Al -Khonsa’, Ibunda Para Syuhada

26 Feb 2014Redaksi Pernik Muslimah

Al -Khonsa’, Ibunda Para Syuhada

Namanya adalah Tumadhir binti ‘Amr bin Al-Harits bin Syarid. Dia adalah seorang penyair wanita ulung pada masa jahiliyyah. Setelah kematian saudaranya, Shakhr, lahirlah dari lisannya syair-syair ratapan yang merupakan syair ratapan terbaik. Di antara syairnya yang terbaik dalam meratapi kematian Shakhr adalah:

Ada kotoran di kedua matamu

Atau memang matamu yang tak normal

Atau rumah yang engkau dapati itu

Memang kosong dari penghuninya.

Ada juga syairnya yang lain:

Air  mataku terus bercucuran

Dan tak pernah mau membeku

Ketahuilah…, mataku menangis

Karena kepergian Shakhr, sang dermawan

Ketahuilah…, mataku menangis karena kepergian sang gagah berani

Ketahuilah…, mataku menangis karena kepergian pemuda yang agung

(Syair ini beliau lantunkan sebelum beliau masuk Islam karena dalam Islam dilarang meratapi mayat)    

Bersama beberapa orang dari kaumnya, dari Bani Sulaim, Khonsa’ menghadap Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) untuk menyatakan keislamannya dan untuk membangun  aqidah tauhid. Setelah masuk Islam, Khonsa’ menjadi muslimah yang sholehah. Tidak butuh waktu lama dia sudah menjadi figur yang cemerlang dalam hal keberanian dan kemuliaan diri dan telah menjadi teladan mulia bagi para ibu Muslimah .

Suatu ketika Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) meminta Khonsa’ untuk bersyair dan beliau sangat mengaguminya. Ketika Khonsa’ sedang bersyair, Rasulullah  bersabda: “Aduhai, wahai Khonsa’, hariku terasa indah dengan syairmu.”

Ketika ‘Adi bin Hatim datang kepada Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him)  dan berkata.

“Wahai Rosululloh, sesungguhnya di antara kita ada seorang penyair ulung, seorang yang paling pemurah, dan seorang yang paling pandai menunggang kuda.”

Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) berkata:

“Sebutkan siapa mereka!”

“Penyair paling ulung adalah Umur’ul Qais, seorang yang paling pemurah adalah Hatim bin Sa’ad (ayah ‘Adi) dan seorang yang paling pandai menunggang kuda adalah ‘Amr bin Ma’dikarib.” Jawab ‘Adi bin Hatim.

Bukan mereka, wahai ‘Adi. Penyair paling ulung adalah Khonsa’ binti ‘Amr, orang yang paling pemurah adalah Muhammad –yaitu beliau sendiri  dan orang yang paling pandai menunggang kuda adalah ‘Ali bin Abu Thoib.”

Kehebatan syair Khonsa’ juga diakui oleh para ahli syair. Mereka sepakat bahwa tidak ada seorang penyair wanita pun yang sejajar dengan Khonsa’ sebelum atau sesudah masanya.

Di samping keahliannya bersyair yang tiada tandingannya, ia juga menjadi Muslimah  yang memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela agama Alloh dan kebenaran. Hal itu terlihat dengan seringnya dia keluar berjihad bersama kaum muslim lainnya.

Ketika Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibani berangkat menuju perang Qadisiyah (perang salib) pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Khoththab raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him), Khonsa’ raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) bersama empat putranya turut keluar bersama rombongan pasukan kaum Muslim.

Di medan pertempuran, yakni pada malam terjadinya pertempuran sengit antara kedua pasukan, Khonsa’ mengumpulkan keempat putranya untuk memberi pengarahan, memotivasi mereka agar bersemangat dalam berperang dan jangan sekali-kali melarikan diri dan menumbuhkan kecintaan pada mereka akan mati syahid di jalan Alloh.

Mereka pun maju ke medan perang sampai akhirnya gugur sebagai syahid.

Setelah mendengar berita syahid keempat putranya, Khonsa’ tidak kelihatan bersedih dan menyesal atas semua itu. Bahkan keluarlah syairnya yang sangat terkenal dan selalu dikenang sepanjang masa.

Segala puji bagi Alloh yang telah memuliakanku dengan menjadikan anak-anakku sebagai syuhada. Aku berharap kepada Rabbku agar kiranya Dia berkenan mengumpulkan aku bersama mereka di hamparan kasih sayang-Nya yang abadi.” 

Khalifah ‘Umar bin Khoththob raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) sangat menghormati Khonsa’ raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) dan anak-anaknya karena keutamaan mereka. Karenanya, santunan anak-anak Khonsa’ tetap diberikan kepada Khonsa’ sampai ‘Umar wafat.

Khonsa’ raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) wafat di sebuah perkampungan Badui pada tahun ke 24 Hijriah pada awal masa Kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan.

Semoga Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) mencurahkan rahmat-Nya kepada Khonsa’ raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her), seorang ibu yang tidak seperti ibu-ibu kebanyakan yang masih suka memanjakan dan membiarkan anaknya melalaikan waktu dengan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat.  Semoga saja kita bisa meneladani Khonsa’ yang memiliki semangat juang yang tinggi. (Red-HASMI/grms/Ummu Umair)