Afalaa Akuunu ‘Abdan Syakuuran (Bolehkah Aku Menjadi Hamba yang Bersyukur)

25 Nov 2013Redaksi Jalan Da'wah

Bersyukur

Sungguh telah ada contoh yang baik dari Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), beliau adalah uswah hasanah (teladan yang baik) dalam segala urusan, baik yang bersifat pribadi individu seorang muslim, komunal keluarga atau masyarakat. Dan dalam ranah keluarga, kita ingat apa yang diisyaratkan Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) ketika Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) (istri beliau yang tercinta) bertanya dalam suasana keluarga penuh kasih kepada beliau pada saat beliau me-lakukan qiyamul lail sehingga kedua telapak kaki beliau bengkak, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini dengan susah payah, padahal Allah telah mengam-puni dosamu yang dahulu dan yang akan datang?” Tentu kita telah dapati jawaban yang mengagumkan dari seorang suri te-ladan manusia, hamba Allah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Jawaban Rasulullah  ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) untuk istrinya telah memberikan pelajaran berharga, kita akan bahas empat poin, yakni: pertama, menunjukkan keadaan di mana suatu amalan itu dibarengi dengan niat. Kedua, bagi seorang alim yang menjadi panutan menyebut hal peribadatan untuk memberi semangat kepada pengikutnya, maka tidak mengapa. Ketiga, ada empat syarat diteri-manya shalat yang akan kita urai sebentar lagi, sehingga shalat itu diterima. Keempat, kita juga melihat keharmonisan hubungan suami-istri ketika mau saling menasihati.

“Afalaa akuunu ‘abdan syakuran?, apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” Jawaban Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) ini menunjukkan bahwa suatu amalan itu dibarengi dengan niat, dan adalah Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) beramal ketaatan, sholat, hingga kakinya bengkak-bengkak, didasari rasa malu ke-pada Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), menunaikan hak ubudiyyah Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) sekaligus menunaikan rasa syukur beliau telah dijadikan hamba yang telah diampuni segala dosanya oleh Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Niat itu maksud dalam hati, Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) sholat bermaksud untuk bersyukur atas segala nikmat Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Rasa syukur tidak cukup melisankan tahmid ‘alhamdulillah’ segala puji bagi Allah saja, tapi jauh lagi ia harus menggerakkan anggota tubuhnya dalam rangka berbuat ketaatan ditujukan kepada Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), ikhlas hanya mengharapkan ba-lasan dari Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) semata, bahkan pe-ngucapan tahmid seseorang haruslah secara sadar ditujukan kepada Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Inilah ibadah orang yang merdeka. Saat melaku-kan ibadah ia merasa dirinya lalai, bersa-maan dengan itu dirinya merasa takut apakah amalannya diterima atau tidak oleh Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Ini poin pertama.

Selanjutnya, al-Fudhail bin Iyadh  mengatakan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah Riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik.” Artinya, siapa yang berniat beribadah tapi meninggal-kannya karena khawatir dilihat manusia, maka ia berbuat riya’, karena ia meninggal-kan amalan karena manusia. Riya’ adalah penyakit yang membatalkan suatu amal. Demikian dengan Sum’ah (ingin didengar orang). Namun menurut para ulama, jika seorang alim yang menjadi panutan dan ia menyebut hal ibadah untuk memberi semangat kepada orang lain yang men-dengarnya agar mengamalkannya, maka tidak mengapa, sebagaimana kita perhati-kan jawaban Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) akan maksud-nya banyak melakukan sholat hingga kaki bengkak kepada Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her). Ini poin dua.

Poin tiga, kita mengenal Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) adalah hamba Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) yang paling ber-takwa kepada-Nya. Dalam sholatnya tentu Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) sangatlah khusyu’, betapa tidak hingga kakinya bengkak? Al-Mir-zabani mengatakan tentang sholat yang khusyu’, “Orang yang sholat butuh empat hal sehingga sholatnya dinaikkan (diterima). Pertama; khusyu’ hatinya, kedua; sadar akalnya, ketiga; tunduk tubuhnya, dan keempat; khusyu’ anggota tubuhnya. Siapa yang sholat tanpa kekhusyu’an hati, maka ia orang yang sholat tapi lalai. Siapa yang sholat dengan tanpa kesadaran akal, maka ia sholat tapi lupa. Siapa yang sholat dengan tanpa ketundukkan tubuh, maka ia orang yang sholat tapi hampa. Siapa yang sholat dengan tanpa kekhusyu’an anggota tubuh, maka ia sholat tapi salah. Dan siapa yang sholat dengan empat hal  ini, maka ia orang yang sholat secara sempurna.”

Sebagai penutup mari kita cermati poin keempat yang paling indah, teladan dari uswah hasanah, hubungan yang sepatutnya diterapkan di dalam setiap atap rumah orang yang menginginkan bahagia, oleh setiap orang yang menginginkan kete-nangan jiwa di dalam rumah yang di da-lamnya bagaikan surga, hubungan antar suami sholih dan istri yang sholihah yang senantiasa saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Demikian Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) mempertanyakan sholat suaminya dalam keheningan malam yang syahdu berse-limutkan dingin dan ketaatan menunai-kan ibadah, serta jawaban sang suami mulia nan lembut memahamkan dan menenang-kan jiwa, afalaa akuunu ‘abdan syakuran? subhanAllah, suatu percakapan malam yang manis lagi indah.(Red/HASMI)