Al Qur’an Nikmat Terbesar Bagi Ummat Termulia

27 Feb 2018Redaksi Aqidah

 Al Qur’an Nikmat Terbesar
Bagi Ummat Termulia

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

 “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian peringatan dari Robb kalian, penyembuh bagi penyakit di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yunus: 57)

Sesungguhnya Alloh subhanahu wata’ala telah memberikan limpahan karunia teramat agung atas ummat Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam. Nikmat yang tidak diberikan kepada ummat lain sebelum mereka, yaitu al-Qur’an.

Kitab suci yang didalamnya terkandung berjuta kebaikan yang diperuntukkan bahkan bukan hanya bagi mereka, tetapi juga untuk semesta alam. Anugerah terbesar yang merupakan mu’jizat abadi dan senantiasa terjaga, namun, teramat sedikit dari ummat termulia dan terkasih ini yang menyadari, karena mayoritas mereka memang telah buta mata hatinya.

Dalam ayat diatas (QS. Yunus: 57) Alloh subhanahu wata’ala menyebutkan berbagai kebaikan yang terkandung dalam al-Qur’an, dan sesungguhnya semua kebaikan ini amat dibutuhkan oleh seluruh hamba-Nya, yaitu:

Pertama: Mau’izhoh (peringatan), dimana Alloh subhanahu wata’ala memberi peringatan kepada manusia atas berbagai perbuatan yang akan menghantarkan kepada murka-Nya, yang berkonsekwensi mendatangkan siksa-Nya. Semua hal yang membawa mudhorot bagi manusia telah dijelaskan dengan gamblang, sebagaimana jalan-jalan kebaikan telah dijelaskan dengan sangat terang benderang.

Kalau saja manusia tidak mendapatkan tuntunan ini, maka pastilah mereka terpuruk pada jurang kenistaan dan kesengsaraan. Setiap orang di dunia ini akan berbuat sesuka hati, dan tak peduli apa hasilnya di akhirat nanti. Yang terpenting, hawa nafsu yang menjadi ‘panglima’nya telah terpuaskan.

Kedua: syifâ limâ fish shudûr (obat/ penyembuh bagi penyakit di dalam dada), yaitu syahwat yang cenderung menentang tuntunan syari’ah, dan syubhat yang dapat merusak ilmu yang telah diyakini. Didalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang memotivasi untuk berbuat kebaikan dan memperingatkan agar waspada dan menjauhi keburukan. Janji berupa berbagai kenikmatan surga yang seharusnya menjadikan manusia tergerak untuk beramal sholih, dan ancaman berupa siksa neraka nan dahsyat mengerikan yang seharusnya mencegah mereka untuk berbuat dosa.

Mereka yang mentadabburi al-Qur’an, dengan memahami makna dan kandungan ayat-ayat didalamnya akan mendapatkan derajat keyakinan tertinggi, yang selanjutnya akan berbuah pada lurusnya setiap aktivitas anggota tubuhnya.

Ketiga dan keempat: huda (petunjuk) dan rahmat (kasih sayang) bagi orang-orang yang beriman. Al-Huda yaitu berupa ilmu tentang al-haq (kebenaran) dan pengamalannya. Dan ar-rahmah adalah segala bentuk kebaikan dan balasannya baik di dunia maupun di akhirat, yang itu semua hanya akan didapatkan oleh orang yang mengambilnya sebagai petunjuk.

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh menjelaskan makna syifa’ dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dalam ayat lainnya yang semakna, yaitu QS. Al-Isra’: 82 :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

 “Dan kami turunkan dari al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zhalim al-Qur’an itu hanya akan menambah kerugian.”
(QS. Al-Isra’: 82)

Dimana beliau  menjelaskan bahwa Al-Qur’an menghilangkan berbagai penyakit berupa keraguan, nifaq, syirik, dan kecondongan pada penyimpangan. Ia juga merupakan rahmat, dimana dengannya seseorang akan meraih keimanan, hikmah, serta keinginan dan kecenderungan pada kebaikan. Semua ini tidaklah akan diraih kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, dan mengikutinya.

Tetapi, mungkinkah semua kebaikan itu akan diraih oleh ummat termulia ini, jika mereka tak lagi acuh pada al-Qur’an..?? Wallohul musta’an.

Oleh: Ust. Ali Maulida, S.S., M.Pd.I.