Beriman Kepada Hari Akhir

31 Oct 2018Redaksi Aqidah

Iman kepada hari Akhir merupakan salah satu rukun dari rukun iman, dan salah satu aqidah dari aqidah Islam yang pokok, karena masalah kebangkitan di negeri akhirat merupakan landasan berdirinya aqidah setelah masalah keesaan Alloh subhanahu wata’ala.

Iman kepada segala hal yang terjadi pada hari Akhir dan tanda-tandanya merupakan keimanan terhadap hal yang ghaib dan tidak dapat dijangkau oleh akal, serta tidak ada jalan untuk mengetahuinya kecuali dengan nash melalui wahyu.

Karena pentingnya hari yang agung ini pendengar, kita dapati di dalam al-Qur’an bahwa Alloh subhanahu wata’ala seringkali menghubungkan iman kepada-Nya dengan iman kepada hari Akhir.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman,

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Alloh, dan hari Kemudian…”
(QS. Al-Baqarah: 177)

 

ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“…Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir…”
(QS. Ath-Thalaaq: 2)

Kehidupan menurut pandangan Islam bukanlah sekedar kehidupan di dunia yang sangat pendek dan terbatas, bukan pula sebatas umur manusia yang begitu singkat. Sesungguhnya kehidupan menurut pandangan Islam sangatlah panjang, berlanjut sampai tidak ada batasnya.

Tempatnyapun berlanjut menuju tempat yang lain di dalam Surga yang luasnya seluas langit dan bumi atau di dalam Neraka yang semakin meluas karena banyaknya penghuni bumi yang melakukan kemaksiatan selama berabad-abad.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

“Berlomba-lombalah kamu kepada mendapatkan ampunan dari Rabb-mu dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Rosul-Nya…”
(QS. Al-Hadiid: 21)

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ

“Dan ingatlah akan hari yang pada hari itu Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dia menjawab, ‘Masihkah ada tambahan?’”
(QS. Qaaf: 30)

Sesungguhnya beriman kepada Alloh dan hari Akhir dan beriman kepada apa yang ada di dalamnya berupa pahala dan siksaan adalah sesuatu yang benar-benar mengarahkan prilaku manusia kepada jalan yang benar. Tidak ada satu undang-undang pun yang dibuat manusia yang mampu menjadikan perilaku manusia lurus dan istiqomah sebagaimana yang dihasilkan oleh iman kepada hari Akhir.

Ada perbedaan yang sangat jelas antara prilaku orang yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, dia mengetahui bahwasanya dunia adalah ladang bagi kehidupan akhirat, juga mengetahui bahwasanya amal sholih adalah bekal hari Akhir.

Perbedaan antara prilaku orang yang beriman kepada Alloh subhanahu wata’ala dan hari akhir dengan perilaku orang yang tidak beriman kepada Alloh subhanahu wata’ala, hari Akhir dan apa yang ada di dalamnya berupa pahala dan siksaan. Dia memiliki perilaku yang istimewa di dalam kehidupannya, kita bisa menyaksikan keistiqomahan di dalam dirinya, luasnya pandangan, kuatnya keimanan, teguh di atas cobaan yang menimpanya, sabar dalam menghadapi setiap musibah, dengan mengharap pahala dan ganjaran dari Alloh subhanahu wata’ala, serta yakin bahwa apa yang ada di sisi Alloh subhanahu wata’ala lebih baik dan lebih kekal.

Manfaat seorang muslim tidak terbatas hanya untuk manusia saja, akan tetapi dirasakan pula oleh hewan, sebagaimana ungkapan yang sangat terkenal dari ‘Umar bin al-Khaththab rodhiyallohu’anhu: “Seandainya ada seekor keledai terjatuh di Irak, sungguh aku yakin bahwa Alloh subhanahu wata’ala akan bertanya kepadaku di hari Kiamat tentangnya, ‘Kenapa engkau tidak membuatkan jalan untuknya wahai ‘Umar?’”

Perasaan seperti ini adalah buah dari keimanan kepada Alloh subhanahu wata’ala dan hari Akhir, perasaan beratnya beban dan besarnya amanah yang dipikul manusia. Di mana langit, bumi dan gunung merasa iba untuk menerimanya karena dia tahu bahwa segala hal baik yang kecil atau yang besar akan dimintai pertanggungjawaban, akan diperhitungkan dan akan dibalas. Jika baik maka baik pula balasannya, jika jelek maka jelek pula balasannya.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman,

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا

 “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan di mukanya, begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh…”
(QS. Ali ‘Imran: 30)

Adapun orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari Akhir serta apa yang ada di dalamnya, baik perhitungan maupun pembalasan, maka dia akan selalu berusaha dengan keras untuk mewujudkan segala keinginannya dalam kehidupan di dunia, terengah-engah di belakang perhiasannya, rakus dalam mengumpulkan harta dan perhiasannya, dan sangat bakhil atau pelit jika orang lain ingin mendapatkan kebaikan melaluinya.

Dia telah menjadikan dunia sebagai tujuannya yang paling besar dan paling utama. Dia mengukur setiap perkara dengan kemaslahatannya semata, tidak mempedulikan orang lain dan tidak pernah melirik sesamanya kecuali dalam batasan-batasan yang dapat mewujudkan manfaat bagi dirinya pada kehidupan yang pendek dan terbatas ini. Dia bergerak dengan menjadikan bumi dan umur sebagai batasannya kesenangan ssemata. Oleh karena itu, sistem perhitungan dan pertimbangannya pun berubah-ubah dan akan berakhir dengan hasil yang salah dan kosong belaka karena dia menganggap bahwa hari Kebangkitan itu tidak mungkin terjadi dan tak pernah ada.

Inilah cara pandang Jahiliyyah, sangat terbatas dan sangat sempit. Cara pandang ini telah menjadikan mereka berani melakukan pembunuhan, merampas harta dan merampok. Hal ini disebabkan karena mereka tidak beriman kepada hari Kebangkitan dan hari Pembalasan, sebagaimana yang digambarkan Alloh subhanahu wata’ala  tentang keadaan mereka dalam firman-Nya:

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

“Dan tentu mereka akan mengatakan pula, ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan.’”
(QS. Al-An’aam: 29)

Hal ini serupa sebagaimana ungkapan mereka, “Kehidupan hanyalah rahim-rahim yang melahirkan dan bumi yang menelan.”.

Masa terus berlalu dan datanglah suatu keanehan, maka pengingkaran terjadi semakin besar. Kita dapat menyaksikan pengingkaran yang menyeluruh terhadap sesuatu yang ada di belakang materi yang dirasakan panca indera, sebagaimana dinyatakan oleh kaum komunis marxis atheis yang mengingkari adanya pencipta, tidak beriman kepada Alloh dan tidak mengimani adanya hari Akhir. Faham ini mengatakan bahwa kehidupan hanyalah materi belaka! Tidak ada hal lain di belakang materi yang bisa dirasakan ini.

Orang musyrik tidak mengharapkan adanya kebangkitan setelah kematian. Dia menginginkan kehidupan dunia yang terus-menerus, sementara orang Yahudi mengetahui segala kehinaan yang akan mereka dapatkan di akhirat, disebabkan apa yang mereka perbuat terhadap ilmu yang mereka ketahui. Manusia seperti ini dan yang serupa dengannya adalah manusia yang paling buruk.

Sehingga kita akan dapati sesuatu yang menyebar di kalangan mereka berupa keserakahan, ketamakan, memaksa rakyat dan menjadikannya budak dan mengambil kekayaan mereka karena kerakusan untuk menikmati kehidupan dunia. Karena itulah nampak dari mereka hilangnya akhlak dan prilaku layaknya seperti hewan.

Jika mereka memandang kehidupan dunia, bertambahlah rasa lelah dan rasa sakit atas apa yang mereka harapkan dari kenikmatannya yang segera dan fana. Sementara tidak ada satu pun penghalang yang bisa menahan mereka dari kematian, karena mereka tidak yakin sama sekali akan adanya pertanggungjawaban di akhirat dan mereka tidak memiliki beban apa pun untuk mengakhiri kehidupannya.

Karenanya Islam sangat memperhatikan tetang pentingnya beriman kepada hari akhirat. Dan islam sangat menekankan penganutnya untuk beriman terhadap hari Akhir, dan penetapan adanya kebangkitan, hisab serta balasan.

Alloh subhanahu wata’ala mengingkari sikap mereka yang menganggap bahwa hari Akhir itu mustahil terjadi dan Dia memerintahkan Nabi-Nya agar bersumpah bahwa hal ini adalah haq atau benar adanya, Alloh subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,

“…Katakanlah (Muhammad), ‘Memang, demi Rabb-ku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.”
(QS. At-Taghaabun: 7)

Dan Alloh subhanahu wata’ala menyebutkan keadaan hari Kiamat, pahala yang dijanjikan bagi para hamba-Nya yang bertakwa, juga siksa yang diancamkan kepada mereka yang melakukan kemaksiatan. Dia mengarahkan pandangan orang-orang yang mengingkarinya kepada bukti-bukti kebenarannya agar keraguan hati terhadapnya benar-benar hilang dan menjadikan hati mereka yakin tentang hari Kiamat dan kengeriannya yang menggetarkan badan. Hal itu agar prilaku mereka dalam kehidupan ini menjadi lurus dengan mengikuti agama yang haq yang dibawa oleh Rosul mereka .

Jika kita sebagai manusia menghayati Sunnatullah di alam ini, juga keagungan hikmah-Nya, perhatian-Nya yang besar terhadap manusia lainnya dan kemuliaan yang diberikan kepadanya, niscaya hal itu akan mendorong mereka untuk beriman kepada hari Akhir. Maka saat itu rasa egois tidak akan betah di wajahnya yang penuh kebencian, tidak akan rakus dalam mencari kehidupan dunia, bahkan ia akan selalu saling membantu dalam ketakwaan dan kebaikan.

Mengimani dan meyakini adanya hari kebangkitan atau hari kiamat merupakan hal yang wajib dan utama tertanam kuat dalam jiwa-jiwa kita sebagai seorang muslim dan yang telah mengikrarkan diri beriman kepada Alloh subhanahu wata’ala, Karen dengan beriman kepada hari akhir ini akan menimbulkan rasa kauf kepada Alloh subhanahu wata’ala sehingga mendorong kita untuk taat dan patuh terhadap perintah-perintah-Nya dan menjauhi larang-larangan-Nya.

Wallohu A’lam..