Agungnya Nilai Waktu Dalam Islam

18 May 2017Redaksi Aqidah

Agungnya Nilai Waktu Dalam Islam – Waktu adalah kehidupan.. Waktu adalah detik yang membentang sepanjang hidup insan.. Waktu adalah kesempatan untuk meraih kemuliaan atau malah terpuruk dalam kehinaan.. Waktu adalah rentang zaman kehidupan manusia sejak lahir hingga kematiannya yang harus melahirkan berbagai manfaat untuk dunia dan akhirat.

Agungnya Nilai Waktu Dalam Islam

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh berbicara tentang waktu:
“Waktu, pada hakekatnya adalah umur bagi manusia. Ia adalah modal kehidupan yang abadi di dalam surga kenikmatan, juga sebagai modal kehidupan yang sengsara di dalam azab yang pedih di neraka. Waktu itu secepat perjalanan awan. Barangsiapa yang waktunya semata untuk Alloh dan senantiasa berada di jalan-Nya, maka waktu itu menjadi nafas dan umurnya. Sedangkan yang digunakan selain itu, maka hal itu di luar hitungan dalam hidupnya. Karena ia menjalani hidup ini bagaikan kehidupan binatang. Jika dia menghabiskan waktunya dalam kelalaian dan angan-angan yang semu, maka kematian baginya lebih baik daripada hidupnya.”
(Al-Jawabul Kafi: 184)

Seorang ulama salaf, Hasan al-Bashri rohimahulloh mengungkapkan tentang arti kita dan waktu: “Engkau hanyalah kumpulan waktu, setiap kali waktu berlalu, maka setiap kali itu pula sebagian dari dirimu hilang berlalu”. Dan dalam kesempatan lain, Beliau berkata: “Dunia itu hanya 3 hari: hari kemarin, tentu sudah berlalu… hari esok, mudah-mudahan masih bisa kau temui dan hari ini, beramallah di hari ini.”
(Siyar A`lamin Nubala: 4/585)

Al-Qur`an dan hadits-hadits Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam telah memberikan perhatian yang amat besar terhadap nikmat yang amat mahal dan berharga ini. Di bawah ini beberapa kaidah memahami waktu yang diistinbatkan dari ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam:

  1. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:
    “Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (Qs. Al-Furqon: 62)“Arti khilfatan dalam ayat ini adalah silih berganti antara siang dan malam. `Umar bin al-Khottob, Ibnu `Abbas dan al-Hasan rda berkata: artinya adalah siapa saja yang kehilangan kebaikan di waktu malam, maka dia bisa meraihnya di waktu siang dan siapa saja yang kehilangan kebaikan di waktu siang, maka dia bisa meraihnya di waktu malam”. (al-Jami` Li Ahkam al-Qur`an: 13/66)
  1. Banyak sekali di dalam al-Qur`an, Alloh subhanahu wata’ala bersumpah dengan berbagai nama waktu seperti wad-dhuha, wal-laili dan masih banyak yang lainnya. Di kalangan ulama tafsir sudah sangat terkenal bahwa jika Alloh subhanahu wata’ala bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, maka semua itu untuk mengalihkan perhatian umat kepada waktu itu dan besarnya masalah waktu yang dijadikan obyek sumpah tersebut.
  2. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:
    “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al-`Ashr: 1-3)Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan bahwa al-`Ashr adalah zaman di mana di dalamnya terjadi berbagai gerak-gerik manusia, gerak kebaikan atau gerak keburukan. Sayyid Qutb rohimahulloh berkata: “Hakekat utama yang diikrarkan dalam surat ini adalah bahwa di sepanjang zaman di seluruh waktu dan di seluruh manusia di sepanjang zaman tidak ada lagi jalan yang membentang kecuali satu manhaj yang menguntungkan dan satu jalan yang membuat sukses, yaitu manhaj yang batasannya ditulis di dalam surat ini dan jalan yang rambu-rambunya digambarkan di dalam surat ini pula. Selain ini semua tidak ada lagi kecuali pasti kerugian dan kehancuran.” (Fi Dzilal: 6/3964)
  1. Manusia akan dimintakan pertanggung jawaban waktunya nanti di sisi Alloh subhanahu wata’ala.

لا تَزُولُ قَدِمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمُرُهِ فِيمَا أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ؟ وَعَنْ عَلِمهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ؟

“Pada hari kiamat nanti, Kedua tumit anak Adam tidak akan bergeser sampai ditanya tentang 4 hal: tentang umurnya di mana dia habiskan? Tentang masa mudanya di mana dia manfaatkan, tentang hartanya darimana dia usahakan dan kemana dia infaqkan serta tentang ilmunya untuk apa dia amalkan?”

  1. Rosululloh saw mewarning umatnya jangan sampai menjadi orang yang rugi

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak orang mengalami kerugian karena keduanya: yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhori)

Ibnul Jauzi rohimahulloh berkata: “Adakalanya seseorang sehat, tapi tidak punya waktu luang karena sibuk kerja. Juga adakalanya seseorang punya waktu luang, tapi tidak sehat. Jika seseorang punya waktu luang dan berbadan sehat, tetapi dia malas melakukan ketaatan kepada Alloh, itulah orang yang rugi. Dunia itu ladang akhirat dan di dalamnya terdapat bisnis yang keuntungannya terlihat di akhirat. Barangsiapa menggunakan kesehatan dan waktu luangnya, itulah orang yang patut digugu dan ditiru. Dan barangsiapa menggunakan keduanya dalam maksiat kepada Alloh, itulah orang yang rugi.” (Fathul Bari: 11/230)

  1. Tujuh Kendala
    Ada 7 kendala yang menjadi ranjau bagi langkah setiap muslim untuk dapat mengisi waktu dan umur secara baik dan benar. Berbicara tentang masalah ini kita kembalikan saja kepada hamba termulia di muka bumi dan paling tahu akan kendala-kendala itu, yaitu Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ سَبْعًا هَلْ تُنْظَرُونَ إِلاَّ إِلَى فَقْرٍ مُنْسٍ ، أَوْ غِنًى مُطْغٍ ، أَوْ مَرَضٍ مُفْسِدٍ ، أَوْ هَرَمٍ مُفَنِّدٍ ، أَوْ مَوْتٍ مُجْهِزٍ ، أَوِ الدَّجَّالِ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ ، أَوِ السَّاعَةِ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ

“Bersegeralah untuk beramal, jangan menundanya hingga datangnya 7 perkara. Apakah kalian akan menunda amal-amal solih sampai datangnya: 1) kemiskinan yang membuat kalian lupa, 2) kekayaan yang membuat kalian melampaui batas, 3) sakit yang akan merusak kalian, 4) usia lanjut yang akan membuat kalian pikun, 5) kematian tiba-tiba yang akan menjemput kalian, 6) Dajjal, suatu perkara gaib terburuk yang akan ditunggu, 7) Hari kiamat, saat bencana yang amat dahsyat dan siksanya yang amat pedih”.
(HR. Tirmidzi)

Maksud hadits ini adalah “Berlombalah menyibukkan diri dengan amal-amal solih sebelum berbagai fitnah akan melanda dan menerpa kita.” (Tuhfatul Ahwadzi)

  1. Lima Target
    Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam memotivasi kita agar mencapai lima target yang dipancangkan dan tidak membiarkan satupun luput dari jangkauan kita. Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Raihlah lima masa sebelum datang lima masa yang lainnya: masa muda sebelum datang masa tuamu, saat sehat sebelum datang saat sakitmu, saat kaya sebelum datang saat faqirmu, saat kosong sebelum datang saat sibukmu dan saat hidup sebelum datang saat kematianmu.” (HR. Hakim, sohih dengan syarat Bukhori dan Muslim serta disepakati oleh ad-Zahabi)

Karena itu Sa`id bin Jubair rodhiyallohu’anha berkata: “Setiap hari kehidupan seorang mukmin adalah gonimah”. Sedangkan al-Muzani rohimahulloh mengatakan: “Tidak ada satupun siang hari yang dimunculkan Alloh ke dunia kecuali dia akan berkata: ‘hai Anak Adam, raihlah aku, karena mungkin saja tidak ada lagi siang hari untukmu setelah aku berlalu. Begitu juga tak ada satu malampun yang dimunculkan  Alloh di dunia ini, kecuali dia berkata: ‘hai Anak Adam, raihlah aku, karena sangat mungkin tidak ada lagi malam untukmu setelah aku berlalu”.

Kini pilihan harga waktu itu ada di tanganmu.. Di pilihan jiwa dan imanmu.. Jika kau orang yang beriman, kau pasti akan menjadikan waktumu sebagai bendahara kebahagiaan di surgamu.

Baca juga Artikel Jalan Juang HASMI