Awal Mula Keterpurukan Umat Manusia

8 Jul 2019Redaksi Aqidah

AWAL MULA KETERPURUKAN UMAT MANUSIA 

Umat manusia mengalami kebangkitan dan keterpurukan yang terjadi silih berganti sepanjang sejarah. Adam ‘alaihissalam menjadi insan yang bangkit dengan bertaubat kepada Alloh subhanahu wata’ala setelah mengalami ‘keterjatuhan kecil’. Beliau diturunkan ke bumi sebagai insan bangkit, mendapatkan limpahan rahmat Alloh subhanahu wata’ala dan curahan ampunan-Nya serta kedudukan mulia dengan diangkat sebagai seorang Nabi.

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ. ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ

“Lalu Adam dan Hawa memakan buah pohon itu, maka terbukalah aurat mereka, kemudian mereka menutupinya dengan daun-daun di surga. Adam berbuat dosa kepada Robb-nya dan tergelincirlah ia karena telah melanggar larangan Alloh. Lalu Alloh memilihnya sebagai Nabi, Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.”
(QS. Thoha: 121-122)

Kebangkitan ruhani Adam ‘alaihissalam diawali oleh penyesalan atas perbuatannya melanggar sebuah larangan Alloh subhanahu wata’ala akibat tipudaya iblis yang menjerumuskannya agar memakan buah pohon terlarang. Lalu Adam ‘alaihissalam segera bangkit bertaubat memohon ampunan dan rahmat Alloh subhanahu wata’ala serta perlindungan dari akibat buruk atas dosa yang telah dilakukannya. Jika tidak dengan ampunan dan rahmat Alloh subhanahu wata’ala pastilah kerugian besar akan dialaminya.

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat taubat dari Robbnya agar ia bertaubat kepada-Nya, maka Alloh pun menerima taubatnya. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqoroh [2]: 37)

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ  

“Adam dan Hawa berdoa: “Ya Robb kami, kami menzolimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-A’rof: 23)

Selama sepuluh generasi setelah Adam ‘alaihissalam, umat manusia hidup dengan mentauhidkan Alloh subhanahu wata’ala tanpa sedikit pun kesyirikan dan kekufuran terjadi pada masa itu. Mereka berpegang dengan syariat Islam yang telah diajarkan oleh Nabi Adam ‘alaihissalam. Namun tiba suatu masa di mana setan kembali mengelabui manusia dengan tipu daya halus dan bertangga, hingga akhirnya manusia terpuruk dalam kesyirikan.

Ibnu Abbas rodhiyallohu’anhu menjelaskan,

“Antara Nuh dan Adam ada sepuluh generasi. Mereka semua berada di atas syariat yang benar. Kemudian mereka menyimpang, lalu Alloh mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.
(HR. At-Thabari).

Awal mula kesyirikan terjadi di masa umat Nabi Nuh ‘alaihissalam, ketika ada segolongan di antara mereka yang tergelincir mengikuti makar penyesatan Setan untuk membuat patung-patung kakek moyang mereka.  Wadd, Suwa’, Yaghut, Ya’uq dan Nasr adalah orang-orang solih yang mereka hormati dan cintai. Patung-patung yang semula dibuat dengan tujuan sebagai pengingat atas kesholihan mereka untuk diteladani, lambat laun akhirnya disembah dan diibadahi.

Iblis yang memang telah bersumpah akan menyesatkan manusia sebagai bentuk dendam kesumat dan hasadnya kepada Adam dan keturunannya, berupaya keras menipu mereka. Generasi setelah mereka pun terpuruk semakin dalam dengan menyematkan keistimewaan palsu berupa hak-hak ketuhanan pada patung-patung itu, yang kemudian menjadi berhala-berhala sesembahan setiap kabilah di antara mereka.

Kemudian Alloh subhanahu wata’ala mengutus Nuh ‘alaihissalam untuk membangkitkan kaumnya dari keterpurukan ruhani total. Namun berbagai upaya dakwah beliau selama 950 tahun mendapat penolakan dari kaumnya. Hanya sedikit yang beriman dan bangkit ruhaninya, sedangkan mayoritas mereka membangkang dan tetap dalam keterpurukan.

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Mereka berkata: “Jangan sekali-kali kalian meninggalkan sesembahan kalian dan janganlah kalian meninggalkan penyembahan kepada Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.”
(QS. Nuh [71]: 23)

Akibat keterpurukan ruhani yang telah sangat dalam ini, Alloh subhanahu wata’ala mengazab mereka dengan ditenggelamkan dalam sebuah banjir dahsyat. Keterpurukan duniawi yang telah membinaskan mereka yang tidak beriman. Yang jauh lebih dahsyat dan mengerikan dari itu adalah keterpurukan ukhrawi yang telah menanti mereka berupa azab Jahannam yang tak terperikan.

مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا

“Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapati penolong selain Alloh.”
(QS. Nuh [71]: 25)