Amanah Itu: Tugas Dan Tujuan Hidup

2 Feb 2018Redaksi Manhaj

AMANAH ITU:
TUGAS DAN TUJUAN KEHIDUPAN

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.”
(Qs. Al Ahzab [33]: 72)

Tahukan kalian, amanah apakah yang telah diemban manusia itu?

Menurut Abul `Aliyah amanah di ayat ini berarti “perintah Alloh subhanahu wata’ala untuk menta`ati-Nya dan larangan untuk ma`siat kepada-Nya”. Sedangkan Ibnu `Abbas, Mujahid, Hasan dan Ibnu Zubeir mengartikan amanah dengan “undang-undang dan hukum yang Alloh wajibkan untuk hamba-hamba-Nya”. (an-Nukat wal Uyun: 3: 396).

Intinya menurut para ahli tafsir yang mulia, amanah itu adalah “pengabdian kepada Alloh subhanahu wata’ala dengan mendirikan agama-Nya dan tugas kekhilafahan, penguasa bumi yang berperan sebagai penyelenggara tauhid”.

Ini berarti manusia mengemban satu amanah besar yaitu menunaikan tujuan dari penciptaannya, beribadah hanya kepada Alloh subhanahu wata’ala saja serta menyandang tugas khilafah, yaitu bertugas menegakkan syari`at tauhid di muka bumi untuk seluruh makhluk-Nya.

Manusia diberi amanah Islam, sirotulmustaqim yang dibawa oleh para rosul-Nya untuk di-peluk, diyakini, diamalkan, disebarkan dan di-tegakkan untuk semua makhluk bumi.

Manusia bukan bertugas mencari harta benda, bukan bertugas memperbanyak keturunan (walaupun semua itu adalah sarana penting untuk menunaikan tugasnya), tetapi tugasnya adalah “mengabdi hanya kepada Alloh subhanahu wata’ala dengan mendirikan tauhid untuk seluruh makhluk-Nya”.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah hanya kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Alloh Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 56-58)

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, praktek-praktek ibadahku, hidupku dan matiku ha-nyalah untuk Alloh, Robb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh)”.
(QS. Al-An`am [6]: 162-163)

Ibadah berarti “seluruh bentuk perkataan dan perilaku, baik yang tersembunyi di batin maupun yang tampak di zhohir harus berasas pada apa yang dicintai dan diridhoi Alloh subhanahu wata’ala”. Praktek-paktek gerak dan diam manusia yang tam-pak maupun tersembunyi harus untuk Alloh dan berasas hukum-hukum-Nya. Undang-undang dasar kehidupan manusia, baik yang bersifat individual maupun yang bersifat kolektif komunal haruslah wahyu, al-Qur`an dan Sunnah Rosul-Nya. Loyali-tas dan anti loyalitasnya pun harus diasaskan pada kecintaan dan kebencian Alloh subhanahu wata’ala yang tertuang dalam wahyu tuntunan-Nya.

Setelah dituntut beriman, manusia-manusia beriman itu diperintahkan menegakkan tauhid dan syari`at-Nya serta berda`wah dan berjihad untuk memasukkan umat manusia ke dalam agama Alloh subhanahu wata’ala, juga untuk menegakkan syari`ah untuk semua makhluk bumi. Inilah tugas dan tanggung jawab manusia sebagai kholifah di muka bumi.

AMANAH ITU SENTRAL KEBANGKITAN DAN KETERPURUKAN

Saat menceritakan tawaran amanah kepada Adam  yang tidak mampu dipikul oleh langit, bumi dan gunung-gunung, Ibnu Katsir rohimahulloh menceritakan:

“Ali bin Abi Tholhah meriwayatkan bahwa Ibnu `Abbas berkata: Amanah adalah kewajiban dari Alloh subhanahu wata’ala yang ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, dimana jika mereka menunaikannya mereka akan diberikan balasan mulia dan jika diabaikan, mereka akan dibalas hina. Mereka pun semua tidak siap menerimanya dan khawatir mengabaikannya sebagai tanda pengagungan kepada agama Robbnya. Amanah ini pun kemudian disampaikan kepada Adam ‘alaihissalam (dengan semua kandungan dan konsekwensinya), dan Adam ‘alaihissalam menerimanya”. (Tafsir al-Qur`an al-`Azhim, Ibnu Katsir: 6/488)

Riwayat ini sangat tegas menggambarkan bahwa amanah (ibadah dan khilafah) adalah poros sentral kebangkitan dan keterpurukan manusia, baik individual maupun komunal kebangsaan di sisi Alloh subhanahu wata’ala, bukan ekonomi atau ilmu pengetahuan alam dan teknologi seperti propaganda kaum sekuler atau pengamat Muslim pecinta dunia.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan Alloh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Alloh; karena itu Alloh merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”
(QS. An-Nahl [16]: 112)

Menurut para ulama tafsir, negeri yang di-maksud dalam ayat ini adalah Makkah. Apa yang terjadi saat penduduk Makkah mengingkari nikmat-nikmat Alloh, yaitu dengan mendustakan ajaran dan tuntunan Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam? Negeri yang pada awalnya penuh ketentraman dan kedamaian, saat itu berubah menjadi bencana dan petaka, penuh kemiskinan dan keterpurukan.

Keterpurukan ruhani yang melanda Makkah saat itulah yang mengakibatkan keterpurukan duniawi, kelaparan dan ketakutan yang amat kelam.

Pandangan ini tercermin pada keyakinan dari seorang sohabat yang mulia, Ja`far bin Abi Tholib saat menerangkan keadaan mereka kepada Raja Habasyah (Ethiopia):

“Wahai tuan Raja… Dahulu, kami adalah bangsa jahiliyyah. Kami menyembah patung berhala, memakan bangkai, berbuat keji hina, memutus hubungan rahim, berbuat buruk kepada tetangga dan si kuat menindas si lemah. Di saat kondisi seperti itulah Alloh subhanahu wata’ala mengutus Rosul-Nya kepada kami yang sangat kami kenal keturunan, kejujuran, amanah dan kebersihannya. Dia seru kami untuk beribadah hanya kepada Alloh subhanahu wata’ala dan mengabdi-Nya, meninggalkan patung-patung berhala batu, dan lainnya, serta jujur dalam ber-kata, menunaikan amanah, silaturrahmi, terlarang menumpahkan darah haram, melarang kekejian, berkata kotor, makan harta anak yatim, dan lain-nya…” (ar-Rohiqul Makhtum: 84). Betapa indah dan kokohnya keyakinan Anda wahai sohabat yang mulia… Rodiyallohu `anhu (Semoga Alloh  meridhoinya)…

Di mata orang-orang yang bertauhid terdapat konsep “Penunaian amanah adalah sentral kebangkitan, dan pengabaian amanah adalah sentral keterpurukan umat manusia”.

Renungkanlah…!!!
Dan berbenahlah untuk bangkit…!!!