengan sang dhu’afa hanyalah ketakwaan saja. Yang bisa jadi sang dhu’afa ini lebih mulia karena bersabar dengan keadaannya dibandingkan dengan dirinya yang mungkin malah terhina karena malas bersyukur atas hartanya.

Anjuran Memiliki Sifat Tawadhu’

Sifat tawadhu’ merupakan sifat yang sangat dianjurkan, Alloh berfirman (artinya): “Janganlah kalian memuji diri kalian. Dia lah yang paling tahu tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm [53]: 32). Alloh juga memerintahkan Rosul-Nya untuk berhias dengan akhlak yang mulia ini, sebagaimana firman-Nya yang mulia (artinya):“Rendahkanlah hatimu terhadap orang yang mengikutimu (yaitu) dari kalangan mukminin.” (Asy-Syu’ara’ [26]: 215). Begitu juga Rosulolloh, beliau ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) senantiasa memerintahkan para shahabatnya untuk bersikap tawadhu’. Iyad bin Himar menceritakan bahwa Rosulolloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda: “Sesungguhnya Alloh telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zholim atas yang lain.” (HR. Muslim no. 2588)

Keutamaan Sifat Tawadhu’

Sifat tawadhu’ merupakan sifat mulia yang akan membuahkan hasil yang mulia pula, nah di antara buah yang dapat kita petik jika kita memiliki sifat tawadhu’ ini adalah:

Pertama: Sebab mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana yang telah di singgung pada awal pembahasan, bahwa sifat tawadhu’ tidak akan mendatangkan kehinaan pada diri kita, akan tetapi akan mendatangkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Alloh pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia. Sedangkan di akhirat, Alloh akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia dari Abu Huroiroh, ia berkata bahwa Rosul bersabda:

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Alloh menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Alloh, melainkan Alloh akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588)

Kedua:Mendapatkan Akhlak yang baik sebagaimana Akhlaknya para Nabi dan Rosul

Tawadhu’ juga merupakan akhlak mulia dari para nabi . Nabi Musa melakukan pekerjaan rendahan, membantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta. Begitu pula Nabi Daud makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri, padahal ia adalah seorang raja sekaligus seorang Rosul. Belum lagi Nabi Zakariyadulunya seorang tukang kayu. Dan terlebih lagi Nabi Muhammad  memberi salam pada anak kecil dan yang lebih rendah kedudukan di bawah beliau .

Masya Alloh, sifat mulia para nabi tersebut. Mereka masih melakukan hal yang dianggap hina oleh sebagian manusia, walaupun mereka adalah seorang yang di muliakan oleh Alloh. Dan Karena sifat tawadhu’ itu, mereka bukannya menjadi orang yang hina bahkan malah menjadi semakin mulia di dunia dan di akhirat.

Ketiga: Akan disayangi dan dicintai di tengah-tengah manusia

Orang-orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati (tawadhu’) dan tidak menyombongkan diri. Karena secara fitroh seorang manusia tidak suka dengan orang yang selalu membangga-banggakan dirinya sendiri.

Ibnul Qoyyim raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) mengatakan, “Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya, maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya, maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.

Keempat : Dapat meraih surga (al-Jannah)

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menjanjikan al-jannah bagi orang-orang yang memiliki sikap tawadhu’ bukan kepada orang-orang yang sombong, sebagaiamana dalam firman-Nya (artinya):

“Itulah negeri akhirat yang Kami sediakan (hanya) untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu (hanya) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Qashash [28]: 83)

Bahkan Rosulolloh  ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), menegaskan bahwa orang yang tidak tawadhu’ alias memiliki sifat sombong walaupun hanya sebesar dzarroh, maka tidak akan masuk surga. Beliau  bersabda:

“Tidak akan masuk al jannah barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar dzarroh.”  (HR. Muslim)

(Red-HASMI/grms/Hendrisman Muadz S.Ud)