Berbuat Baiklah Kepada Keduanya

22 Aug 2017Redaksi Aqidah

Berbuat Baiklah Kepada Keduanya – Islam sangat memperhatikan hak-hak orang tua dan kerabat, sehingga kita ditekankan untuk mengamalkannya dengan baik terutama hak-hak orang tua, karena mereka telah melahirkan, mengasuh, mendidik dan membesarkan kita sehingga kita menjadi manusia yang berguna. Oleh karena itu, kita wajib berbakti kepada kedua orang tua dengan cara mentaati, menghormati, mencintai, menyayangi, membahagiakan serta mendoakan keduanya ketika keduanya masih hidup maupun sudah meninggal dunia.

Birrul Walidian (berbakti kepada kedua orang tua) adalah salah satu masalah yang penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan kepada manusia untuk bertauhid kepada-Nya, Alloh subhanahu wata’ala memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

Dalam Qs. al-Isro’ ayat 23-24, Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Robb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu, maka janganlah katakan kepada keduanya, perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya”
(QS. al-Isro’ [17]: 23)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Robb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.”
(QS. al-Isro’ [17]: 24)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rohimahulloh telah menerangkan ayat tersebut sebagai berikut:
“Alloh Ta’ala telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada Alloh subhanahu wata’ala saja, tidak menyekutukan dengan yang lain. “Qadla” disini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, wa qadla yakni washa (Alloh subhanahu wata’ala berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan “Wabil waalidaini ihsana” hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Ayat ini mempunyai makna yang sama dengan surat Luqman ayat 14.

 

“…. Hendaklah kalian bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu dan kepada-Ku lah kalian kembali.”

Dan jika salah satu dari keduanya atau keduanya berada di sisimu dalam keadaan lanjut usia, “fa laa taqul lahuma uffin”, maka janganlah berkata kepada keduanya ‘ah’ (‘cis’ atau yang lainnya). Jangan memperdengarkan kepada keduanya perkataan yang buruk. “Wa laa tanharhuma” dan janganlah kalian membenci keduanya. Ada juga yang mengatakan bahwa “Wa laa tanhar huma ai la tanfudz yadaka alaihima” maksudnya adalah janganlah kalian mengibaskan tangan kepada keduanya. Ketika Alloh  melarang perkataan dan perbuatan yang buruk, Alloh  juga memerintahkan untuk berbuat dan berkata yang baik. Seperti dalam firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala ” wa qul lahuma qaulan karima” dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang lembut dan baik dengan penuh adab dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang, hendaklah kalian bertawadlu’ kepada keduanya. Dan hendaklah kalian berdoa, “Ya Alloh sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi dan mendidikku di waktu kecil”, pada waktu mereka berada di usia lanjut hingga keduanya wafat. [Tafsir Ibnu Katsir]

Perintah Birrul Walidain juga tercantum dalam Qs. An-Nisa’ ayat 36, Alloh subhanahu wata’ala berfirman.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Dan sembahlah Alloh dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat kepada anak-anak yatim kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.”
(QS. an-Nisa’ [4]: 36)

Para ulama terdahulu telah membahas masalah Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua) ini dalam kitab-kitab mereka. Sepeti dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan kitab-kitab hadits besar (Ummahatul Kutub) lainnya dalam pembahasan tentang berbakti kepada kedua orang tua dan ancaman terhadap orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tua.

Taat kepada kedua orang tua adalah hak orang tua atas anak sesuai dengan perintah Alloh subhanahu wata’ala dan Rosul-Nya sholallohu’alaihi wasallam selama keduanya tidak memerintahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan dan syari’at Alloh subhanahu wata’ala dan Rosul-Nya. Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda.

“Artinya: Tidak boleh taat kepada seseorang dalam berbuat maksiat kepada Alloh”
(HR. Ahmad)

Sebaliknya, kita juga dilarang durhaka kepada kedua orang tua karena hal itu termasuk dosa besar yang paling besar. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa seseorang tidak masuk surga bila durhaka kepada kedua orang tuanya.

“Artinya: Tidak masuk surga orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikan (menyebut-nyebut kebaikan yang sudah diberikan), anak yang durhaka dan pecandu khomr.”
(HR. An-Nasa’i. Lihat Shohih Jami’us Shaghir)

Be Sociable, Share!