Antara Fitroh dan Ketauhidan

8 Apr 2014Redaksi Manhaj

Tauhid Itu Fitroh

Yang dimaksud dengan fithroh di sini adalah keadaan asal saat manusia diciptakan, yaitu dalam keadaan beragama Islam atau bertauhid.

Sejak penciptaannya, Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) telah menanamkan dalam diri manusia fithroh yang siap menerima dan mencintai kebenaran, memilih tauhid daripada syirik dan memilih keimanan daripada kekufuran.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“….(Tetaplah atas) fithroh Alloh  yang telah menciptakan manusia menurut fitroh itu. Tidak ada perubahan pada fitroh Alloh  (Itulah) agama yang lurus…”(QS. ar-Rum [30]: 30) [lihat: Al-Madkhol li Ad-dirosati Al-Aqidati Al-Islamiyati ‘Ala Madzhabi Ahlissunnati wal Jama’ati, hlm. 115]

Jika tidak ada pengaruh luar yang merubahnya, niscaya manusia akan tetap bahkan tumbuh keimanannya terhadap adanya Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan meng-esakan-Nya. Adapun seseorang yang tidak menerima Islam sebagai agama, maka hal itu hanyalah dikarenakan pengaruh orang-orang sekitar mereka baik karena pengaruh orang tua, mau-pun pengaruh luar lainnya sehingga kefitrohannya hilang.

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

Tidak ada seorang anak pun kecuali lahir dalam keadaan fithroh. Kedua ibu bapaknyalah yang men-jadikannya Yahudi, Nashroni, atau Majusi.(HR. Bukhori dan Muslim)

Juga sabda Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dalam hadits qudsi, Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفاء، فَاجْتَالَتْهُم الشَّيَاطِيْنُ عَنْ دِيْنِهِمْ

Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku dalam keadaan lurus (di atas agama tauhid, yaitu Islam), lalu datang kepada mereka Setan yang menyimpangkan agama mereka..” (HR. Muslim)

Seluruh Manusia Mengakui Ketauhidan Allah

Fithroh Terhadap Tauhid Rububiyah

Setiap manusia, sejak diciptakannya pasti telah mengimani keberadaan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan menetapkan bahwa Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) pencipta segala sesuatu, Pemberi rezeki, Dzat yang menghidupkan, mematikan, memberikan manfaat dan mudhorot dan lain sebagainya dari perbuatan-perbuatan Alloh .

Fakta telah membuktikan yang demikian itu, bahkan orang-orang musyrikin yang kafir, mereka pun mengakui keesaan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dalam rububiyahan-Nya.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? tentu mereka akan menjawab: Alloh .”  (QS. Luqman [31]: 25)

Fithroh Terhadap Tauhid Asma’ was Sifat

Dalam hal Tauhid Asma Was Sifat, fithroh manusia akan mengakui bahwa penciptanya memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Maha Agung, Maha Besar, Maha Tinggi, Maha Per-kasa, dan Maha Sempurna dari segala kekurangan. Dan tidak mungkin ada sesuatupun yang dapat menyerupai Alloh  dalam nama-nama dan sifat-sifat tersebut.

Alloh  berfirman:

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”  (QS. asy-Syuro [42]: 11)

Sejak masa Salafussolih tidak ada satu orang pun yang tidak mengerti tentang Asma wa Sifat, karena fithroh mereka yang bersih. Oleh karena itu ketika Imam Malik  ditanya tentang sifat Alloh al-Istiwa ‘Alal Arsy (ber-semayam di atas Arsy), beliau menjawab:

الاسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ وَاْلكَيْفُ مَجْهُوْلٌ وَالاِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ والسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Istiwaa’ itu telah diketahui (makna-nya), kaifiyahnya (hakikat bagaimana Alloh bersemayam) tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan mena-nyakan tentangnya adalah bid’ah.” [Syarh I’tiqod Ahlissunnati wal jama’ati, al-Laalikai. 3/429]

Fithroh Terhadap Tauhid Uluhiyah

Setelah fitroh mengakui tauhid Rububiyah dan Asma was Sifat, maka secara otomatis fithroh tersebut pasti mengakui pula bahwa hanya Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) yang berhak disembah, dimintai pertolongan, ditaati, diagungkan, dan  dibesarkan serta ditakuti oleh semua makhluk-Nya.

Nabi Ibrohim 'alayhi'l-salām (peace be upon him) yang dilahirkan di lingkungan  gelap gulita, dikomonitas penyembahan berhala.  Bahkan berhala itu harus dibuat dengan tangan mereka sendiri. Maka bagaimana mungkin ia menetapkan bahwa berhala bisa men-jadi Robb semesta alam? Pengetahuan inilah yang disebut fithroh, sebagai-mana ucapan beliau  kepada bapaknya:

Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong engkau sedikitpun?.” (QS. Maryam [19]: 42)

Kendati banyak orang-orang musyrikin yang menolak tauhid ini,  namun bukan berarti tidak adanya fithroh pada mereka. Fithroh mereka ini, dapat terlihat pada saat orang-orang musyrikin mengalami suatu peristiwa yang sulit lagi genting.

 Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kalian seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. al-Isro’ [17]: 67)

Jadi jelas sekali, tauhid itu benar-benar fithroh. Sedangkan syirik, penyem-bahan berhala, meminta pertolongan kepada orang yang telah mati, bersandar kepada jimat, dan lain sebagai-nya bukanlah berasal dari fithroh manusia.

Sejarah Telah Membuktikannya

Manusia sepanjang sejarahnya, sejak Nabi Adam 'alayhi'l-salām (peace be upon him) hingga Nabi Nuh 'alayhi'l-salām (peace be upon him) yang diperkirakan sepuluh abad lamanya, hidup di atas fithroh tauhid.

 Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Manusia itu adalah umat yang satu (agama yang satu). (setelah timbul perselisihan), Maka Alloh  mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Alloh  menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.”  (QS. al-Baqoroh [2]: 213)

Ibnu ‘Abbas raḍyAllāhu 'anhum (may Allāh be pleased with them) berkata:

Antara Nuh dan Adam  terdapat 10 abad lamanya, seluruhnya berada dalam syari’at yang benar, lalu mereka berselisih. Maka Alloh  mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.[Tafsir Ibnu Katsir]

Saudaraku kaum muslim..

Semoga Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) senantiasa menjaga fithroh yang ada dalam diri-diri kita, dengan begitu kita akan menerima syari’at Islam, agama tauhid dengan lapang dada.

Barangsiapa yang dikehendaki Alloh  berupa petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.” (QS. al-An’am [6]: 125)

Wallohu A’lam 

(Red-HASMI/IH/Supendi S.Sy)