Aisyah Binti Abu Bakar –Radhiyallahu ‘anhu-

25 Nov 2013Redaksi Pernik Muslimah

Aisyah adalah putri Abu Bakar As-Shiddik. Ia hidup pada rumah yang terhiasi oleh pelita keimanan dan kenabian. Tutur kata dan perilakunya dibimbing oleh ca-haya wahyu ilaahi.

Ia adalah manusia yang pemurah baik jiwa dan tangannya. Ia orang yang suka berinfak, memberi makan kepada orang yang lapar, membantu orang yang mem-butuhkan, dan mendahulukan kepenti-ngan orang lain daripada dirinya sendiri.

Ia bersikap zuhud sebagaimana orang yang menyadari bahwa dunia ini fana, kenikmatan sesaat, dan pendek umurnya. Sedangkan negeri Akhirat kekal nan abadi, pahala melimpah bagi orang yang bahagia dan siksa pedih bagi orang yang sengsara.

Ia adalah Ummul Mukminin, istri Rasulullah –Shalallahu’alaihi wa Sallam- yang sennatiasa setia dan selalu sarat luapan kasih kepada suaminya, berakhlak mulia, manis budi bahasannya, fasih dalam bertutur kata, elok tabiatnya, cemerlang akalnya serta tetap kukuh da-lam berpendirian.

Demikianlah sekelumit tentang sifat pribadi seorang wanita yang mulia sepan-jang zaman dan masa. Tak terlupakan oleh generasi pertama hingga akhir kehidupan dunia.

Keutamaannya

  • Malaikat Jibril mengirimkan salam ke-pada Aisyah –Radhiyallahu ‘anha-

Rasulullah –Shalallahu’alaihi wa Sallam- bersabda kepada Aisyah –Radhiyallahu ‘anha- : “Wahai Aisyah ini adalah malaikat Jibril mengucapkan salam kepadamu.” Aisyah menjawab: “Wa ‘alaihis salam wa rahma-tullah wa barakatuhu.” Engkau melihat apa yang tidak dapat aku lihat maksudnya Nabi –Shalallahu’alaihi wa Sallam-.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  • Manusia dari kalangan wanita yang pa-ling dicintai oleh Rasulullah –Shalallahu’alaihi wa Sallam-.

“Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling engkau cintai?” “Aisyah!” jawab Rasulullah. Amru berkata: “Maksud saya dari kalangan kaum pria.” Rasulullah menjawab: “Ayahnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

  • Manusia yang paling fasih tutur katanya.

Dari Abdul Malik bin ‘Umair dari Musa bin Thalhah, ia berkata: “Tiadalah aku me-lihat orang yang lebih fasih tutur katanya daripada Aisyah.” (HR. Tirmidzi).

  • Turunnya malaikat Jibril dari langit me-ngabarkan kepada Rasululah –Shalallahu’alaihi wa Sallam-  bahwa Aisyah –Radhiyallahu ‘anha-  adalah istri beliau di dunia dan akhirat.

“Sesungguhnya malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad  dengan bentuk dan rupa Aisyah  yang mengenakan baju sutra berwarna hijau. Lalu malaikat Jibril berkata kepada Nabi Muhammad–Shalallahu’alaihi wa Sallam-, ‘Ini adalah istri engkau di dunia dan di akhirat.’” (HR. tirmidzi)

Itulah Aisyah Ash-Shiddiqah binti ash-Shiddiq. Lalu patutkah mencelanya atau lebih parah lagi menuduhnya berzina!? Padahal Alloh  telah menjelaskan dari dalam al-Qur’an tentang pembebasan di-rinya dari tuduhan keji? Dalam sebuah ayat yang akan terus dibaca sampai hari kiamat, Alloh  berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian bahkan ia adalah baik bagi kalian. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (QS. an-Nur: 11) Ayat yang senantiasa di baca tentang pembebasan dirinya dan penjagaan kehormatan Rasulullah. Se-sungguhnya yang berhak mendapat laknat dalam hal ini adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, salah seorang gembong muna-fik. Dialah yang menghembuskan isu dan menyebarkan fitnah tersebut. Maka dari itu Alloh  berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang me-nuduh wanita yang baik-baik, yang le-ngah lagi beriman (berbuat zina), mereka memperoleh laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” (QS. an-Nur: 23)

Ayat-ayat di atas turun berkenaan de-ngan permasalahan Aisyah. Ibnu Katsir berkata: “Para ulama seluruhnya telah se-pakat bahwa barangsiapa yang mencaci Aisyah setelah turunnya ayat ini atau me-nuduhnya seperti tuduhan tersebut se-telah disebutkan pembebasan dirinya da-lam ayat maka ia kafir! Sebab hakikatnya ia telah menentang al-Qur’an. Dan jika tuduhan itu dialamatkan kepada istri-istri nabi yang lain maka dalam masalah ini ada dua pendapat ulama, yang paling shahih adalah hukumnya sama, wallohu a’lam.” □ Red: dari berbagai sumber